Rabu, 18 Februari 2009

Upaya Peningkatan Kualitas Proses Pemindangan Pada Usaha Rakyat Di Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi

I. Pendahuluan.
Ikan merupakan hasil tangkapan laut yang sangat penting bagi penduduk pantai di Indonesia, disamping sebagai sumber makanan utama protein hewani juga obyek mata pencaharian pokok bagi nelayan. Permintaan ikan laut segar untuk kebutuhan pasar lokal maupun pasar eksport semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menuntut nelayan untuk tetap
menjaga kesegaran ikan yang diperolehnya dengan tehnik-tehnik yang semakin diperbaiki.Adapun yang dimaksud ikan segar adalah, ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup, baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya. Karenanya diperlukan upaya-upaya tertentu untuk mempertahankan kesegaran ikan hingga sampai ketangan konsumen, mengingat ikan segar mempunyai sifat-sifat mudah rusak yaitu menjadi berbau anyir/amis, membusuk, daging menjadi rusak/koyak dan kulit berlendir karena aktivitas mikroorganisme atau terjadinya proses kimiawi dalam tubuh ikan itu sendiri.

Pentingnya aktivitas kualitas dalam organisasi telah berkembang bersama dengan pentingnya pelanggan, artinya perusahaan yang digerakan pelanggan dan pasar sebagai sesuatu yang berjanji menyediakan kualitas yang sangat baik serta produk dan jasa yang kompetitif untuk memuaskan kebutuhan dan keingnan segmen pasar yang telah ditentukan dengan baik. Pendekatan tersebut secara kontras berbeda dari organisasi tradisional.

Proses dan tehnik mempertahankan kesegaran ikan yang banyak dikenal dikalangan masyarakat secara tradisionil adalah pemindangan. Tehnik ini biasanya dipergunakan bagi kebutuhan ikan segar untuk pasar lokal. Sedangkan untuk kebutuhan pasar eksport, tehnik yang dipergunakan lebih canggih dan modern seperti suhu rendah, suhu tinggi, pengurangan kadar air, penambahan zat antiseptik dan ruang hampa udara . Pada prinsipnya semua cara penanganan yang dilakukan tersebut adalah untuk menghentikan atau menghambat pertumbuhan mikriorganisme dan aktivitas enzim pada tubuh ikan segar yang dapat menyebabkan kerusakan.

Pemindangan adalah salah satu cara pengolahan ikan segar dengan kombinasi perlakuan antara penggaraman dan perebusan. Proses ini dimaksudkan agar produk bisa tahan lebih lama sehingga dapat dipasarkan ke daerah yang cukup jauh, karena ketahananan produk ikan dengan tahnik ini mencapai 3- 4 hari, dan lebih dari masa itu ikan akan mengalami proses pembusukan. Proses ini banyak dilakukan oleh masyarakat di sekitar pantai dengan skala usaha rumahtangga ( kecil ) sampai dengan sedang yang melibatkan tenaga kerja diluar rumah tangga dengan tehnologi yang sederhana, tetapi proses ini juga tetap memiliki nilai tambah yang akan dinikmati olah masyarakat Namun demikian, dalam proses pemindangan yang dilakukan masyarakat masih cukup besar tingkat kerusakan yang terjadi, sehingga tidak memenuhi standard kuwalitas produk untuk dipasarkan. Kerusakan ini meliputi, produk cacat atau ikan hasil olahan cacat seperti ekor patah, terlalu masak ( lunak ) sampai kepala ikan patah, dimana biasanya ikan dianggap tidak layak untuk dipasarkan.

Kerusakan pada proses pemindangan dapat terjadi pada setiap tahapan proses yang dilakukan, mulai dari seleksi bahan yang akan diproses sampai tahapan penirisan dan pemindahan pada pak-pak yang siap dipasarkan. Hal ini karena dalam rangkaian proses pemindangan sepenuhnya dikerjakan oleh tenaga manusia ( manual ), sehingga ketrampilan, ketekunan dan ketelitian sangat diperlukan untuk menjaga agar tingkat kerusakan yang terjadi dapat ditekan. Oleh karena itu diperlukan pengawasan kualitas produk pada setiap tahapan proses pemindangan. Artinya jika produk yang dihasilkan rusak atau cacat atau yang dapat dianggap akan rusak jika diikutkan dalam proses berikutnya pada satu tahapan, tidak diikutkan lagi pada proses tahapan berikutnya . Dengan demikian tidak terjadi kumulatif kerusakan pada akhir proses dan pula pengawasan kwalitas dapat dilakukan pada setiap tahapan proses pemindangan.

Pemindangan yang banyak dilakukan oleh masyarakat selama ini adalah proses yang sifatnya tradisionil, artinya tehnologi yang dipergunakan sederhana dan pengetahuan tehnis itu diperoleh secara turun temurun tanpa evaluasi dan pembaharuan terhadap kelemahan-kelemahan yang terjadi. Tingkat kerusakan yang terjadi juga dipahami sebagai resiko yang pasti dihadapi dan wajar, tanpa berusaha meneliti penyebab dan memperbaiki proses manualnya. Oleh karena itu diperlukan tehnik pengawasan kualitas yang mudah dipahami dan dijalankan oleh masyarakat, mengingat pelaku pemindangan adalah sebagian besar masyarakat yang tingkat pendidikannya tidak tinggi.

Daerah Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi merupakan daerah penghasil ikan terbesar di wilayah Indonesia bagian timur. Ikan segar yang dihasilkan nelayan, selain menjadi pasokan utama pabrik pengalengan ikan, juga diolah menjadi produk-produk olahan lain yaitu ikan asin, ikan pindang, tepung ikan dan produk sampingan terasi dan petis. Pemindangan juga merupakan kegiatan yang banyak dilakukan masyarakat yang hasilnya dikirim keluar daerah sampai ke pasar-pasar di Surabaya ( ± 300 km ).

Dalam proses pemindangan di daerah Muncar, juga dapat dijumpai tingkat kerusakan produk hasil olahan yang cukup berarti. Mengingat produk ini akan dipasarkan didaerah yang jauh dan memerlukan waktu lama dalam perjalanan, maka kondisi produk yang tetap terjaga kualitasnya sampai dipasar bergantung pada bagaimana pendekatan kalitas pada setiap tahapan proses pemindangan yang dilakukan .

Permasalahan yang dihadapai adalah, apakah dalam proses pemindangan yang telah mentradisi di Muncar juga dilakukan pengawasan kualitas produk, mengingat hasil produk ini dipasaran masih banyak mengalami kerusakan dan kurang tahan jika disimpan dalam waktu agak lama ( lebih dari 4 hari ) dan metode tradisionil yang bagaimana yang telah dilakukan masyarakat dalam menjamin kualitas hasil pindang dan juga mengidentifikasi kelemahan dari setiap proses yang kurang mendukung terjaminnya kualitas ikan pindang, sehingga kelak metode-metode tersebut dapat dikembangkan lebih jauh menjadi metode yang cukup efektif dan efisien untuk menekan tingkat kerusakan.

Tujuan dan Kegunaan pembuatan makalah ini adalah
1.Untuk mengidentifikasi metode pengawasan kualitas dalam proses pemindangan di daerah Muncar.
2.Untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan dan kekuatan dari metode yang telah dipergunakan masyarakat dalam proses pemindangan.
3.Untuk mengidentifikasi kemungkinan peningkatan dan pengembangan dari metode yang telah dipergunakan dalam proses pemindangan di daerah Muncar.
Kegunaan :
1.Sebagai bahan masukan masyarakat dalam memeperbaiki proses pemindangan.
2.Sebagai salah satu syarat pemenuhan tugas Mata Kuliah Manajemen Agribis 2 yang diasuh DR.Ir Tejasari. MSc

II . Proses Pemindangan dan Kualitas Produk Yang Dihasilkan.
Pengertian kualitas adalah :
1.Kualitas terdiri dari jumlah keistimewaan produk, baik keistimewaan langsung maupun keistimewaan atraktif yang memenuhi keinginan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan atas penggunaan produk itu.
2.Kualitas terdiri dari segala sesuatu yang bebas dari kekurangan atau kerusakan.
Dengan memperhatikan pengertian kualitas tersebut diatas , maka jika diaplikasikan pada proses pemindangan diharapkan menghasilkan kualitas yang benar-benar memenuhi kepuasan pelanggan ,yaitu yang bercirikan:

ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup, baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya. Atau ciri tersebut dapat diindikatorkan : segar, bentuknya utuh, bau masih segar/tidak busuk, rasanya tidak anyir dan teksturnya mengkilat.

Untuk menjamin dihasilkannya ikan pindang sesuai dengan kualitas yang dikenhendaki tersebut maka dibutuhkan cara yang berciri manajemen kualitas, yaitu : suatu cara meningkatkan perfomansi terus menerus pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap fungsional organiasi, dengan menggunakan semua sumberdaya manusia dan modal yang tersedia.

1. Proses Produksi Ikan Pindang ( Pemindangan ).
Ikan adalah binatang berdarah dingin yang hidup didalam air dan mempunyai sirip sebagai penggerak tubuh serta bernafas dengan insang. Ikan merupakan sumber makanan yang mengandung protein, dikenal sebagai protein hewani, yang merupakan bahan gizi penting ( esensial ) bagi tubuh manusia.

Berdasar hasil penelitian, ternyata daging ikan memepunyai komposisi kimia sebagai berikut :
Air : 60,0 - 84,0 %.
Protein : 18,0 – 30,0 %
Lemak : 0,1 - 2,2 %
Karbohidrat : 0,0 - 1,0 %
Vitamin & Mineral : sisanya.

Selanjutnya dalam penelitian tersebut juga dijelaskan beberapa kelemahan ikan :
1.Tubuh ikan mempunyai kadar air yang tinggi ( 80 % ) dan pH tubuh mendekati netral, sehingga merupakan media yang baik bagi petumbuhan bakteri pembusuk maupun mikroorganisme lain, karenanya ikan merupakan komoditi yang sangat cepat membusuk ( perishabel ).
2.Daging ikan mengandung sedikit sekali tenunan pengikat ( tendon ), sehingga sangat mudah dicerna oleh enzim autolisis. Hasil pencernakan ini menyebabkan daging menjadi sangat lunak yang merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme.
3.Daging ikan banyak mengandung asam lemak tak jenug yang sifatnya sangat mudah mengalami proses oksidasi yang menimbulkan bau tengik.

Jenis ikan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pemindangan adalah ikan air laut seperti tongkol (Euthynnus sp), tengiri (Scomberomorus sp), kembung (Scomber sp), layang (Decapterus sp) dan ikan air tawar misalnya mas (Ciprius carpio) dan nila (Tilapia nilotica) serta ikan air payau seperti bandeng (Chanos chanos). Di daerah Muncar, sebagian besar (98%) ikan yang digunakan dalam pemindangan adalah jenis layang.

Pemindangan ikan merupakan salah satu cara pengolahan ikan dengan kombinasi perlakuan antara penggaraman dan perebusan. Dengan adanya garam, maka produk ini bisa tahan lebih lama, sehingga dapat dipasarkan ke daerah yang cukup jauh. Hasil olahan pemindangan merupakan produk yang banyak disukai oleh masyarakat

Ikan pindang dapat dibuat dengan berbagai cara, tergantung jenis ikan dan wadah yang digunakan. Namun demikian , secara garis besar proses pembuatan ikan pindang ( pemindangan ) yang dilakukan masyarakat di Kecamatan Muncar, mempunyai prinsip yang hampir sama yaitu sebagai berikut:

1.Penyiangan dan pencucian.
Tahapan proses ini adalah mengelompokan ikan berdasar pada jenis, ukuran dan tingakat kesegarannya. Kemudian ikan disiangi dengan membuang sisik, sirip, insang , isi perut dan kotoran lainnya. Kebanyakan pemindang tidak melakukan proses penyiangan ini, karena dianggap pemborosan kerja dan waktu, mengingat ikan toh selanjutnya akan dimasak, juga memperkecil resiko kerusakan karena penyiangan.

2.Penyusunan ikan.
Ikan disusun secara teratur ke dalam periuk, untuk menjamin bahwa proses kematangan ikan merata. Periuk yang digunakan terbuat dari tanah liat, disamping untuk meneralisir panas yang terlalu tinggi juga menyebarkan panas secara merata keseluruh bagian. Pada proses ini tidak dilakukan seleksi ikan yang baik dan yang sudak mendekati jelek/rusak. Pemindang beranggapan ikan yang tidak terlalu baik, jika dimasak, masih menampakan kesegarannya.

3.Penggaraman ikan.
Penggaraman dalam proses pemindangan berfungsi untuk memberikan rasa gurih, menurunkan kadar cairan dalam tubuh ikan, dan mencegah atau menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lain. Kecepatan penetrasi garam kedalam daging ikan dipengaruhi oleh konsentrasi garam, kemurnian garam, jenis dan ukuran ikan, kadar lemak dan suhu . Garam yang ditaburkan pada ikan banyaknya bergantung pada berat ikan. Kebiasaan masyarakat dalam pemberian garam tanpa ditimbang sesuai dengan berat ikan dan pula kualitas garam yang digunakan tidak terjamin kemurniannya.

4.Perebusan ikan.
Perebusan berfungsi untuk membuat ikan menjadi masak. Pada proses ini api yang digunakan sekitar 600 selama 2 – 12 jam. Lama perebusan ini bergantung pada ukuran ikan yang dipindang.Semakin besar ukurang ikan , semakin lama waktu perebusan . Tanda ikan telah maska pada proses perebusan adalah, terdapat retakan-retakan, terutama pada bagian daging, kepala dan ekor. Untuk melihat apakah ikan sudah masak atau belum, kebiasaan yang dilakukan masyarakat adalah dengan melihat kedalam periuk, dan dengan pijitan tangan pada tubuh ikan, maka dapat diperkirakan apakah ikan tersebut masak atau belum. Sering terjadi bahwa ikan yang direbus terlalu masak, sehingga pada saat diangkat ada bagian-bagian yang lepas (ikan tidak utuh lagi)

5.Penyimpanan.
Penyimpanan ikan pindang yang telah masak harus diletakan ditempat yang kering (tidak lembab) dengan temperatur ruangan yang cukup rendah, hal ini untuk mencegah meningkatnya aktivitas bakteri maupun mikroorganisme lain, yang akan menurunkan kwalitas ikan pindang.

Secara garis besar proses pemindangan tersebut dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut untuk memperjelas aktivitas setiap fungsi (Gambar 1):
Dari proses tersebut , hasil produk akhir ikan pindang rata-rata mengalami kerusakan anatar 10 % - 15 %. Kerusakan tersebut

2. Langkah-langkah Peningkatan Proses Pemindangan.
Tenner dan DeToro ( 1992 ) mengemukakan suatu model peningkatan proses terus menerus yang terdiri dari enam langkah sebagai berikut :
1.Mendifinisikan Masalah dalam Konteks Proses.
2.Identifikasi dan Dokumentasi Proses.
3.Mengukur Kinerja.
4.Memahami Mengapa suatu masalah dalam Konteks Proses Terjadi.
5.Mengembangkan dan Menguji Ide-ide.
6.Implementasi, Solusi dan Evaluasi
Dalam mengevaluasi proses pemindangan yang dilakukan masyarakat di Kec. Muncar, langkah urutan ke 1 s/d ke 3, dari langkah tersebut data diperoleh dari lapoan penelitian yang dilakukan mahasiswa dan selanjutnya akan digambarkan langkah ke 4 dalam proses tersebut.

Memahami mengapa suatu masalah dalam konteks proses terjadi pada akhirnya akan mengetahui akar penyebab dari masalah yang digambarkan dalam diagram sebab akibat. Diagram yang dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa digunakan untuk mengetahui akibat dari suatu masalah untuk selanjutnya diambil tindakan perbaikan. Dari akibat tersebut kemudian dicari beberapa kemungkinan penyebabnya. Penyebab inipun dapat berasal dari sumber utama, misalnya metode kerja, bahan, pengukuran, karyawan, lingungan dan seterusnya.
Dengan demikian dalam proses pemindangan seperti yang telah diterangkan diatas diketahui penyebab masalah, sebagai berukut :

Pada awal Proses ==> ikan segar, sebagai bahan input belum terseleksi dengan baik.
Pencucian dan penyiangan ==> pencucian kurang hati-hati dan penyiangan tidak dilakukan.
Penyusunan ikan ==> tidak dilakukan lagi seleksi terhadap ikan yang rusak.akibat pencucian yang kurang hati-hati.
Penggaraman ==> tidak ditimbang sesuai dengan ukuran, bahan garam kurang murni.
Perebusan==> derajat panas tidak diukur dan lama perebusan hanya kira-kira.
Penyimpanan ==> tidak diperhatikan kelembaban ruangan.

Dari gambaran masalah tersebut dapat digambarkan kedalam diagram tulang ikan sebagai berikut (Gambar 2):

III. Kesimpulan :
1.Ikan pindang dikatakan berkualitas apabila kreteria kualitas ikan terpenuhi, yaitu: segar; utuh;tidak bau dan mengkilat.

2.Kemampuan usaha pemindangan rakyat dalam memenuhi kepuasan pelanggan masih perlu ditingkatkan terutama dalam hal, penyediaan bahan-bahan baik ikan atau yang lain; prosedur-prosedur kerja; pelatihan thd karyawan, dan penyediaan alat-alat yang cukup serta penyimpanan yang benar.

3.Proses pemindangan adalah proses yang berpengaruh besarterhadap kualitas ikan pindang yang dihasilkan.

IV. Rekomendasi.
Untuk pengkajian lanjutan sebaiknnya dilkaukan lebih konperhensif dimulai dari mengetahui keinginan konsumen sampai strategi yang diperlukan oleh pemindang untuk memenuhi kepuasan pelanggan, dimana proses implentasi dari penerapan manajemen kualitas harus didampingi untuk dapat mengevaluasi terus-menerus.

V. Daftar Pustaka:

A.H.Purnomo, dkk, Analisa Sosio Ekonomi Terhadap Praktek Penanganan Mutu Ikan Pelagis Kecil Di Tempat Pelelangan Ikan Blanakan dan Pekalongan, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia.Vol.8 No.7.2002.

Darmorejo S,dkk, Pengolahan Pindang Ikan yang Digarami Di Laut, Jurnal Penelitian Tehnologi Perikanan ,LPTP, Jakarta, 1972.

Dorothea Wahyu Ariani, Pengendalian Kualitas Statistik ( Pendekatan Kuantitatif dalam Manajemen Kualitas, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004.

Dwi Siwi Santy Wardani, Proses Pembuatan Ikan Pindang dalam Rangka Meningkatkan Nilai Tambah dan Penghasilan Masyarakat Nelayan, Skripsi S1, Untag,Banyuwangi, 2001.

Gaspersz Vincent, Total Quality Management, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.

, Metode Analisa untuk Peningkatan Kualitas, Penerbit Gramedia Pustaka Utama , Jakarta, 2004.

Heruwati.E., Mikrobiologi Pengolahan Ikan Secara Tradisional, Laporan Lokakarya Tehnologi Pengolahan Ikan Secara Tradisionil, No 1, LTP B3P, Jakarta, 1979.

Sonny Koeshendrayana,dkk,Analisis Budidaya Udang Galah di Kabupaten Gianyar, Bali, Jurnal Penelitian Perikanan,Vol 8- No 7, Jakarta, 2002.
T.J.Moedjiharto, Peningkatan Mutu Gizi Protein Pindang Ikan Ikan Layang dengan Optimasi Proses Pemindangan , Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati,Vol 14-No 1, Jakarta 2002.

Thomas Pysdek, The Six Sigma Handbook, Penerbit Salemba 4, Jakarta,2002.


Read more.....

Selasa, 17 Februari 2009

Komoditi Unggulan Sebagai Kekuatan Untuk Membangun Daya Saing

Pendahuluan
Catatan pembukaan ini sebagai ilustrasi kebijakan ekonomi yang diambil oleh orde baru. Selama lebih dari 30 tahun pemerintah Orde Baru berhasil ‘mendramatisir’ rata-rata pertumbuhan ekonomi sekitar 7%. Prestasi ini diawali oleh kebijakan membuka lebar-lebar pintu ekonomi bagi investor
asing pada tahun 1967. Arus modal pun mulai mengalir ke Indonesia dengan berbagai kemudahan mulai dari lahan murah, tenaga kerja, sampai kepada berbagai prasarana yang disiapkan oleh pemerintah untuk kepentingan investor atau industri demi kelancaran produksi dan pemasarannya. Puncak aktivitas ekonomi ini dengan dibangunnya super hitech milik Habibi yaitu industri kedirgantaraan, yang input produknya bersumber dari net importir.

Perkembangan industri mulai menunjukkan footloose industry. Industri seperti ini sangat rentan terhadap berbagai kemudahan, dan ketika hal itu tidak didapatkan lagi, maka segera ia angkat kaki mencari ‘tuan’ atau negeri baru yang bersedia menerimanya sesuai kebiasaannya. Begitu nikmatnya memperoleh kemudahan, sehingga dengan mudah pula mereka memindahkan industrinya dari satu negara ke negara yang lain dengan alasan ‘kemudahan dan kemurahan’.

Pembangunan ekonomi dengan pola industrialisasi seperti itu, menunjukkan hasil kuantitatif laju pertumbuhan ekonomi yang semakin menaik, akan tetapi tidak sadar bahwa ekonomi yang dibangun terlepas dari akarnya yaitu, petani dan pertanian. Investasi terkonsentrasi pada sektor industri yang tidak terkait dengan sektor pertanian secara langsung. Bahan baku industri di impor, sehingga sangat terpengaruh pada fluktuasi nilai dollar. Ketika nilai dollar melonjak, maka harga bahan baku juga ikut melonjak, akibatnya harga jual produk industri tidak bisa bersaing baik dalam negeri terlebih lagi di luar negeri. Sudah bisa diperkirakan bahwa daya saing produk-produk industri kita semakin anjlok bahkan sebagian besar industri harus tutup karena tidak mampu lagi menjual dengan harga yang berlaku di pasaran.


Tantangan Dan Peluang Menciptakan Komoditi Unggulan Dalam Memperkokoh Kekuatan Daya Saing Domestik

Pakar manajemen strategi memaknai era ini sebagai era hyper competition yang menuntut kemampuan daya saing tertentu (nasional/daerah) agar bisa ikut serta dalam percaturan ekonomi dunia (global). Karena itu perlu difahami konsep daya saing nasional (DSN), yang dalam pembahasan selanjutnya digunakan istilah daya saing Domestik (DSD). Abdullah et.al (2002) memberi makna sebagai konsep yang mengukur dan membandingkan seberapa baik suatu negara dalam menyediakan suatu iklim tertentu yang kondusif untuk mempertahankan daya saing domestik maupun global dari perusahaan-perusahaan yang ada di wilayahnya. Dari berbagai pemikiran ini dapat dipahami bahwa DSD berkaitan dengan kemampuan ekonomi nasional (produk dan jasa) untuk ikut serta secara berkesinambungan dalam pencaturan ekonomi dunia. Kemampuan ekonomi dalam hal ini berkaitan dengan pemanfaatan berbagai sumber daya (nyata dan tidak nyata) untuk menghasilkan dan memasarkan produk atau jasa yang dibutuhkan oleh dunia secara berkesinambungan. Kemampuan bersaing menjadi hal utama dalam menghadapi ekonomi global.

Tantangan lain adalah, kekeliruan kita selama ini membangun ekonomi melalui industrialisasi yang tidak berbasis pada sektor potensil yaitu petani dan pertanian. Industri yang dikembangkan adalah industri yang tergantung dari luar, mulai dari modal, bahan baku, sampai kepada tenaga ahli dan madya. Akibatnya ketika terjadi gejolak mata uang asing (US$), maka produk-produk industri kita tergoncang, terutama yang komponen biaya produksinya sangat tergantung dari luar. Kondisi ini diperparah oleh ketidak pedulian pemerintah untuk mempersiapkan petani dan pertanian kita sebagai basis industri yang kuat. Kesadaran akan potensi ini (agribisnis dan agroindustri) muncul pada GBHN 1993 yang ternyata juga belum menyentuh lapisan petani paling bawah atau buruh tani. Konsekuensinya, industri yang susah payah dibangun ternyata tidak mampu bersaing, sementara sektor pertanian dan petani yang menalangi pertumbuhan ekonomi tidak dipersiapkan dengan sungguh-sungguh untuk memasuki era persaingan seperti sekarang ini. Ujung-ujungnya sektor pertanian tidak mampu bersaing di pasar global.

Kondisi ini semakin diperparah oleh isu kebijakan lingkungan hidup sebagai akibat dari eksploitasi sumber daya alam yang semena-mena. Dilema antara mengejar pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan hidup, ternyata membuahkan hasil yaitu banyaknya produk pertanian Indonesia yang kena kebijakan lingkungan (eco-labelling) sekitar 43,2% dari ekspor, dan diperkirakan kita kehilangan sekitar US$ 300 juta per tahun (Ismawan, 1995:51).

Kendati kondisi yang dipaparkan di atas begitu parah, namun masih banyak peluang yang mungkin bisa diraih jika pemerintah sungguh-sungguh ingin memperbaiki kondisi perekonomian negara ini melalui perbaikan dan peningkatan daya saing, DSD. Sebagai negara dengan potensi pertanian yang demikian besar, sesungguhnya memiliki banyak peluang untuk ikut serta bersaing dalam ekonomi global.

Spesifik Komoditi Unggulan Sebagai Kekuatan Untuk Membangun Daya Saing


Kenyataan menunjukkan bahwa beberapa propinsi seperti Propinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan. Selama ini tumbuh dan berkembang di atas kekuatan petani dan pertanian, karena itu ke depan pembangunan seharusnya lebih difokuskan kepada penataan kedua kekuatan tersebut. Kekuatan sektor pertanian bagi propinsi-propinsi ini tidak bisa diragukan lagi, sebab selama krisis ekonomi dan moneter (1998) sektor ini masih mampu tumbuh dengan angka positif 1,34- 1,43%, sementara pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi –3,96%. Tahun 2002 (triwulan II) tumbuh dari 4,70% (2001) menjadi 5,43% (Laporan Keuangan BI). Penggerak utama pertumbuhan ini adalah sektor pertanian sebesar 59,62%.
Menyimak indikator ekonomi makro, ternyata kekuatan ekonomi propinsi –propinsi tersebut bertumpu pada sektor pertanian, terutama sub sektor tanaman perkebunan yang memberi kontribusi kepada PDRB berkisar 20,78% (BI Triwulan II, 2002). Bahkan dua tahun terakhir (1998/1999-1999/2000) sumbangan sektor perkebunan (kakao) terhadap ekspor masing-masing propinsi mencapai 80%-85%, kemudian tahun 2001 ekspor biji coklat menyumbang US dollar (ribu) 31.008 dari total ekspor 90.413,2 (US dollar, ribu).

Pelajaran yang sangat berharga dari situasi krisis ini adalah bahwa pembangunan ekonomi yang bertumpu pada barang modal dan bahan baku impor, akan menemui kegagalan dan mengacaukan ekonomi masyarakat yang sebagian besar hidup dari usaha pertanian. Pelajaran lain yang dapat dipetik krisis ekonomi dan moneter bahwa (a) sektor pertanian harus menjadi prioritas dalam menggerakkan roda perekonomian nasional karena sangat kuat mengakar pada sumber daya domestik (domestic resource base) dan tidak terpengaruh oleh tekanan dan gejolak eksternal dan (b) usaha kecil dan menengah, serta koperasi terbukti tangguh terhadap goncangan moneter dibandingkan skala besar sehingga perlu diprioritaskan untuk ditumbuh kembangkan dan diberdayakan (Solahuddin, 1998). Karena itu sangat beralasan jika Pemerintah Propinsi tersebut memutar haluan pembangunan ekonomi ke sektor pertanian, melalui penelusuran berbagai komoditi unggulan. Ini berarti bahwa pembangunan industri di domestik ini selayaknya dimotori olek sektor pertanian yang berbasis pada komoditi unggulan. Prioritas pembangunan pertanian diarahkan pada komoditi unggulan masing-masing sektor yang selanjutnya akan dijadikan sebagai basis pengembangan investasi, agribisnis dan agroindustri untuk kemudian mampu memasuki pasar global. Karena itu perlu segera ditetapkan komoditi yang paling layak dijadikan unggulan di msing-masing propinsi tersebut yang selanjutnya menjadi basis pengembangan industri masa depan.

Sebagai contoh spesifik yang dikembangkan pada lingkup yang lebih kecil katakanlah tingkat kabupaten, yaitu hasil penelitian Universitas Tadulako kerjasama dengan Kantor Menteri Negara BUMN Jakarta (1999) menemukan komoditi unggulan prioritas di setiap Kabupaten seperti diuraikan pada bagian berikut. Untuk Kabupaten Donggala, komoditi unggulan prioritas sektor pertanian Tanaman Pangan adalah padi, Kabupaten Poso padi; Kabupaten Tolitoli padi; Kabupaten Banggai padi, Kota Palu bawang. Komoditi unggulan prioritas Tanaman Perkebunan di Kabupaten Donggala kakao; Kabupaten Poso kelapa sawit; Kabupaten Tolitoli kakao; Kabupaten Banggai kelapa sawit. Komoditi unggulan prioritas sektor Peternakan di empat Kabupaten (Donggala, Poso, Tolitoli dan Banggai) adalah sapi. Komoditi unggulan prioritas sektor Perikanan di Kabupaten Donggala adalah ikan segar; Kabupaten Poso mutiara; Kabupaten Tolitoli ikan kerapu hidup; Kabupaten Banggai mutiara. Komoditi unggulan sektor Kehutanan di Kabupaten Donggala adalah kayu; Kabupaten Poso rotan; Kabupaten Tolitoli kayu gergajian; Kabupaten Banggai rotan. Khusus komoditi hasil industri, kota Palu mengunggulkan tepung kelapa (decciated coconut).

Agar pengembangan industri betul-betul berdasarkan potensi sumber daya lokal unggulan, maka perlu dibuat pohon industri dari setiap komoditi unggulan yang ada di Wilayah Propinsi tersebut. Padi misalnya, hendaknya tidak lagi dianggap sebagai komoditi strategis, tetapi juga bisa dijadikan unggulan sebagai bahan dasar untuk menghasilkan berbagai macam produk industri. Padi ternyata merupakan komoditi unggulan prioritas tanaman pangan di semua Kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah. Kemudian beberapa komoditi yang selama ini sudah banyak diusahakan oleh masyarakat, hanya saja dalam jumlah relatif kecil terbatas untuk konsumsi lokal, belum banyak dikembangkan ke arah agroindustri.

Dari pohon industri menunjukkan bahwa komoditi padi misalnya (lihat pohon industri) dapat dikembangkan ke dalam berbagai bahan baku industri untuk produk industri, antara lain, PST ragi roti, baso jamur, water glass, semen tiruan, sediaan farmasi, emulsfier, kosmetik, gliserol, gula ester, ditergen, biskuit, roti, pakan ternak. Komoditi kedelai merupakan bahan dasar pembuatan tempe dan juga bisa dijadikan produk industri seperti gula ester, margarin, minuman sari kedelai, susu krim (roti, makanan bayi, biskuit), minuman susu krim, nata desoya, pakan ternak, anti oksidan, tempe instan, kripik tempe. Komoditi jagung, juga merupakan bahan baku untuk berbagai industri kecil, menengah dan besar. Beberapa produk yang dihasilkan melalui bahan baku jagung antara lain pakan ternak, emping jagung, kripik jagung, anti oksidan, gula cair, mie instan, gula ester, ditergen, emulsifier, makanan bayi, biskuit, roti. Pengolahan produk-produk tersebut dapat dilakukan baik oleh industri menengah maupun industri kecil dan rumah tangga.

Hal yang menarik dari bahan baku padi, jagung, dan kedelai ini adalah dapat dikembangkan untuk menghasilkan produk industri yang sama seperti gula ester, ditergen, gliserol, emusifier, ragi roti, roti, mie instan dan pakan ternak. Gliserol dan emulsifier merupakan produk agroindustri yang dibutuhkan dunia bahkan Indonesia belum menghasilkan. Kebutuhan dunia untuk produk ini diperkirakan mencapai 132.000 ton per tahun dengan harga Rp. 90.000/kg. Data ini menunjukkan besarnya peluang untuk membangun industri yang bahan bakunya tersedia dan dunia membutuhkannya. Peluang pengembangan industri lainnya adalah industri detergen dan gula ester yang juga merupakan produk agroindustri yang dibutuhkan dunia, hanya saja masih memerlukan pengembangan teknologi pengolahan.

Strategi Peningkatan Daya Saing
Ada dua strategi yang bisa dipilih dalam rangka peningkatan daya saing nasional, yaitu market based approach atau resources based approach. Jika strategi market based (MB) yang dipilih, maka itu berarti bahwa strategi bersaing difokuskan pada kebutuhan pasar melalui analisis lingkungan industri seperti yang dikembangkan oleh Porter (1985). Menurut Porter, ada lima kekuatan persaingan dalam lingkungan industri, yaitu: (a) risiko masuknya pesaing potensial sebagai persaing baru, (b) persaingan di antara pesaing yang ada, (c) posisi tawar menawar pembeli, (d) posisi tawar menawar penjual, (e) barang-barang substitusi porter berpendapat bahwa semakin kuat kelima kekuatan tersebut semakin sulit posisi ‘perusahaan’ dalam persaingan sehingga semakin sulit meraih keuntungan. Dengan perkataan lain, menguatnya kelima kekuatan persaingan tersebut, akan merupakan ancaman bagi penciptaan keuntungan perusahaan.

Ini bermakna bahwa dalam kondisi tersebut daya saing ‘perusahaan’ (DSD) melemah. Sebaliknya, jika kelima kekuatan tersebut melemah, maka peluang penciptaan keuntungan ‘perusahaan’ menguat. Hanya saja perlu difahami bahwa kekuatan-kekuatan persaingan dalam lingkungan industri berada di luar kontrol, sehingga kelima kekuatan tersebut bisa berubah setiap saat. Karena itu tugas pimpinan adalah mencermati peluang dan ancaman yang muncul dalam lingkungan industri agar dapat merumuskan strategi yang sesuai dengan tuntutan perubahan tersebut. Hal yang paling penting dari strategi bersaing Porter ini adalah tekanan pada usaha-usaha memproteksi pasar dengan cara membuat rintangan bagi pesaing memasuki pasar. Pendekatan resources based (RB) memandang aktivitas ekonomi atau bisnis dari sisi pemanfaatan sumber daya yang dilayani. Pemanfaatan sumber daya dan kapabilitas ini dalam rangka membangun daya saing berkesinambungan yang diarahkan kepada kepada usaha-usaha menangkap berbagai peluang dan mengatasi berbagai ancaman dalam persaingan. Strategi RB lebih menekankan pada pengembangan kemampuan bersaing melalui inovasi dan kompetensi inti (core competence).

Dari kondisi ini dibangun strategi untuk menghambat para pesaing berupa kesulitan untuk ditiru (barriers to imitation). Kompetensi inti adalah sesuatu yang khas dimiliki oleh suatu perusahaan (secara makro sebuah negara) dan membuatnya mampu mengatasi pesaing dan meraih keuntungan yang berkesinambungan. Juga bisa dimaknai sebagai keunikan yang dimiliki oleh suatu negara dan sangat sulit ditiru oleh pesaing atau negara lain.

Ada dua sumber utama kompetensi inti yaitu sumber daya dan kemampuan. Sumber daya meliputi baik sumber daya nyata (tangible), seperti tanah, bangunan, pabrik, peralatan, karyawan) maupun tidak nyata (intangible), seperti merek, reputasi, hak patent, keahlian, kualitas, moral para staf. Untuk meningkatkan kompetensi khas ini, maka sumber daya yang dimiliki seharusnya dibuat unik dan bernilai. Unik dalam arti tidak dimiliki oleh pesaing, bernilai berarti berusaha mengembangkan berbagai cara yang dapat meningkatkan permintaan produk atau jasa yang dihasilkan.
Selanjutnya kemampuan perusahaan diartikan sebagai keahlian mengkoordinasikan dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimiliki secara produktif. Keahlian ini terletak terletak pada kegiatan-kegiatan rutin yang melekat dalam proses manajemen dalam konteks ini merupakan produk dari struktur organisasi dan sistem kontrol. Sistem inilah yang menentukan proses pengambilan keputusan, kebiasaan-kebiasaan kerja, pemberian balas jasa, serta nilai-nilai dan norma-norma sumber daya lainnya.
Namun demikian tidak berarti bahwa kompetensi inti ini bebas dari tiruan pesaing. Salah satu yang paling mudah ditiru adalah sumber daya nyata, sedangkan sumber daya yang tidak nyata relatif sulit ditiru. Dari penjelasan ini dapat disimak bahwa untuk meningkatkan DSD, maka sebaiknya fokus pada pengembangan kompetensi inti yang paling sulit ditiru yaitu sumber daya tidak nyata dan kemampuan manajemen. Kedua potensi ini hanya bisa dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan, yang kesemuanya berbasis pada pengetahuan. Pengembangan pengetahuan menjadi sumber daya yang sangat penting, sebab dari sinilah metode, sistem, produk dan proses dikembangkan dan diperbarui sehingga mampu meningkatkan permintaan, pendapatan dan percepatan lainnya. Kondisi seperti pada gilirannya akan menjadi sebuah keunggulan dan nilai tambah tersendiri bagi lembaga atau negara. Persoalan yang dihadapi kemudian adalah bagaimana keunggulan itu menjadi dinamis dan sinambung.

D’Aveni (1994) menyatakan keunggulan pada dasarnya dinamis, dan tidak bisa dipertahankan. Persaingan hari ini dan masa datang harus dipandang sebagai persaingan dengan dinamika tinggi, bukan sesuatu yang statis. Karena itu kecenderungan masa depan dalam persaingan bisnis adalah saling mengungguli. Keunggulan lama akan diruntuhkan oleh munculnya keunggulan baru, dan seterusnya akan memunculkan keunggulan yang lebih baru dan meruntuhkan keunggulan sebelumnya, demikian seterusnya berproses seperti tangga eskalator. Untuk mengatasi kondisi seperti itu D’Aveni menganjurkan perlunya kita mencermati dinamika persaingan yang saling mengungguli tersebut melalui pemikiran strategi sebagai berikut:
•Setiap unggulan akan mengalami erosi. Pernyataan ini bermakna bahwa tidak mungkin kita dapat mempertahankan keunggulan dalam jangka waktu lama. Mengapa ? Karena setiap unggulan akan ditiru bahkan lebih dikembangkan lagi oleh pesaing, sehingga pesaing akan lebih unggul. Ini berarti bahwa keunggulan yang dimiliki akan terpuruk dan akhirnya ditinggalkan oleh pemakai atau pelanggan. Keunggulan pun tidak lagi bermakna.
•Membuat keunggulan bertahan lama berarti bunuh diri. Ketika kita berusaha mempertahankan keunggulan, maka itu berarti bahwa kita memberi peluang kepada pesaing untuk mengembangkan diri menjadi lebih unggul. Ini berarti bunuh diri, sebab kita membiarkan pesaing membangun dirinya untuk kemudian mengungguli.
•Tujuan adalah meruntuhkan keunggulan, bukan memapankan keunggulan. Dalam situasi persaingan yang saling mengungguli, anda seharusnya meruntuhkan kemapanan dan berusaha mengembangkan sejumlah keunggulan baru, sebagai alternatif. Ini berarti bahwa perlu mempersiapkan diri setiap saat untuk mendahului para pesaing dari satu keunggulan kepada keunggulan lain. Dengan demikian anda akan selalu unggul.
•Mengambil inisiatif dengan langkah-langkah kecil. Dinamika persaingan yang begitu cepat ternyata mengakibatkan siklus persaingan juga semakin pendek, sehingga anda dituntut untuk memunculkan keunggulan-keunggulan baru lebih cepat. Karena itu sangat sulit bagi anda memikirkan strategi jangka panjang, lima atau sepuluh tahunan, yang diperlukan adalah sejumlah langkah-langkah kecil yang sistematik dan berkesinambungan.

Kesimpulan
Peningkatan DSD seharusnya menjadi prioritas dalam menata ekonomi daerah ke depan agar tidak terlempar dari persaingan baik domestik maupun global. Beberapa catatan yang perlu dicermati untuk meningkatkan DSD adalah :
•Globalisasi ternyata lebih banyak merugikan negara-negara sedang berkembang terutama dalam pengembangan DSD.
•Petani dan Pertanian seharusnya menjadi basis pengembangan industri untuk menghasilkan produk yang diterima oleh dunia (label hijau).
•Perlu pengembangan produk unggulan melalui pengembangan kompetensi khas berbasis sumber daya lokal.
•Pengembangan produk unggulan seharusnya tidak menjadi sesuatu yang statis, tetapi dinamik, karena itu konsep D’Avani perlu dicermati penerapannya.
•Penelitian dan pengembangan yang berkesinambungan menjadi kata kunci dari pengembangan DSD di masa depan.
•Sudah saatnya pemerintah lebih menitik beratkan kebijakan penelitian dan pengembangan pada produk unggulan di setiap propinsi bahkan kabupaten.
•Perlu perubahan paradigma pembangunan berorientasi sumber daya domestik.
•Perlu kesepakatan dalam penentuan unggulan agar tidak terjadi duplikasi penelitian yang mubazir.
•Peran pemerintah hendaknya fokus pada investasi atau perbaikan fasilitas umum seperti listrik, telekomunikasi, pelabuhan, jalan, dan jembatan.
•Produk industri dari kakao adalah coco butter, serbuk kakao, pasta cacao, yang merupakan kebutuhan dunia yang pasokannya dari Indonesia masih sangat kecil.
•Komoditi perikanan yang banyak diminati dunia adalah ikan kerapu. Pada dasarnya komoditi ini dapat dijadikan sebagai komoditi unggulan

Sumber Bacaan

Abdullah, dkk. 2002 Daya saing Daerah konsep dan pengukurannya, BPFE. Yogyakarta
Cho,Dong Su And Moon, Hwy-chang.2003. From Aam Smith To Michael Porter.Salemba Empat. Jakarta
D,Avani, RA. 1994, Hypercompetition, The Free press. Micmillan Toronto
………………….1999. Renstra Pemprop Sulawesi Tengah.
Husaini, Martani. 2000. Mencermati Misteri Globalisasi. Majalah Manajemen dan Ushawan Indonesia. No.01/th.XXIX, Januari 3-10.
Syafar, Abdullah Wahid. 2004. Daya saing daerah melalui Distinctive Competence. Majalah Manajemen dan Ushawan Indonesia. No.03/th.XXXIII Maret.



Read more.....

Senin, 16 Februari 2009

Konsep Kebijakan Pemerintah terhadap Ekspor–Impor Dalam Globalisasi Produk Agribisnis

1. Ruang Lingkup Analisis
Pemerintah Indonesia dan juga pemerintah beberapa negara tetangga, memandang globalisasi lebih sebagai sebuah fenomena ekonomi, sehingga fokus perhatian utama adalah pada kebijakan ekonomi yang ditandai serangkaian kebijakan yang diarahkan untuk membuka ekonomi domestik dalam rangka memperluas dan memperdalam integrasi dengan pasar internasional. Langkah tersebut diistilahkan dengan “ first order adjusment “ (penyesuaian tahap pertama) terhadap
globalisasi.

Langkah untuk memasuki globalisasi juga dapat dilihat sebagai kelanjutan kebijakan liberalisasi ekonomi yang telah dimulai oleh pemerintah sejak dekade ‘ 80an sampai paruh pertama ‘90an. Sepanjang masa tersebut ,negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia relatif berhasil dalam menjalankan penyesuaian tahap pertama globalisasi, yang diindikasikan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, tingginya arus perdagangan barang dan jasa serta modal yang menggambarkan kinerja ekonomi yang berhasil di kawasan tersebut.

Namun demikian beberapa negara tersebut, tidak terlalu memberikan perhatian terhadap penyesuaian tahap kedua globalisasi ( second order adjusment ). Ada sejumlah masalah berkaitan dengan penyesuaian tahap kedua tersebut di Indonesia, yang terangkat ke permukaan oleh adanya krisis :Pertama, Kerentanan perekonomian domestik terhadap arus modal global. Krisis yang terjadi beberapa waktu yang lalu, seolah-olah membenarkan bahwa ekonomi indonesia tumbuh karena mengandalkan sektor finasiil dan arus modal jangka pendek (bubble economy), sehingga pada saat kedua sektor tersebut goncang secara global, Indonesiapun terimbas karenanya.
Kedua, Kerapuhan institusi ekonomi-politik domestik, disebabkan oleh moral-hazard yang meluas disektor perbankan, miskinnya kepastian dan penegakan hukum dan praktek perburuan rente ekonomi (economic rent seeking).
Ketiga, Kemajuan ekonomi ternyata tidak diimbangi dengan kebijakan kesejahteraan. Hal ini ditunjukan dengan distribusi pendapatan yang timpang, perlindungan sosial minim, akibatnya masyarakat segmen terbawah menjadi sangat rentan terhadap guncangan dalam ekonomi.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia, memunculkan perdebatan disekitar penyebab krisis tersebut, yang dikaitkan dengan globalisasi. Ada tuduhan bahwa globalisasi penyebab krisis, dan ada pula yang berpendapat bahwa tahap penyesuaian terhadap globalisasi tersebut yang tidak seimbang, karena terlalu premateur memaksakan liberalisasi pasar modal dan sektor perbankan di Asia. Namun demikian globalisasi tetap tidak dapat dihindari baik oleh pemerintah Indonesia maupun negara–negara sekawasan.

Peningkatan kerjasama ekonomi kawasan menjadi diperlukan, karena perekonomian dunia yang ikut mengalami penurunan kinerja. Salah satu penyebabnya adalah menurunnya kinerja ekonomi Amerika Serikat (AS), yang masih menjadi lokomotif perekonomian dunia. Kerjasam kawasan akan mengurangi ketergantungan ekonomi pada satu negara, dan sekali gus membangun landasan ekonomi kawasan yang kuat. Langkah ini dapat dimulai dengan meningkatkan perdagangan dan investasi intra kawasan. Dalam jangka panjang diarahkan untuk merumuskan strategi pembangunan baru yang lebih berkelanjutan.

Bentuk kerjasa ekonomi di kalangan negara-negara ASEAN, ASEAN Free Trade Area (AFTA), telah berlaku efektif untuk enam anggota mulai th 2003, dan untuk empat anggota yang lain dimulai tahun 2006. Di lingkup yang lebih luas, ada upaya untuk membangun kerjasama antara ASEAN dengan negara-negara lain di Asia Timur, seperti Free Trade Area (FTA), antara ASEAN dan Cina, juga ASEAN dengan Jepang dan dengan Korea Selatan. Semua bentuk kerjasama antar negara tersebut, dimaksudkan untuk memperkuat sistim perdagangan kawasan dengan kebijakan yang mengarah pada dikuranginya hambatan-hambatan masuk barang dan jasa antar negara anggota.

Implikasi globalisasi paling tidak, justru telah memperkuat regionalisme perdagangan. Globalisasi menuntut semakin banyak negara yang membuka pintu masuk negaranya terhadap barang dan jasa dari negara lain, dilain pihak ditanggapi dengan lebih dulu memperkuat ekonomi kawasan oleh tidak saja negara-negara berkembang, tetapi juga negara yang telah maju seperti Uni Eropa (Europe Economic community = ECC). Hal ini mengindikasikan bahwa, dengan globalisasi banyak negara tidak ingin pada akhirnya bergantung hanya kepada satu negara yang secara ekonomi kuat, seperti AS.

Indonesia sebagai anggota ASEAN, telah turut menandatangani Piagam pembentukan Asean Free Trade Area (AFTA), yang pembentukannya dilandasi pemikiran bahwa AFTA akan menaikan daya saing negara-negara Asean dalam rangka mempersiapkan diri dalam pasar global. Diharapkan melalui penghilangan hambatan tarif maupun non tarif terhadap sesama negara anggota, sektor manufaktur negara-negara Asean akan menjadi lebih efisien dan berdaya saing. Realisasi AFTA ini didasarkan pada mekanisme Cammon Effective Preferensial Tarif (CEPT), yaitu penerapan tarif khusus untuk beberapa komoditi tertentu, yang telah diepakati 15 komoditi masuk program CEPT tersebut.

Di Indonesia setelah mengalami krisis dan sekaligus tuntutan agar pelaksanaan AFTA ditunda, sebenarnya yang perlu untuk dikaji adalah kesiapan untuk menghadapi era tersebut (yang sudah berjalan selama satu tahun). Jika komoditas ekspor tidak mempunyai keunggulan kompetitif, maka sulit akan mampu menembus pasar internasional, bahkan sebaliknya Indonesia akan menjadi pasar besar bagi produk-produk luar negeri. Seperti yang dilaporkan penelitian tentang efek daya saing komoditi ekspor Indonesia ke negara-negara Asean, terutama 15 komoditi yang masuk CEPT,( permasalahan ini akan disampaikan lebih luas pada bab berikut ), selama 1994 – 1998, adalah :
 Komoditas yang tetap mempunyai daya saing positif di pasar Asean adalah bahan kimia dan tembaga
 Kelompok komoditas yang mempunyai daya saing negatif adalah, kertas, minyak nabati, dan furnitur kayu serta rotan.
 Kelompok yang mengalami peningkatan daya saing adalah, obat-obat-an, tekstil, semen dan kelompok batu mulia dan perhiasan. Sedangkan yang mengalami penurunan adalah, pupuk, produk dari karet, keramik, dan produk dari kaca, elektronik serta plastik
 Konsentrasi pasar kurang pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia di pasar Asean.
Dengan demikian, dapat dijelaskan sebenarnya komoditi ekspor Indonesia sangat rentan terhadap kondisi permintaan Asean dan belum mampu melakukan penetrasi pasar dengan baik, hal ini karena pertumbuhan permintaan Asean masih sangat berperan besar terhadap kinerja ekspor Indonesia ke pasar Asean. Patut pula dicatat, bahwa produk-produk yang terkait dengan agribisnis, belum memiliki daya saing yang tinggi dipasar Asean, padahal banyak negara Asean memiliki komoditi ekspor yang sama dengan komoditi yang di ekspor oleh Indonesia.

Dalam kaitan memperkuat ekonomi kawasan , sebagai landasan untuk memasuki pasar global, AFTA, haruslah menjadi ajang ujian bagi komoditi Indonesia, apakah kelak mampu masuk dipasaran internasional yang lebih luas atau tidak. Oleh karena itu momentum harus ditangkap dengan mempersiapkan berbagai kebijakan-kebijakan yang lebih memberikan peluang terciptanya daya saing bagi komoditi ekspor.

Dengan melihat gambaran tersebut diatas , maka permasalahan yang muncul, terutama berkaitan dengan kebijakan perdagangan, khususnya untuk komoditi agribisnis adalah:
1.Bagaimanakah gambaran peta perdagangan internasional Indonesia selama ini untuk komoditi yang berhubungan agribisnis.
2.Konsep kebijakan perdagangan yang bagaimana yang dapat mendukung daya saing komoditi–komoditi Indonesia di pasar internasional.
3.Globalisasi dari Pendekatan Teori Perdagangan Internasional.

Tuntutan globalisasi berkembang sejalan dengan perkembangan tehnologi dalam transportasi dan komunikasi yang tumbuh dengan pesat ditandai dengan terdistribusinya barang-barang atau jasa secara internasional. Tingkat keterlibatan suatu negara dalam perdagangan internasional diukur dengan rasio-rasio : perdagangan dunia terhadap pendapatan nasional; pertumbuhan arus modal dan penanaman modal asing terhadap pendapatan nasional. Dilain pihak, kerjasama ekonomi regional juga semakin menemukan bentuknya, justru untuk menghadapi globalisasi tersebut. Implikasi dari kedua tuntutan tersebut, globalisasi dan regionalisasi, adalah tarik menarik antara kebijakan perdagangan yang biasanya dilakukan negara-negara dalam derajat kerjasama regional, dan kebijakan persaingan sebagai konsekuensi adanya tuntutan globalisasi.

Kebijakan persaingan mempunyai arah utuk membuka pasar, mengawasi praktek-praktek anti persaingan, dan menghapuskan berbagai hambatan masuk ke dalam pasar. Kebijakan yang mengarah pada liberalisasi kompetitif tingkat global ini, diharapkan tidak mengacaukan skema kebijakan regional, meskipun beberapa kasus telah menunjukan konflik, ketika skema global goyah. Sedangkan kebijakan perdagangan biasanya lebih menitik beratkan kepentingan industri-industri nasional dari pada kondisi pasar.

Dalam merumuskan konsep kebijakan perdagangan, khususnya untuk komoditi agribisnis di Indonesia, maka akan didekati dengan beberapa teori yang mendasari. Teori-teori tersebut meliputi :
•Teori yang menjelaskan arus barang secara internasional
•Teori-teori yang menjelaskan arus investasi internasional.
•Teori- teori tentang kerjasama regional.

3.1. Teori Arus Barang Internasional.
Disamping Teori Keunggulan Komparatif dari David Ricardo dan Teori Proporsi dari Hechser-Ohlin, sebagai teori yang paling luas dijadikan acuan mendasari terjadinya perdagangan internasional, akan disampaikan beberapa teori yang lebih akhir, untuk dapat menjelaskan perdagangan internasional di era globalisasi

Teori Skala Ekonomi dan Diferensiasi Produk.

Secara garis besar teori ini menjelaskan
•Perdagangan internasional dapat bersumber dari imbalan yang meningkat (increasing return ) atau skala ekonomis artinya biaya makin turun dengan meningkatnya output. Skala ekonomis memberikan dorongan bagi negara-negara untuk melakukan spesialisasi dan berdagang meskipun sumber daya dan tehnologi tidak berbeda.
•Skala ekonomis lazimnya menyebabkan persaingan sempurna tidak terwujud, sehingga perdagangan dalam konteks skala ekonomis harus dianalisis dengan menggunakan model-model persaingan tak sempurna.
•Perdagangan internasional menciptakan suatu pasar terpadu yang lebih besar dari pasar suatu negara manapun, dan karena itu memungkinkan secara serentak untuk menawarkan pada konsumen produk-produk yang makin beragam (differentiated products) dengan harga yang lebih rendah.
•Dalam model persaingan monopolistik perdagangan bisa dibagi ke dalam dua jenis. Perdagangan dua arah dalam produk-produk yang berbeda di dalam satu industri disebut perdagangan intraindustri ; perdagangan yang mempertukarkan produk-produk suatu industri dengan produk-produk industri lainya disebaut perdagangan antarindustri. Perdagangan intraindustri mencerminkan skala ekonomis, perdagangan antarindustri mencerminkan keunggulan komparatif. Perdagangan intraindustri tidak menciptakan dampak yang kuat pada distribusi pendapatan sebagaimana perdagangan antarindustri.

•Keuntungan eksternal ialah skala ekonomis yang terjadi pada tingkat industri, bukan perusahaan. Gejala ini memberikan peranan penting dalam pola penentuan perdagangan internasional. Jika ekonomis eksternal penting, suatu negara yang memulai dengan suatu industri yang besar bisa memelihara keunggulan tersebut sekalipun negara lain secara potensial dapat memproduksi barang-barang yang sama jauh lebih murah.
Garis besar teori skala ekonomis dan diferensiasi produk tersebut diatas sedikit menjelaskan mengapa dalam era globalisasi, arus perdagangan antar negara menjadi semakin pesat.

Teori Stefan Linder.
Stefan Linder dengan teori orientasi-permintaan menjelaskan bahwa selera konsumen sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatannya, dan karenanya tingkat pendapatan per kapita suatu bangsa menentukan jenis barang yang akan dimintanya. Karena industri akan memproduksi barang-barang untuk memenuhi permintaan tersebut, jenis-jenis produk yang dibuat mencerminkan tingkat pendapatan perkapita negara tersebut.. Barang-barang yang dikonsumsi untuk domestik akhirnya akan di ekspor.

Teori Linder mengambil kesimpulan bahwa perdagangan internasional dalam beberapa barang manufaktur akan menjadi lebih besar antara negara-negara dengan tingkat pendapatan per kapita yang sama daripada antara negara yang tidak sama tingkat pendapatan perkapitanya. Barang yang diperdagangkan adalah barang-barang dimana terdapat permintaan yang tumpang tindih (overlaping demand), yang berarti konsumen di kedua negara meminta barang yang sama.

Perbedaan Teori Linder dengan keunggulan komparatif adalah bahwa teori Linder tidak menentukan arah kemana barang tertentu akan pergi. Secara teoritis barang dapat pergi kemana saja sesuai dengan teori perdagangan intraindustri dan karena adanya diferensiasi produk

Teori Keunggulan Kompetitif Michael Porter.

Garis besar Teori Porter, menyatakan bahwa empat jenis variabel akan mempunyai dampak atas kempampuan perusahaan-perusahaan lokal di suatu negara untuk menggunakan sumber-sumber negara itu guna memperoleh keunggulan kompetitif:
1.Kondisi-kondisi permintaan- sifat dasar dari permintaan domestik. Apabila para pelanggan sebuah perusahaan sedang mempunyai permintaan, ia akan memproduksi produk yang berkualitas tinggi dan inovatif, dan akan memperoleh keunggulan kompetitif dimana tekanan domestik lebih kecil.
2.Kondisi-kondisi faktor- level dan komposisi faktor produksi.Kekurangan karunia alam telah menyebabkan bangsa-bangsa melakukan investasi dalam penciptaan faktor-faktor lanjutan, seperti pendidikan angkatan kerjanya, pelabuhan bebas dan sistim komunikasi maju, untuk memungkinkan industri-industri mereka bersaing secara global.
3.Industri-industri terkait dan pendukung – para pemasok dan jasa dukungan industri.
4.Strategi, struktur dan persaingan perusahaan – perluasan persaingan domestik, adanya hambatan masuk, serta organisasi dan gaya manajemen perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang terkena persaingan berat di pasar-pasar domestiknya, secara konstan akan meningkatkan efisiensinya, yang membuat mereka lebih kompetitif secara internasional.

Porter membangun teorinya dengan meneliti, industri-industri (manufakturing) di beberapa negara yang memiliki kemiripan dalam hal komparatif relatif. Identifikasi terhadap industri-industri yang ternyata memiliki daya saing walaupun mereka datang dari negara yang secara alamiah tidak berlimpah sumber daya. Tetapi sumber daya bukanlah satu-satu-nya faktor yang dapat meningkatkan daya saing industri suatu negara, dan Porter telah merumuskan model bagaimana, daya saing dapat tercipta, oleh faktor-faktor penentu yang lain.

Teori Porter yang dikenal dengan diamond tunggal, selanjutnya mendapat kritikan karena tidak mempertimbangkan aktivitas perusahaan multinasional dan pula peranan pemerintah kecil. Teori ini diperbaiki oleh Moon,Rugman dan Verbeke, dengan memasukan pertimbangan aktivitas multinasional, menjadi diamond ganda.

Teori Moon, Rugman dan Verbeke , menekankan dua elemen, pertama, nilai tambah yang berkesinambungan dalam sebuah negara dihasilkan dari perusahaan yang dimiliki secara domestik maupun yang dimiliki asing,kedua, kemampuan berkesinambungan memerlukan konfigurasi nilai tambah yang tersebar di banyak negara. Oleh karenanya, aktivitas multinasional, baik didalam batas wilayah maupun diluar batas wilayah, penting bagi kemampuan bersaing suatu negara.
Perbaikan terhadap teori Porter juga dilakukan Dong – Sung Cho, dengan model sembilan faktor. Faktor manusia mencakup pekerja, politisi, wirausahawan dan profesional bersama faktor fisik mencakup sumber daya yang merupakan anugrah, permintaan domestik, industri terkait dan pendukung dan lingkungan bisnis lainnya, menjadi faktor internal yang mempengaruhi daya saing. Selanjutnya ditambahkan faktor eksternal, yaitu peluang kedalam model, menjadi model sembilan faktor.

Teori Arus Investasi Internasional.

Pembahasan teori arus investasi secara internasional dalam paparan ini dengan pertimbangan dua hal : pertama, kecenderungan dalam ekonomi internasional adalah peningkatan secara besar-besar-an dalam hal penanaman modal asing, yang modal ini menjadi sangat penting bagi keberhasilan penjualan dipasar luar negeri, kedua , penanaman modal asing telah membuat persaingan benar-benar menjadi mengglobal.

Beberapa teori arus investasi internasional, yang telah dikenal luas dapat dijelaskan sebagai berikut :
•Teori keunggulan monopolistik. Teori ini diperkenalkan oleh Stephen Hymer 1960, yang menunjukan bahwa investasi langsung luar negeri lebih banyak terjadi dalam industri-industri oligopolistik daripada industri dalam persaingan sempurna. Perusahaan-perusahaan dalam industri ini harus memiliki keunggulan yang tidak dapat diperoleh perusahaan-perusahaan lokal, dan keunggulan itu harus merupakan economic of scale, tehnologi unggul atau pengetahuan pemasaran,manajemen dan keuangan yang unggul.Investasi langsung luar negeri terjadi karena ketidaksempurnaan pasar produk dan faktor produk.
•Ketidaksempurnaan pasar produk dan faktor produksi. Teori ini diperkenalkan oleh Caves, bahwa pengetahuan yang unggul memungkinkan perusahaan melakukan investasi luar negeri untuk memproduksi berbagai produk yang lebih disukai, dari pada barang buatan lokal, dengan demikian akan terjadi pengendalian atas harga jual dan keunggulan atas perusahaan-perusahaan pribumi.
•Daur hidup produk internasional ( IPLC ). Teori ini menjelaskan bahwa investasi langsung luar negeri sebagai tahap alamiah dalam kehidupan suatu produk. Untuk menghindari kehilangan pasar ekspor, sebuah perusahaan dipaksa untuk menanamkan modal dalam sarana produksi diluar negeri ketika perusahaan-perusahan lain menawarkan produk yang sama.
•Teori investasi silang. Teori ini diperkenalkan oleh Knickerbocker yang menunjukan bahwa investasi luar negeri langsung oleh perusahaan oligopoli di negara asal masing-masing sebagai tindakan pertahanan. Teori ini juga dikenal dengan follow-the-leader theory.
•Teori internalisasi. Adalah perluasan teori pasar tidak sempurna : untuk memperoleh laba yang lebih tinggi atas investasinya, perusahaan akan mentransfer pengetahuan unggul-nya ke cabang luar negeri daripada menjualnya di pasar terbuka.
•Teori eklektik produksi internasional. Teori yang diperkenalkan oleh Dunning menyatakan bahwa perusahaan yang akan melakukan investasi luar negeri harus memiliki tiga jenis keunggulan : kekhasan kepemilikan ; internalisasi dan kekhasan lokasi. Teori ini memberikan penjelasan atas pilihan sebuah perusahaan internasional terhadap fasilitas produksinya di luar negeri.

Teori- teori kerjasama regional

Latar belakang dan teori dibalik timbulnya kecenderungan antar negara membentuk area bebas perdagangan pada kawasan negara-negara tersebut disebabkan adanya Strategic trade theory dengan berbagai macam trade barier pada skala yang lebih luas justru banyak menimbulkan kerugian.

Pasar bebas yang bertujuan untuk mengurangi berbagai macam hambatan perdagangan akan menciptakan efisiensi dan kondisi yang lebih baik bagi perekonomian secara umum. Namun demikian, setiap negara memerlukan kesiapan, menyangkut kesiapan sumber daya manusia dan struktur industri. Karena itu muncul suatu kerjasam regional yang ditujukan untuk memasuki pasar bebas dalam skala yang lebih luas.

Teori-teori kerjasama regional adalah :
1.Viner ( 1955 ), menjelaskan teori custom union bahwa pengurangan dan penghilangan hambatan perdagangan akan mendorong aliran barang dan jasa yang lebih besar serta mendorong arus modal dan arus tenaga kerja lebih besar. Custom Union akan mendorong setiap negara untuk melakukan spesialisasi.
2.Park dan Goh ( 1998 ), menjelaskan bahwa interaksi antar negara dalam suatu proses regionalisasi akan lebih baik dari pada mereka secara sendiri-sendiri berhadapan dengan pasar internasional .
3.Paul Krugman ( 1991 ), sebaliknya menjelaskan kemungkinan tidak berjalannya regionalisasi disebabkan oleh :
-Trade diversion, kelompok-kelompok negara yang tidak bisa menghasilkan suatu produk tertentu secara efisien akan membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk menghasilkan produk tersebut, sehingga memerlukan proteksi khusus.
-Beggar thy effect, negara-negara diluar kelompok akan cukup menderita jika diperlakukan tingkat tarif tertentu yang memberatkan.
-Perang antar blok perdagangan, Jika ini terjadi maka akan menyebabkan kelesuan ekonomi dunia secara luas.

Batasan karakteristik kerjasama regional dan pola hubungan internasional secara umum tergambar pada tabel 3:
Dari gambaran di atas, terlihat bahwa regionalisasi akan secara konvergen menuju pada pola integrasi sistim ekonomi secara keseluruhan serta memungkinkan dalam pencapaian nasional maupun regional growth yang lebih baik.
Sebagai gambaran tentang kerjasama regional, adalah Asean Free Trade Area (AFTA), dimana diantara anggotanya menerapkan tarif khusus dengan program CEPT (Common Effective Preferensial Tarif) yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Dari gambaran diatas terlihat adanya perbedaan yang secara tidak langsung mencerminkan kesiapan masing-masing negara dalam menghadapi pasar yang lebih global.
Dari penjelasan tentang teori-teori yang mendasari arus perdagangan internasional , investasi luar negeri, dan kerjasama regional, setidaknya dapat dijadikan sebagai dasar pendekatan untuk mengkonsepsikan kebijakan perdagangan yang rasional secara teoritis., disamping perlu pula dipertimbangkan fakta-fakta empiris mengenai peta perdagangan internasional Indonesia selama ini, khususnya yang berhubungan degan komoditi agribisnis atau pertanian dalam arti luas.

Peta perdagangan komoditi pertanian Indonesia

Gambaran mengenai peta perdagangan komoditi pertanian , sepenuhnya mendasarkan pada analisa dan laporan LP –IBII tahun 2004. dimana sektor pertanian dikelompokan menjadi 5 sub sektor : (1) tanaman bahan makanan; (2) tanaman perkebunan ; (3) peternakan ; (4) kehutanan dan (5) perikanan. Tanaman bahan makanan mencakup, padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar , kacang tanah, kacang kedelai dan hortikultura.

Dalam perdagangan internasional, ekspor dan impor bahan makan dikelompokan atas dasar 4 SITC ( Standard International Trade Classification ), sebagai berikut :
•SITC 0 untuk bahan makanan dan binatang hidup ;
•SITC 1 untuk minuman dan tembakau ;
•SITC 22 untuk biji-biji-an mengandung minyak berkulit keras ( kelapa ) maupun berkulit lunak ( kedelai ) dan
•SITC 4 untuk minyak atau lemak nabati atau hewani.
Secara keseluruhan hasil yang dapat dilaporkan adalah sebagai berikut :
 Transaksi perdagangan bahan makanan Indonesia selalu surplus, sejak tahun 1988-2002, dimana nilai ekspor melebihi nilai impor.
 Surplus tersebut terutama diakibatkan relatif besarnya surplus perdagangan ,minyak nabati berupa minyak sawit ( CPO ); perikanan (SITC 03) ; kopi,teh,coklat dan remapah-rempah ( SITC 07 ).
Surplus tersebut, dialami oleh negara-negara yang berpendapatan rendah dan menengah. Ini mengindikasikan negara berpendapatan tinggi tidak memiliki keunggulan dalam memproduksi bahan makanan. Kecuali untuk tahun 2001, Amerika Serikat dan Uni Erpa mengalami surplus, karena pemberian subsidi kepada petani di kedua negara tersebut.
Jika dilihat dari rasio nilai ekspor dan impor terhadap total nilai ekspor dan impor, maka sejak tahun 1988 – 2002, rasio impor naik, tetapi rasio ekspor turun. Ini mengindikasikan dalam jangka panjang perdagangan bahan makanan bisa mengalami defisit.
Transaksi perdagangan tanaman hortikultura berupa sayur-sayur-an dan buah-buah-an, sejak th 1988-2002, selalu mengalami surplus dengan proporsi yang menurun. Hal ini karena kenaikan nilai ekspor yang cenderung melambat dibandingkan nilai impornya.
Transaksi perdagangan komoditi tanaman bahan makanan sejak tahun 1988-2002 selalu mengalami defisit, terutama untuk komoditi gandum, beras, jagung, dan kacang kedelai.
Transaksi untuk sub sektor peternakan dan komoditi gula, perdagangan Indonesia selalu mengalami defisit, hal ini karena besarnya impor susu dan ternak hidup berupa sapi bakalan dan konsumsi gula yang meningkat.

Peta Daya Saing Komoditi Indonesia di Asean

Daya saing komoditi Indonesia yang masuk dalam program CEPT, terdiri dari 15 komoditi, yaitu :
•Kertas ( pulp & paper )
•Minyak nabati
•Bahan kimia
•Obat-obat-an
•Pupuk
•Produk dari kulit
•Produk dari karet
•Tekstil
•Semen
•Keramik dan produk dari kaca
•Tembaga
•Elektronik
•Furnitur katu dan rotan
•Plastik
•Batu mulia dan perhiasan

Dari kelima belas, komoditi tersebut, kinerja selama tahun 1994–1998, diteliti dan dilaporkan sebagai berikut:
•Dari kelima belas kelompok komoditas terdapat 2 kelompok yang memiliki daya saing tinggi yaitu bahan kimia dan tembaga. Kinerja ekspor kedua kelompok komoditas tersebut tidak tergantung pada permintaan Asean. Artinya walaupun permintaan Asean turun , komoditas tersebut masih tetap tumbuh karena kemampuan penetrasi pasar yang bagus
•Kelompok komoditas semen sangat rentan terhadap perubahan permintaan Asean.
•Kinerja kelompok komoditas kertas, obat-obat-an, minyak nabati, pupuk, produk karet, tekstil, keramik dan kaca, elektronik, furnitur kayu dan rotan, plastik serta batu mulai dan perhiasan , dipengaruhi oleh efek daya saing, efek pertumbuhan permintaan, yang berperanan cukup besar.
•Efek pertumbuhan permintaan Asean masih berperan sangat besar terhadap kinerja ekspor Indonesia. Hal ini berarti kinerja ekspor Indonesia sangat rentan terhadap perubahan permintaan Asean.
•Konsentrasipasar kurang pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia di pasar Asean.

Dari gambaran mengenai peta perdagangan dan peta daya saing produk-produk yang berhungan dengan agribisnis tersebut diatas dapat disimpulkan :
•Bahwa secara umum perdagangan komoditas pertanian Indonesia mengalami surplus. Ini berarti pasar untuk komoditas pertanian tersebut masih terbuka baik itu di Asean ( 20 % ), maupun diluar Asean ( AS, Uni Eropa, Jepang ). Indonesia lebih mendekati apa yang dikemukakan Ricardo dan teori H-O
•Di Pasar Asean produk-produk pertanian Indonesia kurang memiliki daya saing, karena pesaing-pesaing dipasar ini, memiliki produk yang sama seperti yang dijual Indonesia,( kondisi alam tak jauh berbeda )

Dengan demikian kebijakan perdagangan yang perlu dipertimbangkan, paling tidak secara teoritis , haruslah memperhatikan :
Bahwa komoditas pertanian ,masih dapat dipandang memiliki keunggulan komparatif, karena karunia alam, yang negara-negara lain tidak memiliki
Bahwa AFTA sebagai , langkah awal untuk memasuki globalisasi lebih lanjut, merupakan instrumen untuk menilai bagaimana kebijakan persaingan Indonesia dapat diterapkan., sesuai dengan pendapat Park dan Goh.
Bahwa rangsangan pertumbuhan komoditas pertanian, perlu didorong terutama, untuk merangsang tumbuhnya sektor agroindustri, yang memperluas pasaran di Asean.

Kesimpulan

Dari beberapa hal yang telah diuraikan dapat disimpulkan sebagai berikut :

bahwa globalisasi sebagai fenomena ekonomi, menuntut penyesuaian-penyesuaian kebijakan ekonomi nasional yang mengarah pada penyusunan fondasi ekonomi yang tidak rentan sekaligus terjadi keseimbangan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, terutama kebanyakan masyarakat yang berbasisi pertanian.
Peta perdagangan produk agribisnis mengindikasikan peta daya saing produk domestik yang lemah di pasar Asean dibandingkan dengan negara-negara yang menghasilkan produk yang sama. Namun demikian pasar diluar Asean masih memiliki keunggulan komparatif
Diperlukan kebijakan dalam perdagangan internasional - terutama untuk produk-produk agribisnis, mengingat skala usaha produsen produk tersebut umumnya berskala kecil, - antara kebijakan dorongan ekspor seperti : kredit ekspor, subsidi ekspor, serta proteksi relatif terutama untuk produk yang sama dari negara Asean.
Kebijakan yang lebih spesifik, terutama kebijakan persaingan , sehingga tercipata iklim kompetisi yang sehat, khususnya dengan beberapa negara penghasil produk sama, dan oleh karena itu akan menciptakan produktifitas dan efisiensi.

Referensi :

1.Agus Pakpahan,DR, Politik Ekonomi Kebangkitan Perkebunan Di Indonesia, Gaperindo, Jakarta, 2004.
2.Donald A Ball dan Wendell H McCulloch, Bisnis Internasional,Buku Satu, Salemba Empat- McGraw-Hill Co,Jakarta ,2000
3.Donald A Ball dan Wendell H McCulloch, Bisnis Internasional,Buku Dua, Salemba Empat- McGraw-Hill Co,Jakarta ,2001
4.Mari Pangestu,Syahrir,Ari A Perdana ( penyunting ),Indonesia dan Tantangan Ekonomi Global, CSIS, Jakarta, 2003.
5.Michael Porter. E, Alih Bahasa,gus Maulana, Strategi Bersaing,Tehnik menganalisis Indusri dan Pesaing, Erlangga ,Jakarta 1992.
6.Paul Krugman dan Maurice Obstfeld, Ekonomi Internasional,Teori dan Kebijakan, PAU-UI dan Harper-Collins Publishers, Jakarta, 1997.
7.Peter F Drucker, The Frontiers Management, Manajemen Lintas Peluang, Elex Media Komputindo, Jakarta, 1997.
8.Y.B.Kadarusman, Silvia Mila Arini, Bernadetta Dwi Suatmi, Makro Ekonomi Indonesia, Perkembangan Terkini dan Prospek 2003, Lembaga Penelitian Ekonomi IBII bekerjasama dengan PT Gramedia Pustaka Utama,2002
9.Y.B.Kadarusman, Silvia Mila Arini, Bernadetta Dwi Suatmi, Makro Ekonomi Indonesia, Perkembangan Terkini dan Prospek 2005, Lembaga Penelitian Ekonomi IBII bekerjasama dengan PT Gramedia Pustaka Utama,2004.
10.Perdagangan dalam Pembangunan, Bahan DIKLAT -UI

Read more.....

Minggu, 15 Februari 2009

Breed of Brangus

A review of the development of the Brangus breed would take us back beyond the founding of the American Brangus Breeders Association in 1949; however, registered Brangus descend from the foundation animals recorded that year or registered Brahman and Angus cattle enrolled since then. Much of the early work in crossing Brahman and Angus cattle was done at the USDA Experiment Station at Jeanerette,
Louisiana - the first crosses being made as far back as 1912.

During the same period, Clear Creek Ranch of Welch, Oklahoma, the Essar Ranch of San Antonio, Texas, and a few individual breeders in other parts of the United States and Canada were also carrying on private experimental breeding programs. They were looking for a desirable beef-type animal that would retain the Brahman's natural ability to thrive under adverse conditions in combination with the excellent qualities for which the Angus is noted.

The early breeders from 16 states and Canada met in Vinita, Oklahoma, on July 29, 1949, and organized the American Brangus Breeders Association, later renamed the International Brangus Breeders Association, with headquarters in Kansas City, Missouri. A permanent headquarters office building was occupied by the association in San Antonio, TX on Jan 1, 1973. There are now members in nearly every state, Canada, Mexico, Australia, Central America, Argentina, and South Rhodesia in Africa.

The concept of developing a new breed by stabilizing the best characteristics of two proven breeds in a fixed proportion is unique to the International Brangus Breeders Association. Rather than top crossing on commercial cows, proven individuals of the two parent breeds serve as the foundation for establishing new bloodlines.

Registered Brangus must be 3/8 Brahman and 5/8 Angus, solid black, polled as to conformation and breed character. Both sire and dam must be recorded with the International Brangus Breeders Association

Source :http://www.sebrangus.com

Read more.....

All About of Ongole

The Ongole breed, like other breeds of cattle in India, takes its name from the geographical area in which it is produced. It is also called the Nellore breed for the reason that formerly Ongole Taluk, a division of a district, was included in the Nellore district, but now it is included in the Guntur district. The area is part of the Andhra Pradesh in India.


This breed is included among the gray-white cattle of the north, having white or gray color, stumpy horns and a long coffin-shaped skull. It has a great similarity with the Gaolao breed of Madhya Predesh and also has a resemblance to the Bhagnari type of cattle in the north of India. This similarity is not surprising in view of the fact that these breeds lie along the path taken by the Rig Vedic Aryans in their march from the north to the south of India.

It is claimed that the finest specimens of the breed are found in the area between the Gundalakama and Alluru rivers in the Ongole and Kandukur taluks, and also in the villages of Karumanchi, Nidamanur, Pondur, Jayavaram, Tungtoor and Karvadi and along the banks of River Musi. They are also famous from the taluks of Vinukonda and Narasraopet.

Characteristics
The Ongoles are large-sized animals with loosely knit frames, large dewlaps which are fleshy and hang in folds extending to the navel flap, and slightly pendulous sheaths. They have long bodies and short necks; limbs are long and muscular. The forehead is broad between the eyes and slightly prominent. Eyes are elliptical in shape with black eyelashes and a ring of black skin about 1/4 to 1/2 inch wide around the eyes. Ears are moderately long, measuring on an average for 9 to 12 inches, and slightly drooping. Horns are short and stumpy, growing outwards and backwards, thick at the base and firm without cracks. In some animals the horns are loose; this is probably due to the horn core not growing well.

The hump in the males is well-developed and erect and filled up on both sides and not concave. The skin is of medium thickness, mellow and elastic and often shows black mottled markings. The popular color is white. The male has dark gray markings on the head, neck and hump and sometimes black points on the knees and on the pasterns of both the fore and hind legs. A red or red and white animal of typical conformation is occasionally seen. They have a white switch of the tail, white eyelashes, a flesh colored muzzle, light colored hooves, dark gray marking on the hindquarters and dark mottle appearance on the body.

Ongole cattle are efficiently used in their native home for both work and milk production. They are usually docile and the bulls are very powerful, suitable for heavy plowing or car work but are not considered to be suitable for fast work or trotting purposes. The cows are fair milkers.

All animals currently used for food and agriculture and the result of Domestication from wild progenitor species like their wild relatives. These Domestic species are continuously evolving albeit at an accelerated rate due to human activity. In general the history of cattle followed the history of man, where even either primitive or modern. Man has migrated he has tended to bring with him his own breeds of cattle. During vedic period many of the useful animals have been brought under service of man, particularly Milk became useful since Rigvedic period. The selected those animals species that are having vigor, inborn nearness, social ability and docility.

The evolutionary process has been accelerated in the domestic species particularly cattle, as a consequence of 10,000 years of selection by human, during this period with in the species genetic variation which is essential for the survival of all species, has been partially redistributed in the formation of the large number of unique cattle breeds now exists.

These breeds have adopted too many environments as the breeds spread and have been used to produce different types and combinations. A major group of mammals to be domesticated after caprinae were the large ruminants (Bovinae), which included the humped (Bos indicus) and hump less (Bos Taurus) cattle, yak, mithun, banteng and buffalo. This range of species in the family Bovinae make a very large number of important contributions to food and agriculture, providing just under 30% world meat and 87% world milk. This Bovinae provided the planet with a means of digesting via fermentation. Same types of zebu animals are present from the time of Indus Valley civilization dating back to 3000 BC Indian subcontinent is a treasure house of Bos-Indicus Cattle.

Farmers in the breed tract has selected and preserved each successive variation, with the distinct intention of improving and altering a breed, in accordance with a preconceived idea, and by thus adding up variations, often so slight as to be imperceptible to the uneducated. He has effected wonderful changes and improvements in the direction he desired as we see here under in Ongole Breed from 1880. There is a tendency in the breed to grow leggy with sparse light carriage, but their form, temper and endurance earned nearness to the breeders. Effect of heat loads on Ongole cattle

Radiation:
Solar radiation received from sun is through solar terrestrial. The amount of radiation emitted for a particular location depends on global positioning, latitude, and longitude. Infrared radiation is intense in tropics, having sterilizing effect, stimulates tissues, increases metabolic processes. Non-pigmented skin has a definite hazard. 85% of solar radiated heat is sent back to the environment by the Ongole animal through its white, reflective coat. Diurnal variations such as seasons, humidity, latitude, altitude, influences variation in radiant heat loads. The rest 15% of heat immediately absorbed by the under lying black skin. When the animal has nine blacks, total body skin will be black these cattle reduces heat load through behavioral means, and postural adjustments, also orientation towards sun make it protect its own parts through shade and thus reducing heat loads. Long legs of this breed helps in minimizing absorption of solar radiated heat. Light carriage also helps are exposed to sun.

Conductive and convective heat loads on these cattle transfer between surroundings and direct contact through soil and bedding, drinking water, feeds and fodders. Avoiding lying down stretching its body parts also helps.
Light is the most constant factor having vigor. Light influences on pituitary, shedding of hair on seasons, increase in metabolism, vision. High light intensity decreases cell wall content and increases water-soluble carbohydrates in vegetation and thus influences livestock.

Relative Humidity:
% of moisture in air is humidity. Air moisture content influences animals heat balance particularly in warm climates where evaporative cooling is crucial to homeothermy. High humidity associated with high temperature favors less nutritive value of feeds and fodders, of ten the stock are light colored, with pigmented skins, and shade lovers. These influence humidity aerial movement, transpiration, rainfall and temperature.

Characters associated with hardiness and thriftiness:
• Has the ability to reverse down metabolism during extremes of scarcity.
• Efficient forager and does not force the calf for foraging.
• Fruitful in milk with exact fat percentage to keep the calves at rapid growth.
• Tight sheath and small teats to avoid injuries of grazing animals.
• Sloppy rumps are suitable for quick and hard work, having 4 sacral vertebrae.
• Have more number of bigger, functional, sweat glands per unit area of the skin.
• Having white or light colored, short, sleek, densely, reflecting and glistering coat, which will not attract vectors and dislodge them with insulting character.
• Skin, pigmented, black, mellow, loose, thick and presence of subcutaneous panniculus carnosis muscle, which repels vectors by twitching.
• Highest heat tolerant coefficient.
• Basal metabolic rate low.
• Nutritional uniqueness, ability to convert low protein, high fiber roughage materials into high-grade foodstuffs with the aid of Omasal symbionts, such as thrives and performs well on inferior fodders.
• Crude protein utilization is highest.
• Perform well where even pastures are seasonal, scanty, and sparse.
• Spent much time in grazing even during daytime, seek shade only 3% of their total grazing time.
• Slow to cycle, when under nutritional stress or lactation stress, but response to cycle is immediate when nutrients are plenty.

Ongole Breed Tract:
Originally the breed tract comprises areas where there is no assured or commercial crops, leaving cattle raising as the only profitable proposition by selling bull ghee (Clarified butter), since crops and cultivation are not profitable. The farmers are quite aware of the food, investment, manure, forage, draught animal power and employment linkages, improving through subsistence security, transfer of nutrients, modification of vegetation and finally increasing the human support capacity of the land through Ongole breed of cattle. These cattle raising formed a part of risk education strategy with agriculture, as livestock is a saving account and their calves are interest. The farmer is quite conscious of the herd management policy options on direct costs and indirect costs, breeding, off take, purchase and culling. It clearly indicates this breed is originally dairy, later transformed as dual purpose i.e., dairy and draft animals, presently mostly a draught animal.
The breed tract comprised between rivers Krishna on Northern side, Pennar River on Southern side, nalamalai range of forest on Western side and Coromandai coast on Eastern side lying between 15.00 to 16.10’ east latitude and 79.04’ to 80.02’ north longitude.

The rivulets gundlakamma, madigandi, Paleru, Muneru, Musi, Chilakaleru. Whose extensive banks became excellent grazing areas. With population growth and consequent demand for cereals the Brahmini bull selection system has been oriented towards draft characters. The soils are black loam to black clay having large quantities of lime with soil pH of 6.9 to 7.2 most favorable for notification bacteria and luxuriant growth of legumes. Annual rain fall of about 900mm with about 50 rainy days out of which 2/3 roads are from southwest monsoon and 1/3 from northeast monsoon supporting most of the cereal crops. The average ambient temperature of maximum 32 degrees Celsius and minimum of 23.5 degrees Celsius and average relative humidity of 79%.

After formation of Krishna and Godavari Ayacuts during 1850’s with assured irrigation and increased demand for draft services, the breed tract extended to Krishna, Godavari and northern circars. Original tract is for breeding and extended tract for breeding and rearing, further ceded districts and Nalgonda and Mohaboob Nagar districts as rearing tracts. Extension of breed tract forced for 2 reasons. The demand for draft services from the area and generally the same species need the same resources and thus are bound to complete for the same, except when they are colonizing a new habitat, as such expansion of the tract.

Ongole Cattle Breeding:
Before organized efforts of the colonial rule, the institution of Brahmini Bull system in the ongole area has substantially improved the breed by avoiding inferior breeding and inbreeding. It has been the custom in the area that dedicating a young bull selected by a village committee funded by village rich men or the local diety and the bull being branded at a ceremony either with Sanku, Chakra, Trisul, then becomes common property and Brahmini bull is the property of the village and covers the village herd, this is how a small farmer provided the stud services. The changes in cropping pattern from cereals to commercial crops like chillis, and Tobacco during the 1930’s and cotton during 1960’s have badly affected the breeds feed resources.

With the introduction and expansion of artificial insemination programs rapidly has resulted in affecting the distribution of breeding bulls under various schemes have been stopped and there is decay in the institution of Brahmini Bull system which primarily supported the breed for centuries. During 1960’s introduction of Taurus breeds through aid programs has helped large scale indiscriminate breeding in the valuable Ongole herds. Like all other resources, the livestock wealth should also to be carefully and properly utilized and preserved. Planners in an attempt to improve milk production in Ongole cattle did many mistakes. One major error was the perception that output reflects efficiency, Hence the use of exotics on Ongoles to improve indigenous stock.

Output was very often the main criteria for which a breed was imported. Finally after sinking in a lot of money and time, we could learn that genetics is only one and often not the main tool that can ensure greater efficiency of output. Husbandry, survival, health, reproduction efficiency of feed utilization parameters becomes important. In a craze for cross breeding the excellent government herds built up for decades were also not spared by the planners. The saying that breeding policy should depend on animal, existing production potential, anticipated, goals, environment, man and economic development rather than prejudice, taste and trivial dictates.

Character associated with disease resistance:
• Premunity high.
• Reticulo endothelial system well developed.
• Resistant to eye cancer.
• Through their coating, insulating, secretary characters are more resistant to tick born diseases.
• Zebum secretion is fly repellent.
• Flexible tail tip, having cartilage in place of last 3 or 4 vertebrae helps as a brush to repel vectors.

The effects of climatologically variables on Ongoles are varied. High external heat load due to both radiant and high air temperature exposure depends on degree, and duration. On acute exposure the animal tries to accommodate rather than combat. As a routine the metabolic heat and the catabolic heat produced with in the body also needs to be eliminated. When heat loss mechanism reaches its maximum values the animal resorts to methods of reducing heat production in an effort to achieve homoeothermic. Reduction in calarogenic hormones accompanies decrease in Basal Metabolic rate, voluntary feed intake, muscular and ruminal activity and changes in release of gonadotrophic hormone and thus reduced sexual activity. Ability of animals to maintain core temperature in physiological adaptability and the ability to maintain production/reproduction/growth rates in productive adaptability. These two are often at variance.

Thus selection of traits of physiological adaptability is often incompatible with improvement of production and consequently they are undesirable. Mere reproductive opportunism is generally short lived, if the adaptive ness of the organism is not maintained and almost invariably proves self-limiting. This is not the case with the Ongoles. Long range fitness of ongole cattle population depends on adaptation, through the stability, variability and the rate of environmental changes helped through domestication by the farmers as they are treated as family pets. Selection of Ongoles, which attain homeothermy mostly by heat loss mechanism without resorting to reducing the heat production would be those of choice from economic view point.

Soil pH:
No larger breeds of livestock were ever bred in acid pH soils. The soil pH being 7.2 in tract most favorable for legumes. So it increased muscle protein and skeletal size. Cattle in acid pH soils are small in size and are shade lovers.

Feeding:
The fodder crops, grasses and trees that supported the breed for centuries need to be enlightened. The fodder crops either grain or crops or crop residues available from sorghum, zeamays, crotalaria, macrotylma, vigna, cicer, pennisestum, sataria, oryza, kollaganjeru, fodder trees like acacia, azaridachta and fiscus are also used to shade trees. The fodder grasses that were grown naturally on rivers and rivulets banks, private grazing lands and common grazing lands include andropogan, iseilema, indigofera grasses species has maintained this breed for centuries. After formation of ayacut the Ongole cattle need to go to forest for grazing from June/July and return only after December/January, surviving predation and theft later attending to threshing operations of cereals. The migration of population from rural to urban areas, changes in society and pressure on land working against the interest of Ongole cattle, since they are located specific the available poor, scanty, sparse, and seasonal fodders which are low in protein and high in fiber need to be improved by inter-cultivation of legumes, intercropping, chaffing, treatment by way of extensive use of agro industrial bye products should be extensively used.

Characters associated with self-reliance:
• Enduring and estimable.
• Docile but alert.
• Intelligent and respond well for treatment if handled with love, skill, and care.
• Athletic in nature, with majestic appearance, head high, square walk and quick step, giving noble but heavy look.
• Try to move in groups to avoid predators.
• Highest ability to self-preserve and longevity is more than 15 years.
• Long bodied with big skeletal size and with ability to gain weight more perceptible after 2 years of age and massive.
• Lack in heart girth due to preponderance of draught type.
• Vitality and Vigor unique in young ones.
• Outstanding Mothering ability.
• Highest combining ability for cross breeding and formation of new breeds.
• Highest rustling ability to walk long distances in search of food and water and to pace with the herds.
• Marked tolerance to direct sunlight and radiation.
• Loose skin, hump, dewlap and other appendages contribute 12% excess surface area per unit weight over Taurus breeds.
• Outward disposition of horns helps defend from predators.
• Have highest coetaneous and lowest respiratory heat loss as such panting is less.
• Have highest multiple ability of adaptation for climate fodder and pathogens.
• Sensitiveness, intelligence and shyness make them more independent and less dependent on man, more energetic and resourceful.
• Reproductive uniqueness, higher reproduction rates and more number of lifetime calves high calf survival rates.
• Calving ease and minimum dystokias, with more birth weight of cattle.

Skin:
The skin covers body and provides protection literally a thermostat for the body. Heat flows from core organs like brain, heart, liver, spleen, intestines, and lungs to surface of body and from surface it should be sent out to environment through radiation, conduction and convection. Skin contains sebascous and sweat glands, muscles, roots of hair, fallacies and capillaries. When all nine blacks are present, the whole skin is pigmented and black. The presence of subcutaneous “panniculus carnosis” muscle helps in repelling vectors through twitching. When sweating/respiratory heat loss is 6 in zebus where as it is only 4 in Taurus breeds. Water resorption in kidney and colon is double that of the Taurus. Though skin studies were done in 10 indigenous breeds in India no work was done in Ongoles, but the skin type may lie between type 1 and type 3. Skin being highly vascular more heat is sent out as sensible heat loss or diffusion heat loss. In Ongoles evaporative and sweat contribute much heat loss.

Ongoles cattle skin secretes zebum, which filters ultraviolet rays. Due to high vascular they bleed profusely if punctured and wounds will heal quickly. Being black in color the 15% of solar heat allowed by coat to pass on is at once absorbed by the skin. Our farmers are so intelligent that umbrellas are black in color but in villages they used to stitch white cloth over the black cloth on the analogy of the structure of Ongole cattle i.e. white external coat and black underlying skin. During evolutionary process the body temperature has been increased, at the same time tolerance for that temperature failed to take place in male gametes. This was circumvented through effective thermoregulation mechanism of tests.

Reference:
Joshi, N.R., Phillips, R.W. (1953) Zebu Cattle of India and Pakistan, FAO Agriculture Studies No. 19, Publ. By FAO, Rome, 256 pp.
Dr. A. Madhusudhana, 74,Veterinary Colony, Ring Road, VIJAYAWADA, ANDHRA PRADESH, INDIA, PIN 520008, Phone 91866-453707

Read more.....

All About of Brahman

Brahman cattle, breed of beef cattle developed in the S United States in the early 1900s by combining several breeds or strains of zebu cattle of India. Brahman cattle have a very distinctive appearance with a hump over the shoulders, loose skin under the throat, and large drooping ears; they are generally light to medium gray in color. The breed has contributed to beef production through cross breeding with European cattle, e.g., Hereford and Angus. These hybrid cattle exhibit hybrid vigor, i.e., they generally exhibit
growth and reproductive rates greater than either of the parental types. Several new breeds of cattle have been developed in the United States based on Brahman-European crosses, some important ones being the Beefmaster (Brahman combined with Shorthorn cattle and Hereford cattle), Brangus (Brahman combined with Angus cattle), Charbray (Brahman combined with Charolais cattle), and Santa Gertrudis (Brahman combined with Shorthorn). Brahman cattle have been extensively exported.

I believe the most common question is what is the hump? The hump is a muscle and it makes a very nice roast. There is lots of marbling (specks of fat) in it and that makes it very flavorful. Are Brahman cattle beef or dairy? They are a beef animal. Do they make good crosses? Yes they make excellent crosses. They will cross well with all breeds of cattle. There are many resistared breeds that are made up from crosses such as Brangus, Beefmaster, Brahmousin, Charbray, Simbra, Santa Gertrudis, Braford, just to list a few. Are Brahmans mean? No they are a very docile animal, but as any other animal they will be mean if they are treated mean. Yes Brahmans are used as rodeo bulls but that doesn't mean they are mean. Are all Brahmans gray? No there are red ones and some grays so dark they look black.

HEAT TOLLERANCE Without question, Brahman's ability to withstand high temperatures make it the ideal beef animal for hot humid areas. This ability to withstand high, humid temperatures can be traced to a number of breed characteristics. These include short, thick and glossy hair to reflect much of the sun's rays. There skin is dark pigmented and loose, and the breed's sweating ability contributes materially to heat tolerance. Brahmans also produce less body heat in warm weather than their European counterparts waste heat in produced from feed at the expense of growth and milk production.

WITHSTANDING LOW TEMPERATURES While Brahmans have superb tolerance to heat, they also have the ability to perform in colder temperatures. In colder weather, the skin of Brahmans contract, increasing the thickness of the hide and density of hair, which becomes long and coarse and underlaid by a dense, fur-like undercoat.
DISEASE RESISTANCE Closely associated with the ability of the Brahman to withstand hot temperatures is its great resistance to diseases. Brahmans are virtually free of eye cancer because of dark pigmentation around the eyes. Brahmans also rarely ever contract costly pinkeye.

INSECT RESISTANCE Brahmans possess natural resistance to insects common to cattle. Their light color attracts fewer insects, and a short thick hair coat prevents penetration by many insects. Also, Brahmans have a well-developed subcutaneous muscle layer, enabling theme to dislodge many insects by shaking the skin.
RESISTANCE TO BLOATING Because they feed lightly and frequently, or from other causes, Brahmans are highly resistant to bloat, Death losses rarely occur from this cause.

LONGEVITY When considered on the basis of breed averages, the Brahman is unequalled in length of productive life, generally producing up to 50 % longer then European breeds as long as 15 or 20 years. Simple computations will show that a cow that stays in production 50 % longer will produce 60 % more offspring during her lifetime.

REPODUCTIVE PERFORMANCE An animals' ability to reproduce regularly a big, growthy calf every year from cows and the ability to breed a normal number of cows in a given breeding season for bulls is a mark of environmental adaptation.
MOTHERING ABILITY Brahman and Brahman hybrid cows have one of the strongest mothering instinct of any breed - they stay with their calves and protect them from eminent danger. Being serious and inquisitive, they are instantly aware of all within their surroundings, They readily recognize and avoid which promises harm and seek that which is rewarding. Brahman cows produce bountiful quantities of milk for their calves,pouring much of their energy into their offspring. Average milk yields of Brahman and Brahman hybrid cows is about one-fourth more than that from other breed cows - research gives Brahmans a 22 % advantage in early lactation and a 44 $ advantage during late lactation. Butterfat content is high 5.17 % in one study with an accompanying high level of proteins.

CALVING EASE Brahman females characteristically produces a small calf at birth, weighting only 60 to 65 pounds. Because of this and the large pelvic area and the absence of disproportionate head and shoulders at birth, calving problems in the breed are virtually non-existent. F-1 Brahman hybrid females posses most to this capacity to calve with ease.

RUSTLING ABILITY Because of there hardiness, thriftiness, and rustling ability, Brahmans surpass all other breeds under c conditions of poor range and drought. They show a greater tendency to feed on shrubs, leaves of trees, vines and other course vegetation than any other breed. Brahmans havethe ability to walk and cover great areas of rough terrain with out fatigue or lameness. They possess sound bone, ample length of leg and freedom of movement of the leg and thigh.

CROSSBREEDING Brahman has earned it reputation as"Crossbreeding's Common Denominator" Every major breed developed created in the United States contains Brahman as a base breed. Hybrid vigor is greatest when unrelated breeds are used. Brahman, a Bos Indicus or humped type of cattle, giving unrelated to the Bos Taurus or non-humped cattle, giving Brahman cattle a distinct advantage in hybrid vigor- growth, feed efficiency and conversion, and lean beef production. As all segments of the beef industry turn to lager framed faster-growing calves, the Brahman hybrid with the "bit of ear" is in the forefront as being the type of animal sought by the feeder and subsequently the packer.

http://www.infoplease.com/
http://members.tripod.com/~Rocking_BS_Ranch


Read more.....