Minggu, 15 Februari 2009

Pemuliaan Ternak (Genetika dalam Peternakan)

Sejalan dengan tingkat kemajuan pembangunan maka kebutuhan manusia terus meningkat. Pemenuhan kebutuhan pangan meliputi karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin dan hormon. Penelitian dan penerapan hasil penelitian di berbagai bidang ilmu dan teknologi terus diupayakan dan dikembangkan agar pemenuhan kebutuhan terwujud.
Di pihak lain manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya berusaha memanfaatkan segala sistem yang ada di sekitarnya. Salah satu sistem yang sangat penting adalah Sistem Bio-Sosio-Ekonomi yang (Download dalam bentuk file, Click Here)bernama peternakan.
Sistem ini sangat penting karena menghasilkan bahan pangan manusia yang bergizi tinggi, yaitu protein hewani. Oleh karena itu melalui peternakan manusia tidak henti-hentinya mengusahakan peningkatan produksi ternak yang berupa protein hewani, baik berupa daging, susu dan telur. Usaha-usaha tersebut antara lain melalui penerapan ilmu dan teknologi beternak yang disebut pemuliaan ternak. Setelah komputer diciptakan maka perkembangan dan penerapan pemuliaan ternak makin maju dengan pesat.

Komputer adalah suatu alat elektronika yang dikembangkan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan dan memecahkan persoalan yang dihadapi oleh manusia dalam mencoba mengikuti perkembangan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Komputer mempunyai bagian utama perangkat keras dan perangkat lunak yang berupa paket program, namun yang paling penting adalah ketrampilan manusia, pemakai komputer tersebut. Karena alat ciptaan manusia maka komputer dibuat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia yang makin lama semakin meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya. Oleh karena itu komputer harus dapat memenuhi syarat dari sudut kemampuan menyelesaikan pekerjaan ditinjau dari kuantitas dan kualitasnya.

Pemanfaatan sistem komputer di berbagai bidang kehidupan manusia sudah sejak lama dimulai. Pemanfaatan tersebut antara lain untuk, memecahkan masalah, analisis data dan simulasi. Khusus di bidang pemuliaan ternak manfaatan komputer di gunakan dalam program pencatatan produksi, penaksir hasil seleksi, analisis data untuk penaksiran parameter genetik untuk tujuan peningkatan produksi melalui peningkatan mutu genetik.
Bab Pendahuluan akan disampaikan dengan sistematik, 1) Peranan dan Pemanfaatan Pemuliaan Ternak; 2) Pemanfaatan Sistem Komputer di bidang Pemuliaan Ternak; 3) Harapan untuk Masa Depan.

Peranan dan Manfaat Pemuliaan Ternak

Sejarah Singkat Perkembangan Pemuliaan Ternak
Dalam berbagai kepustakaan dapat ditelusuri bahwa pemuliaan ternak dikembangkan mulai tahun 1760 dan dilaksanakan oleh Robert Bakewell di Inggris. Pengembangan dimulai dengan ternak kuda, domba dan sapi. Keberhasilannya terletak pada tiga hal, yaitu pertama, dia telah menetapkan sasaran yang dia inginkan misal mendapatkan sapi potong yang berbentuk pendek dan cepat dewasa yang waktu itu belum ada. Kedua, dia tidak menjual ternak jantan tetapi meminjamkannya kepada peternak lain dan peminjam mengembalikannya apabila pejantan tersebut mewariskan mutu genetik yang baik. Ketiga, membiakkan ternak yang baik dengan yang baik, tanpa menghiraukan hubungan kekerabatan yang ada. Sebagai akibatnya sering dilak-sanakan perkawinan silang dalam yakni perkawinan antar saudara. Silang dalam tersebut mengarah dihasilkannya trah yang relatif murni, meskipun tanpa diikuti pencatatan.
Metode Backewell ditiru secara luas dan mulai ditetapkan syarat-syarat trah. Trah yang relatip murni tersebut dibawa ke Amerika, kemudian dibiakkan murni dan disilangkan dengan rumpun lokal.
Asosiasi trah mulai dibentuk pada periode 1870 - 1900, mempunyai andil besar dalam pengembangan pemuliaan ternak atau perbaikan genetik ternak. Periode ini ditandai dengan pengembangan buku registrasi untuk menjamin kemurnian trah diikuti dengan semangat kompetitif oleh berbagai asosiasi trah. Terjadilah penyisihan ternak berdasar kemurnian trah sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh asosiasi meskipun belum berdasar pada keunggulan genetik. Namun tetap diakui bahwa sumbangan asosiasi tersebut sangat besar terhadap perkembangan peternakan di Amerika.
Periode setelah asosiasi trah adalah pengembangan inseminasi buatan (IB). Spallanzani pada tahun 1780 melaksanakan IB pada anjing, kemudian pada 1899 di Rusia dikembangkan pada ternak dan mulai 1930 di coba di Eropa. Inseminasi buatan pada sapi perah di mulai 1938 oleh Perry di New Jersey Dairy Extension Service. Ide lB menyebar ibarat seganas api dan banyak dibentuk organisasi atau kelompok IB (Warwick dan Legates, 1979)
Periode setelah 1971 keberhasilan IB mulai dilaporkan oleh Departemen Pertanian Amerika. Dilaporkan bahwa IB telah digunakan pada 8643.089 ekor sapi, 3620 pejantan digunakan untuk menginseminasi rata-rata 3620 ekor sapi betina (7 juta lebih sapi perah dan 1 juta lebih sapi pedaging). Pada tahun 1971 penggunaan semen beku mulai didaftar. Sampai 1987 Program lB telah dilaporkan dapat membantu meningkatkan efektivitas penerapan pemuliaan ternak dengan seleksi dan sistem perkawinan.

Pengertian Pemuliaan Ternak
Berdasar denotasi dan konotasi ilmu, pemuliaan ternak adalah suatu cabang ilmu biologi, genetika terapan dan metode untuk peningkatan atau perbaikan genetik ternak. Pemuliaan ternak diartikan sebagai suatu teknologi beternak yang digunakan untuk meningkatkan mutu genetik. Mutu genetik adalah kemampuan warisan yang berasal dari tetua dan moyang individu. Kemampuan ini akan dimunculkan setelah bekerja sama dengan pengaruh faktor lingkungan di tempat ternak tersebut dipelihara.

Pemunculannya disebut performans atau sehari-hari disebut sebagai produksi dan reproduksi ternak, contohnya antara lain produksi susu, telur, daging, berat lahir, pertambahan berat badan, berat sapih dan jumlah anak sepelahiran.
Kemampuan genetik ternak, dapat juga disebut kemampuan bereproduksi dan berproduksi, tidak dapat dilihat, tetapi dapat ditaksir. Prinsip dasar pemuliaan ternak mengajarkan bahwa kemampuan genetik di wariskan dari tetua ke anak, secara acak. Diartikan bahwa tidak ada dua anak, apa lagi lebih yang memiliki kemampuan yang persis sama kecuali pada kasus monozygote identical twin (dua anak berasal dari satu sel telur). Kemampuan tersebut selanjutnya akan dimunculkan dalam bentuk produksi yang terukur di bawah faktor lingkungan yang tertentu.

Kemampuan genetik tersebut secara sederhana dapat digambarkan sebagai lingkaran kecil yang terletak di dalam lingkaran yang lebih besar. Lingkaran yang lebih besar adalah gambaran pemunculan kemampuan genetik di bawah lingkungan seluas daerah antara dua lingkaran tersebut. Apabila lingkaran lingkungan kita perbesar pemunculan kemampuan genetik tidak akan dapat melampaui batas lingkaran besar. Hal ini disebabkan pemunculan kemampuan genetik itu ada batasnya, yang dikontrol oleh banyak faktor. Setiap individu memiliki gambaran lingkaran kecil dan besar yang berbeda. Kalau faktor kontrol tersebut tidak ada maka seekor kelinci akan dapat dibesarkan menjadi seekor sapi. Tidak demikian yang dimaksud dengan kemampuan genetik. Kalau lingkaran lingkaràn kita kecilkan, maka pemunculan kemampuan genetik akan ikut mengecil.

Pada penerapan pemuliaan ternak hal yang pertama dikatakan pemborosan sedang peristiwa kedua dikatakan kebodohan. Masalah yang dihadapi dalam penerapan pemuliaan ternak, bagaimana dapat mengurangi pemborosan dan tidak menjalankan kebodohan. Masalah selanjutnya, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan untuk memunculkan kemampuan genetik tersebut ?
Apa yang dapat dilakukan ada dua hal, yakni mengontrol pewarisan kemampuan genetik melalui seleksi dan sistem perkawinan. Selanjutnya diikuti dengan penyediaan faktor lingkungan yang sesuai sampai tingkat yang sebaik mungkin dan masih menguntungkan secara ekonomis. Apa yang tidak mungkin dilakukan adalah memunculkan kemampuan genetik di luar batas yang dimungkinkan.

Pemuliaan ternak dapat ditinjau sebagai suatu metode, maka dalam mencapai tujuan memerlukan unsur-unsur pengamatan, percobaan, definisi, penggolongan, pengukuran, generalisasi, serta tindakan lainnya. Selanjutnya metode tersebut juga membutuhkan langkah-langkah penentuan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, penurunan kesimpulan dan pengujian hasil (Gie, 1984). Oleh karena itu pengembangan pemuliaan ternak memerlukan penelitian dan penerapan hasil penelitian yang berkelanjutan. Siapapun yang tertarik akan meningkatkan peranan dan pemanfaatan pemuliaan ternak harus mulai dengan mendalami dasar dan prinsip teori genetika terapan dan melanjutkan dengan penelitian serta penerapan hasil penelitiannya (Adjisoedarmo, 1977 –1991)

Peranan Pemuliaan Ternak
Dua tugas atau peran utama pemuliaan ternak di bidang genetika adalah untuk mengetahui kemampuan genetik ternak dengan menggunakan catatan produksi. Kedua, meningkatkan potensi efisiensi gunakan seleksi dan sistem perkawinan. Peran tersebut tidak akan dapat berjalan sendirinya tanpa di dahului atau secara bersamaan usaha perbaikan faktor lingkungan di tempat ternak dipelihara.
Peranan yang menonjol pemuliaan ternak dalam penyusunan kombinasi genetik adalah peningkatan rerata produksi populasi dan generasi ke generasi berikutnya. Peningkatan tersebut misal berupa peningkatan produksi susu per laktasi, kadar lemak susu, berat lahir, pertambahan berat badan, berat sapih, berat umur tertentu, jumlah anak sepelahiran, berat karkas, kualitas daging, berat wol, diameter wol, ketebalan lemak, produksi telur, daya tetas serta ketahanan terhadap penyakit.
Berdasar pengembangan dan penerapan pemuliaan ternak maka peningkatan produksi ternak dilaksanakan lewat tiga strategi dan bermacam taktik. Tiga strategi tersebut adalah peningkatan populasi, peningkatan produksi per individu atau rataan populasi dan stratifikasi penggunaan tanah yang meliputi ekstensifikasi, intensifikasi dan diversifikasi vertikal dan horizontal, serta rehabili tasi. Berbagai macam taktik digunakan, antara lain perbaikan tatalaksana, program pencatatan produksi, penggunaan perkawinan silang, kawin tatar, penggunaan metode seleksi, teknik inseminasi buatan, penyerempakan birahi, alih janin dan yang paling mutakhir adalah rekayasa genetika.

Ternak di daerah tropik berbeda dengan di daerah subtropik, umumnya berbentuk lebih kecil dan produksinya lebih rendah (Mason dan Buvanendran, 1982). Pertanyaan yang dapat diajukan adalah - Apakah perbedaan tersebut karena faktor iklim apakah keadaan tersebut dapat diubah dengan pergantian ternak, atau pergantian cara pemeliharaan ?. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut maka diperlukan bantuan pemuliaan ternak lewat penelitian dan penerapan hasilnya.
Penelitian pemuliaan ternak khususnya seleksi, pada dasarnya mempunyai tiga tujuan. Pertama, untuk menguji teori seleksi, kedua mengumpulkan data parameter genetik, respons fisiologik yang selanjutnya digunakan untuk me nyempurnakan metode seleksi. Ketiga, digunakan untuk membandingkan kriteria seleksi atau sistem perkawinan yang digunakan (Adjisoedarmo, 1976; Adjisoedarmo, 1989).
Contoh penerapan hasil penelitian dari Fakultas Peternakan Unsoed yang telah disebar luaskan penggunaannya di pedesaan adalah Kalender Reproduski domba dan kambing (Adjisoedarmo dan Amsar , 1983). Kalender ini sudah digunakan di 300 kelompok peternak domba dan kambing PPWP (Program Pengembangan Wilayah Propinsi) Jawa Tengah, yang tersebar di 145 desa, di 40 Kecamatan dan 7 Kabupaten (Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora dan Grobogan) dan telah disebarkan juga di empat kabupaten di Propinsi Bengkulu (Adjisoedarmo, 1989; Padmowiyoto, 1988). Hasil penelitian metode pengujian pejantan kambing untuk membandingkan keunggulan genetiknya, di bawah kondisi pedesaan telah dilaporkan (Adjisoedarmo, 1991).

Manfaat Pemuliaan Ternak
Pemanfaatan pemuliaan ternak dapat memberikan gambaran tingkat produksi yang diperoleh. Di Amerika, pada waktu dilaporkan bahwa rata-rata produksi susu per ekor sebesar 4500 kg per tahun, produksi tersebut ditaksir masih berada 500 – 1000 kg di bawah kemampuan berproduksi yang dapat dimunculkan di bawah kondisi lingkungan yang lebih baik, masih jauh dari produksi di bawah kondisi lingkungan yang terbaik (Warwick dan Legates, 1979). Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemuliaan ternak memberikan informasi apa yang masih dapat dan perlu dilakukan untuk meningatkan produksi.

Pemunculan kemampuan produksi secara maksimum atau tidak bergantung pada para peternak, lembaga, organisasi dan pemerintah. Keputusan yang diambil harus ditinjau dari berbagai faktor, terutama faktor keuntungan yang akan diperoleh peternak. Kalau produksi ditingkatkan menjadi maksimal tetapi harga pasar rendah maka akan merugikan (contoh. kasus pembuangan susu, pemusnahan ribuan domba di Australia ).

Oleh karena itu perlu dicatat bahwa tidak akan muncul keajaiban dalam penerapan pemuliaan ternak (Warwick dkk., 1983) tetapi lebih cenderung merupakan tampilan dan harapan serta kekecewaan (Lush, 1963). Pemuliaan ternak dapat memberikan informasi apa yang mungkin dapat dilakukan dan hasil yang kemungkinan besar dapat diperoleh. Hasil yang muncul di lapangan itulah yang benar dan merupakan informasi dan materi yang dapat kita gunakan untuk menentukan langkah berikutnya. Namun demikian yang sudah dapat dibuktikan kepastiannya adalah bahwa peningkatan genetik hasil penerapan pemuliaan ternak tidak akan hilang selama penerapan seleksi dan sistem perkawinan tidak dihentikan.

Metode Seleksi
Metode seleksi dan penggunaannya untuk meningkatkan produksi, telah banyak digunakan untuk ternak domba, yang mungkin dapat diadopsi di Indonesia.
Seleksi dibedakan untuk antar trah atau rumpun dan dalam bangsa. Seleksi dalam bangsa dibedakan untuk satu karakteristik dan banyak karakteristik. Untuk meningkatkan satu karakteristik digunakan seleksi individu dan famili. Untuk perbaikan lebih dan satu karakteristik digunakan metode 1) seleksi berurutan (Tandem selection), 2) seleksi penyisihan bebas bertingkat (Independent Culling Level) dan 3) seleksi dengan indeks (Warwick dkk., 1983; Adjisoedarmo, 1989).

Sistem perkawinan
Sistem perkawinan yang paling banyak digunakan dalam penerapan pemuliaan ternak adalah perkawinan silang. Alasan menggunakan sistem ini ialah karena dapat digunakan untuk menghasilkan efek heterosis. Kalau efek ini muncul maka produksi rata-rata anak akan melebihi produksi rata-rata tetuanya. Heterosis dapat menyebabkan ternak silangan memiliki produksi 1-17% di atas produksi rata-rata tetuanya (Lasley, 1972). Sistem ini sudah lama di gunakan di Indonesia sehingga sekarang kita memiliki sapi P0, domba Sufeg, kambing PE, Jawa Randu, Kelinci Rexlok, dan hasil lain yang belum berhasil diteliti.

Apabila perbaikan genetik telah diperoleh, masalah yang dihadapi adalah bagaimana mempertahankan dan meningkatkan hasil perbaikan tersebut. Mereka yang telah meyakini peranan dan kemanfaatan pemuliaan ternak akan meneruskan usaha perbaikan genetik karena akhirnya waktu tenaga dan dana yang telah dikeluarkan akan diganti dengan keuntungan hasil penjualan produksi yang makin meningkat. Beberapa contoh keberhasilan pada ternak Domba dan Sapi diuraikan di bawah ini.

Domba
Sebagai contoh misal perkembangan peternakan domba di New Zealand. Pada tahun 1948 mulai dilakukan penelitian menggunakan Domba Romney New Zealand yang memiliki rataan cempe sepelahiran per tahun 1,13 ekor. Pada tahun 1972 rataan tersebut berhasil diperbaiki menjadi 1,75 ekor cempe sepelahiran per tahun (176 cempe per 100 ekor induk yg dikawinkan ). Dilaporkan pula bahwa penerapan pemuliaan ternak menghasilkan domba Romney New Zealand yang memiliki berat lahir rata-rata 4.3 - 4,9 kg dan berat sapih umur 4-5 bulan adalah 25 - 30 kg untuk kelahiran tunggal, 3,9 -4,5 kg dan 23 kg untuk cempe kelahiran ganda ( Dalton dan Rae, 1978).
Domba ekor tipis di Jawa Tengah yang belum pernah merasakan manfaat penerapan pemuliaan ternak, dibawah kondisi penelitian mampu menghasilkan 1,6 ekor cempe per induk per kelahiran dan berat 16 - 17 kg pada umur penyapihan 100 hari (Adjisoedarmo, 1977; Adjisoedarmo,1979).

Sapi Perah
Manfaat penerapan pemuliaan ternak di negara subtropik pada sapi perah telah dilaporkan di Denmark, Swedia, Firlandia dan Norwegia dalam periode 1960 - 1972. Manfaat yang diperoleh tersebut berupa kenaikan produksi susu dan 3000 kg pada 1950 menjadi 5500 kg di tahun 1972. Hasil ini masih jauh di atas yang dapat dicapai di Indonesia, seperti. yang dilaporkan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sapi perah di BPT Baturaden, Jawa Tengah, dari tahun 1979 sampai 1984 dilaporkan mencapai produksi rata-rata per lataktasi (305 hari 2 x ME) 2492 - 2945 liter atau 8 -9,7 liter per hari(Anonimus, 1984).
Hasil penggunaan frozen semen pejantan yang telah diuji dengan uji keturunan dilaporkan dapat menghasilkan induk bibit yang berproduksi di atas 4000-liter per laktasi di daerah Jawa Barat (Anonimus,1986). Hasil ini memberikan petunjuk bahwa IB merupakan tehnik untuk menyebarkan mutu genetik unggul. Sedangkan mutu genetik yang unggul tersebut diwariskan sehingga keturunan pejantan tersebut memiliki mutu genetik rata-rata lebih tinggi dibanding sebelum penggunaan pejantan unggul tersebut.

Penerapan seleksi dan sistem perkawinan untuk ternak ruminansia di daerah tropik telah diuraikan oleh Mason dan Buvanendran (1982) dan diterbitkan oleh FAO. Penerapan ini meliputi untuk ternak sapi perah, potong, domba dan kambing. Secara teoritik kenaikan produksi susu dapat dinaikkan sebesar dua persen per tahun.

Sapi Pedaging

Contoh manfaat penerapan pemuliaan ternak pada sapi pedaging telah diuraikan oleh Adjisoedarmo (1976). Seleksi untuk sapi potong mempunyai dua tujuan pokok. Pertama memilih pejantan untuk menghasilkan keturunan yang langsung dijual atau dipotong dan kedua memilih pejantan untuk menghasilkan keturunan yang akan dipakai sebagai bibit. Untuk tujuan pertama peningkatan mutu genetik didasarkan pada laju pertumbuhan harian rata-rata (0,3 - 1 k~ per ban).

Jenjang keunggulan trah sapi (diantara 280 trah sapi di dunia), berdasar kriteria pertambahan berat badan dan penggunaannya dalam perkawinan silang telah dilaporkan Preston (1973), berturut-turut, dari tinggi ke rendah, Charolais, Simmental, German Gelbief. Rogrnanola, Marchigiana, Chianina, Lomousin, Blond d’aquitame, Mame Anjou, Brown Swiss, Friesien, South Devon, Santa Gretudis, Danish Red, Devon, Brahman, Hereford, Angus, Shorton.
Pemerintah Indonesia mulai Pelita II telah berketetapan mengadakan kawin tatar dengan American Brahaman. Didukung dengan pengembangan teknik IB, maka hasilnya telah dapat dirasakan terutama oleh peternak di Jawa Tengah. Angka tinggi domba, lingkar dada dan panjang badan pedet hasil persilangan P0 dengan American Brahman, yang dilaporkan Munadi (1975) dan Kabupaten Rembang dengan mudah sekarang dapat dilampaui(Adjisoedarmo, 1990a).

Produktifitas sapi Ongole dan persilangannya telah dilaporkan Hardjo subroto (1988). Dilaporkan bahwa pertambahan berat harian Brahman x P0 dan Ongole x P0 pada tingkat pra sapih adalah 0,64 kg/hr dan 0,62 kg/hr sedangkan pada lepas sapih 0,25 kg dan 0,25 kg/hr.
Gambaran mengenai mutu genetik sapi Bali telah dilaporkan oleh Martoyo (1988). Dilaporkan bahwa dalam segi ketahanan penyakit khas sapi Bali diperkirakan terdapat perbedaan genetik yang cukup besar. Peningkatan mutu genetik serta pelestarian sapi Bali perlu mendapat perhatian terus-menerus.

Keberhasilan penerapan pemuliaan juga dapat diukur dengan munculnya trah ternak, sapi perah, sapi pedaging, domba, babi dan ayam ras serta kelinci. Trah tertentu tersebut mampu beradaptasi di bawah kondisi lingkungan tertentu baik iklim sub tropik dan tropik serta mampu berproduksi secara efisien. Trah Sapi perah yang terkenal antara lain Friesien, Jersey, Australian Milking Zebu dll; trah sapi pedaging antara lain Angus, Heford, Simental, Charolais, Brahman; seratus lebih trah domba, berpuluh trah babi, dan kelinci. Trah unggul dan baru dari negeri asalnya kemudian disebar luaskan ke negara-negera yang berusaha membangun peternakan dengan penggunakan materi genetik import.Importasi dapat berupa ternak atau berupa mani beku, atau embrio beku.Dalam buku ajar yang ditulis Rice tahun 1926 dinyatakan bahwa Breeding is an art to be leamed only by practice, but knowledge of principles supplies the only firm foundation for its practice. Superior animals will be more numerous when breeders know why as well as how” ( Warwick dan Legates, 1979).

Berdasar uraian tersebut maka peran pemuliaan ternak dalam pembangunan peternakan merupakan peran yang mendasar, karena menyangkut sumber genetik dan pewarisan, perbaikannya, penyebarannya, pengukuran hasilnya, dan pengujian hasilnya. Apabila peran tersebut berjalan dengan sempurna maka pengujian ternak akan memberi mánfaat berupa produk ternak yang berkualitas seperti yang dipersyaratkan manusia sesuai dengan perkembangan kualitas hidupnya dan juga berkecukupan dalam jumlahnya. Secara sederhana pemuliaan ternak akan memberi manfaat dalam bentuk meningkatkan gizi manusia khususnya protein hewani.

Banyak bukti telah dilaporkan bahwa dengan pemuliaan ternak maka produk ternak dapat dilipat gandakan. Warwick dan Legate (1982) melaporkan
bahwa produksi susu dapat dilipat duakan, produksi daging ditingkatkan 50%, produksi wol lipat empat kali.


Pemanfaatan Sistem Komputer di Bidang Pemuliaan Ternak

Komputer adalah suatu alat elektronik, batasan lebih lengkap yang diberikan oleh Malone (1983) adalah -Computers are automatic electronic machme that solves complicated problems with great speed in just one second, computers can do a million logical operations-.Pada 1642 Blaise Pascal membuat mechanical computer yang pertama, pada 1882 diciptakan cash register, pada tahun 1940 mulai dikembangkan Electronic Computer, - yang dibuat pertama kali oleh Eckert dan Mauchley (Anonimus, 1974). Pada waktu itu kemudian dikembangkan cabang ilmu baru yang disebut Electronic Data Processing, EDP (Malone, 1983).

Komputer pada 1950 sudah menggunakan transistor dan IC (Integrated Circuit) sehingga komputer dapat bekerja lebih cepat. Komputer modern dapat menghitung dengan kecepatan ¼ kecepatan cahaya (299728 km/detik). Komputer dapat mengerjakan pekerjaan dalam satu jam sebanding yang dikerjakan oleh ribuan sarjana dalam seumur hidupnya.

Komputer itu bodoh tidak dapat berfikir, dapat mengerjakan sesuatu setelah diberi tahu, kapan mengerjakannya dan bagaimana cara mengerjakannya. Kumpulan perintah yang dapat memberi tahu tersebut disebut program atau software. Komputer dapat dinyalakan tetapi tanpa program tidak dapat bekerja.

Perangkat keras komputer terdiri dan mesin, kawat, chip silicon, dan bagian lain dalam komputer. Berbagai macam komputer yang dibuat kemampuan kerjanya berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada kemampuan menyimpan data dan kecepatan bekerja. Pada masa sekarang telah dikenal komputer mikro, mini, midi, besar dan super besar. Pembagian menurut generasinya dikenal: 1) generasi pertama, 2) kedua, dan 3) ketiga. Makin tiriggi generasinya makin kecil ukurannya ( Widodo, 1984).
Segala macam data dapat digunakan sebagai masukan. Data masukan dapat dimasukkan dengan berbagai cara, menggunakan piranti masukan, berupa keyboard, mouse atau bentuk lain. Data masukan selanjutnya oleh komputer diubah menjadi bahasa mesin komputer. Setelah komputer diperintah untuk menyelesaikan sesuatu pekerjaan maka data masukan akan diproses sesuai dengan perintah. Hasil yang diperoleh kemudian akan disimpan atau dicetak tergantung perintah pemakai komputer. Hasil dapat ditampilkan pada layar monitor atau diketik pada mesin cetak.
Program komputer ditulis menggunakan bahasa program, contohnya FORTRAN, PASCAL dan BASIC. Penulisan progam harus menurut aturan khusus bahasa program yang digunakan. Pembuatan program umumnya bertujuan untuk memecahkan persoalan.
Pemecahan persoalan dengan bantuan komputer dilaksanakan dalam beberapa tahap, 1) memformulasikan persoalan secara rinci, 2) menyusun metode penyelesaian persoalan secara bertahap (algorithma), 3) menyusun peta alir, atau peta penyelesaian secara grafik dan terakhir 4) menterjemahkan dalam bahasa program (Djojodiharjo, 1983).

Pemanfaatan sistem komputer dapat menggunakan herbagai macam bahasa program yakni, bahasa mesin, bahasa assembler dan bahasa kompailer. Bahasa mesin adalah bahasa yang primitif, instruksi ditulis dengan menggunakan tanda numerik. Bahasa mesin dimengerti oleh komputer tanpa perlu diterjemahkan lebih dahulu. Bahasa assembler ditulis menggunakan abjad dan tanda numerik, komputer mengerti setelah diterjemahkan ke dalam bahasa mesin. Bahasa kompailer ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris, dikombinasikan dengan titik koma dan operator matematik. Contoh bahasa kompailer adalah FORTRAN, COBOL, ALGOL, PASCAL dan BASIC. Komputer harus menterjemahkan lebih dahulu ke bahasa mesin untuk mengerti bahasa kompailer (Djojodihardjo, 1984).

Uraian singkat tersebut memberikan informasi bahwa sistem komputer dapat dimanfaatkan juga untuk memecahkan persoalan di bidang pemuliaan ternak.
Pemanfaatan sistem komputer di Amerika untuk bidang pertanian, secara nasional, mulai dikembangkan pada tahun 1970 oleh dua orang profesor dari Universitas Nebraska, sistem tersebut dikenal dengan nama AGNET (Agriculture Computer Network). AGNET merupakan alat manajemen untuk pertanian, diciptakan untuk keperluan petani dan peternak. AGNET memiliki jaringan sampai ke Pusat Penyuluhan Pertanian di country. Staf kantor tersebut dilatih mengoperasikan terminal yang dikontrol dari pusat AGNET di Negara Bagian. AGNET merupakan service-oriented computer center. Pada tahun 1983 dilaporkan memiliki 200 macam program untuk membantu membuat keputusan menejerial yang lebih baik untuk peningkatan manajemen finansial. Pada waktu itu diramalkan bahwa yang memanfaatkan sistem komputer akan dapat mempertahankan keuntungannya sampai tahun 1990.

Pemanfaatan sistem komputer melalui AGNET terutama untuk 1) Business Accountirig, 2) Herd Performance Reportirig, 3) Financial Management. Paket Program kelompok Livestock Production Models yang disediakan AGNET antara lain, BEEF (simulasi analisis ekonomi), COWCULL ( culling sapi perah), WEAN (uji kemampuan produksi berat sapih), CROSSBREED (evaluasi hasil persilangan), COWGAME ( simulasi genetik) (Hughes, 1983).
Penggunaan komputer dalam genetika dan pemuliaan ternak dapat dikelompokkan dalam empat kategori yaitu yang pertama untuk penyusunan rancangan penelitian sehingga diperoleh alternatif pencapaian tujuan, kedua untuk analisis data, ketiga untuk pemecahan masalah dalam formulasi matematik dan akhirnya yang keempat untuk simulasi model biologik (Secheinberg, 1968).
Selain itu adalah penggunaan dalam kaitannya dengan pengkajian seleksi yakni untuk tujuan penyelesaian masalah yang kompleks dan realistik mengenai pewarisan kuantitatif (Robertson, 1980). Sebagai contohnya adalah bahwa perhitungan indeks dapat dibantu dengan penggunaan program komputer yang disebut SELIND (Cuningham, 1970).

European Association for Animal Production (EEAP) telah melaporkan pemanfaatan sistem komputer dalam program pencatatan produksi di dua puluh
negara Eropa. Di dua belas negara diantaranya (Bulgaria, Cekoslowakia, Irlandia, Perancis, Finlandia, Inggris, Hunggaria, Islandia, Norwegia, Swedia, Spanyol dan Switserlandia) komputerisasi program pencatatan produksi dimanfaatkan untuk seleksi.
Program pencatatan produksi pada dasarnya adalah kegiatan rutin mencatat produksi. Pencatatan ini dilakukan menurut aturan tertentu. Aturan tersebut mengatur macam produksi yang harus dicatat, cara mencatat, waktu mencatat, blangko pencatatan dan pemanfaatan catatan produksi tersebut. Program pencatatan produksi merupakan kegiatan penting dalam penyediaan informasi untuk pengambilan keputusan yang berhubungan dengan efisiensi dan keuntungan usaha. Selain itu informasi tersebut juga sangat diperlukan untuk melaksanakan seleksi.

Simulasi pada akhir-akhir ini makin meningkat kegunaannya dalam pengembangan model di bidang pemuliaan ternak. Peningkatan ini mungkin disebabkan karena penyediaan sistem komputer makin mudah dan murah sedangkan kebutuhan pemecahan masalah dengan model semakin dibutuhkan, sehingga hasil simulasi makin banyak dilaporkan. Beberapa contoh hasil simulasi, untuk seleksi unggas dilaporkan Astuti (1978)-, untuk domba oleh Blackburn dan Cartwrigt (1987), untuk mengevaluasi hasil perkawinan silang pada ternak babi oleh NcLaren dkk., (1987), untuk seleksi domba di Indonesia khususnya di Jawa Tengah oleh Adjisoedarmo (1989), untuk menaksir variansi genetik oleh Werf dan Hoer (1990).
Berdasar perkembangan sistem komputer dan pemanfaatannya di bidang pemuliaan ternak, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan tersebut umumnya ditujukan untuk peningkatkan efisiensi reproduksi dan produksi. Peningkatan itu disebabkan karena pengambilan keputusan yang lebih cermat dan tepat.

Kecermatan dan ketepatan pengambilan. keputusan disebabkan karena informasi yang benar telah direkam dalam komputer. Informasi yang direkam pada umumnya adalah produksi ternak misal produksi susu, kadar lemak susu, berat lahir, pertambahan berat badan, dan berat sapih. Oleh karena itu pemanfaatan sistem komputer yang paling awal umumnya dalam program pencatatan produksi.


PENGGUNAAN STASTIKA DALAM PEMULIAAN TERNAK


Tujuan penggunaan statistika dapat dibagi menjadi dua pokok.
1.Menyingkat data menjadi hanya beberapa tetapan sederhana bentuknya dan
2.Menilai pentingnya peranan tetapan-tetapan tersebut.
Satistics is the branch of scientific method which deals with the data obtamed by countirig or measuring the properties of populations of natural phenomena.
Data yang diperoleh dapat berasal dari segala bidang yang sedang dipelajari. Dengan sendirinya data yang (akan) dibutuhkan dan akan dibicarakan adalah yang berasal dari bidang pemuliaan ternak.

Populasi adalah kumpulan item atau individu. Populasi mempunyai anggota tertentu atau terbatas dan kecil, dapat terbatas dan besar, atau dapat dengan jumlah tak terbatas. Oleh karena itu populasi dapat digunakan sebagai sumber pemilihan dan pengambilan contoh. Pengambilan contoh dilakukan karena tak dapat mengukur semua individu anggota populasi tersebut. Populasi didefinisikan oleh tetapan-tetapan yang berparameter. Dari contoh dapat ditentukan tetapan-tetapa-n yang disebut statistik.
Contoh yang diambil dari populasi yang sama akan menghasilkan statistik yang belum tentu sama nilainya dengan statistik yang dihasilkan dari contoh sebelumnya. Oleh karena nilai statistik suatu contoh dipengaruhi oleh kesalahan acak yang timbul karena proses pengambilan contoh.

Dalam garis besarnya analisis statistik perlu dilakukan karena asalan sebagai berikut.
1.Adanya variasi atau perbedaan diantara populasi dan contoh yang dipelajari.
2.Data yang dibutuhkan atau yang ada tidak sempurna
3.Tak mungkin dan tak efisien untuk mengumpulkan data dalam jumlah besar dengan harapan dapat menarik kesimpulan bebas dari kesalahan.
4.Statistik merupakan cara yang rasional dan cocok untuk membuat kesimpulan-kesimpulan secara induktif.
Dalam menggunakan statistika dalam pemuliaan ternak perlu sekali lagi diingat hal-hal sebagai berikut.
a.Cara mendefinisikan atau menerangkan suatu populasi, mengurangi jumlah data yang dibutuhkan sedemikian rupa sehingga mudah dimengerti dan dipergunakan.
b.Cara membandingkan dua kelompok data dengan menggunakan Uji Nyata (Test of Significance).
c.Bagaimana mendefinisikan atau menerangkan suatu populasi yang tersifat karena adanya lebih dari satu peragam ( misal berat wol dan kualitas wol pada domba).
d.Bagaimana membandingkan lebih dari dua kelompok.

Pengertian yang Diperlukan

1. Populasi
Dipakai untuk kumpulan obyek, individu atau sejumlah ketegori. Contoh populasi dalam pemuliaan ternak.
(1) Berat lahir anak domba di Baturraden.
(2) Nilai pemuliaan untuk karakteristik berat sapihan domba.
(3) Tiriggi dan berat domba umur tertentu.
(4) Data produksi harian per laktasi sekelompok sapi perah.
Perlu diperhatikan pentingnya spesifikasi pengukuran. Berat lahir domba lokal (1 kg) misalnya akan berbeda kalau yang dimaksudkan lokal di Baturaden dan lokal di lain daerah, daerah Priangan misalnya, maka berasal dari dua populasi yang berbeda.

2. Peubah (variabel)
Dipakai untuk menerangkan kuantitas, karakteristik atau pengukuran yang berbeda beda.
a. Mengenai punya tidaknya tanduk pada ternak dalam populasi ternak tertentu, disebut variabel yang diskrit (descrete). Contoh lain adalah jawaban ya dan tidak atas pertanyaan yang diajukan, jumlah cempe per induk yang mati atau hidup (merupakan hasil penghitungan ).
b. Berat wol adalah karakteristik yang dapat diukur sampai kecermatan tertentu dapat diukur misalnya 0,5 kg , 1 kg, 1,1 kg atau sampai satu angka dibelakang koma, dan dalam kg, Variabel yang bersifat demikian disebut variabel kontiriyu (Contiriues); variabel yang merupakan hasil pengukuran.

3. Contoh Acak (Random Sample)
Yang dimaksud dengan contoh acak adalah contoh yang diambil dari populasi dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap anggota dari populasi tersebut mempunyai peluang yang sama untuk dapat menjadi contoh. Dengan cara demikian contoh dapat dipakai untuk manaksir parameter populasi dengan kesalahan yang dapat dipertanggung jawabkan.

4. Sebaran Frekuensi
Hasil pengukuran terhadap beberapa karakteristik suatu kelompok individu akan berbeda beda. Langkah pertama yang harus dikerjakan adalah menyusunnya ke dalam beberapa golongan nilai. Dari hasil penyusunan tersebut akan diperoleh sebaran frekuensi.

PERBAIKAN MUTU GENETIK DAN VARIANSI GENETIK

Variasi kualitatif dan kuantitatif

Tujuan peningkatan mutu genetik adalah meningkatkan efisiensi reproduksi dan produksi dengan meningkatkan kemampuan reproduksi dan produksi setiap ternak di dalam populasi. Menaikkan nilai tengah populasi biasanya dinyatakan sebagai produksi per individu. Misal 15 l susu per ekor, 19 kg wol per ekor, 200 butir telur per ekor dst.

Menaikkan produk per individu tidak selalu sama dengan menaikkan keuntungan ekonomis. Keadaan demikian disebabkan karena menaikkan produksi biasanya diikuti dengan kenaikan ongkos produksi. Diperoleh banyak bukti bahwa individu yang lebih produktif biasanya lebih efisien dalam menggunakan pakan. Apabila fenomena tersebut benar maka tidak menyebabkan kesalahan yang besar apabila karakteristik dinyatakan dalam unit produksi per individu. Perlu selalu diperhitungkan dan ditirijau kembali efisiensi produksi apabila produksi individu naik. Individu yang lebih produktif akan membutuhkan pakan yang lebih banyak, tetapi biasanya lebih rentan terhadap penyakit.

Asumsi yang digunakan dalam membahas karakteristik ialah bahwa suatu karakteristik ditentukan paling tidak oleh kombinasi gen atau yang sering disebut dengan potensi genetik individu. Berdasar asumsi tersebut maka perbedaan antara individu (kemampuan produksinya) menghasilkan suatu produk, sebagian ditentukan oleh perbedaan kombinasi gen (potensi gen) yang dimiliki individu.

Pertanyaan yang perlu dijawab ialah - Bagaimana sesungguhnya perbedaan tersebut terjadi ? Apakah kita dapat memanfaatkan perbedaan tersebut?. Jawaban pertanyaan tersebut akan ditemui dalam mengikuti kuliah dan membaca materi kuliah, mengikuti praktikum, diskusi dan membaca sumber pustaka yang lain (diperpustakaan).

Beberapa perbedaan (genetik) tampak jelas pada individu dan dapat diklasifikasikan dalam klas diskrit. Misal, warna kulit pada sapi, laju pertumbuhan bulu pada ayam. Karakteristik yang masuk dalam klas diskrit disebut karakteristik discontiriues atau kualitatif. Tidak semua karakteristik kualitatif jelas dapat dilihat, misal gol darah, memerlukan bantuan teknik tertentu untuk dapat membedakan golongan darah. Karakteristik kualitatif kalau digunakan untuk mengelompokkan individu akan diperoleh klas diskrit. Misalnya, pada sapi Shorthorn, RR merah, Rr roan (merah campur putih) dan rr putih (tidak ada pigment). Untuk karakteristik tertentu, meskipun fenotipenya diketahui, pengetahuan tersebut tidak dapat digunakan untuk spesifikasi individu secara sempurna.

Berbeda dengan karakteristik kualitatif, karakteristik yang ekonomis (kuantitatif) umumnya karakteristik yang tidak dapat dipakai untuk mengelompokkan individu menjadi klas diskrit, tetapi dapat dalam klas contiriues. Misal produksi susu pada laktasi pertama berkisar dari 800 l sampai 4000 liter. Berarti pada laktasi pertama tersebut ada kisaran variasi (perbedaan/selisih) yang kontiriyu, seperti yang telihat dalam Gambar

Perbedaan karakteristik kualitatif dan kuantitatif dapat dijelaskan sebagai berikut.

Karakteristik kualitatif Karakteristik kuantitatif
Diskripsi dan analisinya
secara individual Diskripsi dan analisinya ditirijau dari populasi

Diskripsi variasi kuantitatif pada contoh di atas bagian terbesar individu mempunyai produksi di sekitar nilai tengah, sebagian kecil anggota populasi mempunyai produksi menjauhi nilai tengah.

Kurva frekuensi Gambar 4.2 dapat dicirikan dengan besaran, rata-rata aritmetik atau mean, dan standar deviasi atau simpang baku. Kurang lebih 2/3 (dua pertiga) anggota populasi terletak di daerah -2 s/d +2. Besaran pengukur yang lain adalah variansi (variansi = kuadrat simpang baku). Variansi disimbolkan dengan V dan simpang baku disimbolkan dengan . Berdasar con toh pada Gambar 1 dan 2 dapat dimengerti bahwa 2/3 anggota populasi produksinya berkisar dari 1600 s/d 3200 liter (karena  = 400 liter).
Telah banyak macam analisis dijalankan untuk mengetahui berpasang gen mempengaruhi karakteristik kuantitatif tertentu. Estimasi yang diperoleh tidak cermat. Hasil yang diperoleh melaporkan , ada petunjuk bahwa jumlah pasangan gen tersebut berkisar 10 (sepuluh) sampai dengan 100 (seratus) pasang. Lepas dari hasil tersebut yang bagi kita adalah, bagaimna kita dapat menaksir dan selanjutnya dapat memilih individu dengan kombinasi gen atau potensi genetik yang tidak diketahui dengan pasti berdasarkan hasil pengukuran karakteristik kuantitatif. Proses fisiologik baik yang bersifat hormonal maupun enzymatik banyak terlihat dalam pemunculan karakteristik kuantitatif.

2. Ekspresi karakteristik kuantitatif tidak hanya tergantung pada kombinasi gen, tetapi juga pada faktor lingkungan.

Dua individiu monozygote indentical twin memiliki kombinasi gen yang sama. Apabila kedua individu tersebut dipelihara di bawah faktor lingkungan yang berbeda maka akan memunculkan karakteristik kuantitatif yang berbeda pula. Gambarannya sebagai berikut.

Yang Menginginkan file secara utuh agar kirim biodata secara lengkap ke situs email blog ini, karena banyak rumus dan kolom yang membutuhkan waktu tersendiri untuk ditransfer ke prog. HTML..


Read more.....

Jumat, 13 Februari 2009

All About of Angus

History
In the northeastern part of Scotland lie the four counties of Aberdeen, Banff, Kincardine, and Angus. These counties touch the North Sea and all extend inland and have some high or mountainous country. They have been favored through the ages with a temperate climate and good crops, although the topography of the country is rough. Pastures do well in the area because of well-distributed rainfall. Plenty of grass, plus a nearly ideal temperature for cattle production, has made the area very suitable for some of the greatest improvement that has been made in our purebred breeds of cattle.
The county of Angus was early noted for its production of potatoes, grain crops, and feed. This shire contains a fine expanse of highly cultivated land known as Strathmore, which is one of the very fine valleys in that part of Scotland and which has become famous in the history of the Aberdeen-Angus breed. The county of Aberdeen is the most productive agricultural region in Scotland and depends largely upon crops and livestock for income. The fishing industry, however, is stressed along the coastline. The tiny counties of Banff and Kincardine have long been known as livestock centers.

Northern Scotland, although in a more northern latitude than the United States, has a more uniform temperature throughout the year. The Gulf Steam tempers the climate in the winter, and the summers remain cooler than weather commonly experienced in the United States.

Origin
There are three distinct and well-defined breeds of polled cattle in the United Kingdom. These breeds are the Aberdeen-Angus, the Galloway, and the red polled Norfolk and Suffolk breed that is found in England. Polled cattle apparently existed in Scotland before recorded history because the likeness of such cattle is found in prehistoric carvings of Aberdeen and Angus. Historians state that there were hornless cattle in Siberia centuries earlier. A hornless race of cattle was depicted in Egypt by sculptors and painters of that ancient civilization. Some historians feel that the Aberdeen-Angus breed and the other Scottish breeds sprang from the aboriginal cattle of the country and that the breeds as we find them today are indigenous to the districts in which they are still found.

Early Scottish Cattle. Although little is known about the early origin of the cattle that later became known as the Aberdeen-Angus breed, it is thought that the improvement of the original stock found in the area began in the last half of the 18th century. The cattle found in northern Scotland were not of uniform color, and many of the cattle of the early days had varied color markings or broken color patterns. Many of the cattle were polled, but some few had horns. The characteristics we commonly call polled was often referred to in the old Scottish writings by the terms of "humble," "doddies," "humlies," or "homyl."

Foundation of the Breed
Two strains were used in the formation of what later became known s the Aberdeen-Angus breed of cattle. In the county of Angus, cattle had existed for some time that were known as Angus doddies. MacDonald and Sinclair quote the Rev. James Playfair as having written in 1797, "There are 1129 horned cattle of all ages and sexes in the parish. I have no other name to them; but many of them are dodded, wanting horns." This seems to be the first authentic reference to polled cattle in the county of Angus, apart from ancient sculptures. In the area of Aberdeenshire, other polled cattle were found and were called Buchan "humlies," Buchan being the principal agricultural district in Aberdeenshire. These cattle were apparently early valued as work oxen, as were most of the other strains of cattle that later acquired various breed names. MacDonald and Sinclair believed that polled cattle were found in Aberdeen in the 16th century, and stated: 2

Improvement in Scottish Agriculture. Apparently little attention was given to the breeding of cattle before the middle of the 18th century, but in the last half of that century, great progress was made in Scottish agriculture. It is not strange that, as farming practices were improved, men likewise sought to improve the livestock on their farms. It was only natural that breeders, in improving their cattle, would but cattle of similar kinds from adjacent areas, and as a result, the cattle of the Angus doddie strain and the Buchan humlie strain were crossed. Crossing and recrossing these strains of cattle eventually led to a distinct breed that was not far different from either type, since the two strains were originally of rather similar type and color pattern.

The Early Herds. By the beginning of the 19th century, the polled cattle of the Buchan district had attained considerable favor as market cattle for the production of carcass beef. Among the polled herds of Aberdeenshire that were famous for such production in the early 1800s were those of Messrs. Williamson of St. John’s Wells and Robert Walker of Wester Fintray. The Williamson herd later supplied the herd of Tillyfour and, through it, the Ballindalloch herd with some of their humlies. In Angus, the herds of William Fullerton, Lord Panmure, Lord Southesk, and Alexander Bowie contributed many of the Angus doddies that later became prominent in the breed. Robert Walker of Portlethen seems to have been the principal cattle breeder in Kincardineshire.

The Contribution of Hugh Watson.

If any one person can be singled out as the founder of a breed of livestock, Hugh Watson of Keillor, who lived in the vale of Strathmore in Angus, is worthy of that distinction. If not the first real improver of Aberdeen-Angus cattle, he was certainly the most systematic and successful. Both his father and grandfather had been buyers and breeders of the Angus doddies. The family is known to have owned cattle as early as 1735. Hugh Watson was born in 1789 and, in 1808, at the time he was 19 years of age, he became a tenant at Keillor.

When Hugh Watson started his farming activities at Keillor, he received from his father’s herd six of the best and blackest cows, as well as a bull. That same summer, he visited some of the leading Scottish cattle markets and purchased the 10 best heifers and the best bull that he could find that showed characteristics of the Angus cattle that he was striving to breed. The females were of various colors, but the bull was black; Watson decided that the color of his herd should be black and he started selecting in that direction.

Mr. Watson’s favorite bull was Old Jock 126 (1), 3 who was awarded the number "1" in the Herd Book at the time it was founded. The bull was bred by Watson in 1842 and was sired by Grey-Breasted Jock 113 (2). The bull apparently was used very heavily in the herd from 1843 until 1852 and was awarded the sweepstakes for bulls at the Highland Society Show at Perth in 1852, when he was 11 years old.

A very famous cow also made considerable history in the herd at Keillor. This cow was Old Granny 125 (1), who was calved in 1824 and was killed by lightning when past 35 years of age. She is reported to have produced a total of 29 calves, 11 of which were registered in the Herd Book. A very large percentage of our living Aberdeen-Angus cattle trace to either Old Granny or Old Jock, or both of these very famous foundation animals, and most would trace many times if their pedigrees were extended to the foundation of the breed.

Hugh Watson practiced the fitting and showing of his cattle more than was common by other breeders of his day. He made his first exhibition at the Highland Agricultural Society Show at Perth in 1829. During his long show career, he is said to have won over 500 prizes with his cattle and did a great deal to increase the popularity of the black polled cattle over the British Isles.

Other Early Contributors. Lord Panmure established a herd of polled cattle in 1835, and not only operated a private herd but also encouraged his tenants to breed good doddies. William Fullerton, who was born in 1810, began to breed cattle in 1833. His most important early purchase was that of another Aberdeen cow named Black Meg. Black Meg 43 (766) is sometimes referred to as the founder of the breed, since more cattle trace to her than to any other female used in the origin of the breed. 4 She is the only cow to surpass Old Granny in this respect. Robert Walker of Porlethen founded his herd in 1818 and continued to breed cattle successfully until his death in 1874.

Shorthorn Breed Threatens the Aberdeen-Angus. In 1810, the Colling brothers of England sold the famous Shorthorn bull Comet at $5,000. The publicity resulting from this sale naturally spread throughout Scotland, and many breeders looked with favor upon the use of Shorthorn blood in improving the native cattle. Subsequently good herds of Shorthorn cattle were established in Scotland, and the cattle were used in the improvement of native stock. The use of the Shorthorn cattle on the black native cows was a very common practice of the period for the raising of commercial stock. This practice of crossbreeding threatened the Aberdeen-Angus breed with extinction.
It is often suggested that some Shorthorn blood found its way into the Aberdeen-Angus breed prior to the time the Herd Book was closed. Alexander Keith, secretary of the Aberdeen-Angus Cattle Society from 1944 to 1955, takes exception to this opinion by writing:

Improvement and Expansion of the Aberdeen-Angus
The Great Preserver. William McCombie of Tillyfour is regarded as the preserver and great improver of the Aberdeen-Angus breed. Fullerton and others had started the blending of the two types of cattle, which later became known as the Aberdeen-Angus, but this success was enlarged at Tillyfour. The master of Tillyfour was born in 1805 and died in the spring of 1880. Like his father before him, he had been a successful dealer in cattle before he began his operations in 1829 as a tenant farmer. Mr. McCombie is distinguished in the history of the Aberdeen-Angus breed because of his great foresight in planning matings, his careful management, his unparalleled success in the show ring, and in publicizing his famous cattle. Probably his crowning success in the show ring was at the great International Exposition held at Paris in 1878. There he won the first prize of $500 as an exhibitor of cattle from a foreign country and also the grand prize of $500 for the best group of beef-producing animals bred by any exhibitor.

Not only did Mr. McCombie show in breeding classes but he also exhibited in steer classes at the market shows. Probably the most famous steer that her produced was the famous show animal Black prince, who won at the Birmingham and Smithfield Shows in 1867 when he was four years of age. From the latter show, he was taken to Windsor Castle for the personal inspection of Queen Victoria, and later her Majesty accepted some Christmas beef from the carcass of the steer.
The English Crown has long been interested in livestock improvement, and Queen Victoria paid a personal visit to Tillyfour a year or two after the visit of the famous Black prince to the castle. Such a tribute to an outstanding breeder naturally attracted great attention to the already famous herd. McCombie had the further distinction of being the first tenant farmer in Scotland to be elected to the House of Commons.

According to the historian Sanders:

Aberdeen-Angus history may fairly be divided into two periods; the first, before William McCombie’s time; the second, since. That is as good as any other way of saying that the Master of Tillyfour-recognized cattle king of his day and generation in Aberdeen-Angusshire and of all Scotland-stands a very colossus upon any canvas which accurately portrays the original arrival of black cattle as a factor of world importance in the field of prime beef production.

William McCombie always had utility in mind in producing his cattle, and his ideal beast seems to have been one with size, symmetry, and balance, yet with strength of constitution and disposition to accumulate flesh. Important Developments at Tillyfour. Although his original stock was gathered from many sources and his purchases were many, Mr. McCombie’s outstanding acquisition was probably the good yearling heifer Queen Mother 41 (348) at the Ardestie Sale.

Mr. McCombie purchased the bull Hanton 80 (228), calved in 1853, from the breeder Alexander Bowie. This bull was a grandson of Old Jock 126 (1) and was said to have weighed a ton at maturity. Despite the fact that he had scurs, he was a great show bull and was exhibited widely by Me. McCombie. The bull’s success, however, was more pronounced in the breeding pen, and he probably made his greatest contribution to the breed through his double grandson, Black Prince of Tillyfour 77 (366), calved in 1860. Few, if any, cattle of the breed are living today that do not trace at least a dozen times to Black Prince of Tillyfour. It is difficult to say how much contribution Mr. McCombie made to the Aberdeen-Angus breed through his successes in the show ring, but he outstripped all of his competition in England, Scotland, and France. Consequently, the name of Aberdeen-Angus became known on an international basis. It was on the farm of William McCombie that the Aberdeen-Angus breed really took shape, because prior to his time, people spoke of the cattle as Aberdeen and Angus. In his herd was found the justification for leaving out the "and" and replacing it with the hyphen that has become familiar. At Tillyfour, the master breeder molded the two original strains into one improved breed superior to either of its components. There is no question but that the "preserver" of the Angus breed left the breed far better than he found it.

The Ballindalloch Herd.

Another very famous Aberdeen-Angus herd in Scotland was that of Ballindalloch, but the origin of this herd is lost in the mists of antiquity. It was probably first founded by Sir John MacPherson Grant, but it was not until the time the farm came into the hands of Sir George, a son, that systematic breeding was started. Sir George drew heavily on Tillyfour cattle in establishing his herd. It was very fortunate for the breed that the Ballindalloch herd was kept in the family for over three generations. The main herd was dispersed on August 8, 1934, but it had already left a great imprint on the Aberdeen-Angus world. Not only was the Ballindalloch herd the outstanding herd in Scotland but it mush also be given credit for having furnished a great deal of very valuable foundation stock to the herds of the United States and other foreign countries.

The First Angus In America. When George Grant transported four Angus bulls from Scotland to the middle of the Kansas prairie in 1873, they were part of the Scotsman's dream to found a colony of wealthy, stock-raising Britishers. Grant died five years later, and many of the settlers at his Victoria, Kansas colony later returned to their homeland. However, these four Angus bulls, probably from the herd of George Brown of Westertown, Fochabers, Scotland, made a lasting impression on the U.S. cattle industry. When two of the George Grant bulls were exhibited in the fall of 1873 at the Kansas City (Missouri) Livestock Exposition, some considered them "freaks" because of their polled (naturally hornless) heads and solid black color (Shorthorns were then the dominant breed.) Grant, a forward thinker, crossed the bulls with native Texas longhorn cows, producing a large number of hornless black calves that survived well on the winter range. The Angus crosses wintered better and weighed more the next spring, the first demonstration of the breed's value in their new homeland.

Early Importers and Breeders. The first great herds of Angus beef cattle in America were built up by purchasing stock directly from Scotland. Twelve hundred cattle alone were imported, mostly to the Midwest, in a period of explosive growth between 1878 and 1883 . Over the next quarter of a century these early owners, in turn, helped start other herds by breeding, showing, and selling their registered stock

For the boldness of furthermore please visit the site of following:
http://www.ansi.okstate.edu
http://www.lonelyplanet.com
http://www.angus.org
Read more.....

All About of Limousin

History
The Limousin breed can trace its history back at least 16,000 years, when images of its ancestors were painted on the walls of caves near the village of Montignac in central France.In the adjacent Limousin region, cattle adapted naturally to its harsh landscape and highly variable climate. A few centuries ago, when the cattle were used increasingly for draught, selection pressures replaced natural evolution resulting in the breed we now call Limousins becoming large-framed and
muscular animals.The first Limousin herd book was established in France in 1886, and significant exports of Limousins out of France did not occur until the 1960s. The first Limousins arrived in Australia in 1975 and they can now be found in 70 countries on all continents.
In their original form, which is still maintained as the breed standard in France, Limousins are horned and have a rich gold coat with lighter colouring around the muzzle, eyes, legs, underside and hind quarters. Over the past two decades, polled and black Limousins have been bred.

The history version other
The history of Limousin cattle may very well be as old as the European continent itself. Cattle found in cave drawings estimated to be 20,000 years old in the Lascaux Cave near Montignac, France, have a striking resemblance to today's Limousin. These golden-red cattle are native to the south central part of France in the regions of Limousin and Marche. The terrain of the homeland has been described as rugged and rolling with rocky soil and a harsh climate. Consequently, the growing of field crops was very difficult at best and emphasis was placed on animal agriculture. Limousin cattle, as a result of their environment, evolved into a breed of unusual sturdiness, health and adaptability. This lack of natural resources also enabled the region to remain relatively isolated and the farmers free to develop their cattle with little outside genetic interference.During these early times of animal power, Limousin gained a well-earned reputation as work animals in addition to their beef qualities. Rene Lafarge reported in 1698, "Limousin oxen were universally renown and esteemed both as beasts of burden and beef cattle." At the end of their work life, these animals were then fattened for slaughter.

Traditionally, French cattle were kept in a confinement or semi-confinement situation. However, Limousin cattle spent the majority of their time outdoors in the harsh climate of the region. This was a source of great pride to the breeders. The cows calved year round, outdoors, to bring in a regular source of income and the heifers were bred to calve at three years of age. In the winter, the entire herd was outside and whatever the season, the cattle were handled on a daily basis.

French Developments
Once in the 1700s and again in the mid-1800s, an attempt was made by a small number of French Limousin breeders to crossbreed their cattle in hopes of gaining both size and scale. In 1840, several breeders crossbred their Limousin with oxen of Agenaise variety.

The resulting animals were taller, having more volume of muscling in their hindquarter. Unfortunately, these crossbred cattle proved not to be economical as they needed a larger amount of feed than could be provided in the majority of the region. Only near Limoges, where manure and fertilizers were plentiful and growing field crops was widespread, did these cattle prosper.Limousin breeders admitted their mistake and then concentrated upon improving the breed through natural selection. A leader in the natural selection movement was Charles de Leobary and his herdsman, Royer. Through a very tough, selective process, these two developed an outstanding herd of "purebred" Limousin. From 1854 to 1896 the de Leobary herd won a total of 265 ribbons at the prestigious Bordeaux Competition, one of France's finest cattle shows.Limousin cattle made a deep impression in French cattle shows during the 1850s. The first show wins were at the Bordeaux Fair where Limousin tooksecond and third places. The cattle belonged to the already mentioned de Leobary herd. Furthermore, in 1857, '58 and '59, Limousin animals topped other breeds in some of the first carcass competitions at the farm produce competition held at Poissy, near Paris. The reputation of Limousin as meat animals was firmly established. Today, Limousin cattle are still referred to as the "butcher's animal" in France.
The widespread use of natural selection made it important to record the bloodlines of the outstanding Limousin bulls and females. So, in November of 1886, the first Limousin Herd Book was established. Louis Michel presided over the herd book, the objective of which was to ensure the uniformity of the breed. Michel and his 11 fellow herd book commissioners were extremely rigid in the selections. Between 1887 and 1890, the commission met six times and out of 1,800 animals presented for registration from 150 different farms, only a total of 674 (117 males and 497 females) were accepted for registration.

The formation of the herd book had other important consequences. Once established, the French government then established shows solely for Limousin cattle. As with their counterparts today, these shows provided tremendous exposure for the breed as the many valuable traits of these beef cattle were presented for all to see.
By July of 1914, the total number of animals registered in the herd book was 5,416. It is interesting to note the herd book has been reorganized twice since it was founded, once in 1923 and again in 1937. Both times these reorganizations were used to redefine the characteristics of the breed, making the breeders more selective, this improving the quality of the animals.

Through the late 1800s and early 1900s, Limousin breeders paid close attention to morphological characteristics as the breed developed. The medium size of these cattle as compared to other European breeds was, and is still, an outstanding breed trait. They also selected for the dark golden-red hide with wheat colored underpinnings. French records also show a great deal of emphasis was stressed upon deep chest, a strong top-line, well-placed tailhead and strongly-muscled hindquarter. The end result was an efficient, hardy, adaptable animal that was extremely well-suited for its only intended purpose - to produce meat.

Across the Atlantic

As the breed developed in France, cattlemen in North America were looking to Europe to improve their native beef cattle here in the United States. In the late 1800s, English breeds such as the Hereford, Shorthorn and Angus were imported and crossed on native cattle, most of them of Spanish background. In the early 1900s Charolais were imported into Cuba and Mexico and were first introduced into the United States in the early 1930s.

The acceptance of Charolais, combined with the use of crossbreeding as a tool to increase beef production, lead to the investigation of many other Europeanbreeds, including Limousin, by North American cattlemen. One of the first exposures in this country concerning Limousin cattle was in the early 1960s in an issue of the Western Livestock Journal when a Canadian wrote of his impressions after returning from a trip to France. As more cattlemen traveled toEurope, they came back talking about an impressive "new" beef breed they had seen...Limousin.

Cattle from France were not eligible for importation into the United States, as France was a hoof-and-mouth disease affected area. However, the Canadian government did agree to accept French cattle after they had successfully completed a strict three-step quarantine program. Before the cattle left France they were held in a three-month quarantine, then once arriving in Canada they were kept on Grosse Isle of the cost of Nova Scotia or St. Pierre Island in the Gulf of St. Lawrence for another three-month period. Finally, the cattle were required to successfully pass a 30-day "on the farm" quarantine. Once they passed the quarantine, semen could be shipped throughout North America.

The first Limousin imported to Canada was Prince Pompadour, a son of Baron bred at the highly-respected Pompadour Estate of France. Through the efforts of Adrien de Moustier of France (later to found Bov Import, Inc.) and others, the bull arrived in November of 1968. An impressive bull, Prince Pompadour had been selected by noted French breeder Emil Chastanet as a herd bull for his operation. After his arrival, Prince Pompadour was brought to the United States to be part of Limousin exhibitions at various cattle shows and did much to draw attention to the breed.

The first Limousin bulls imported permanently into the United States did not arrive until the fall of 1971. Until this time, the Canadian government had not permitted any Limousin bulls to leave the country except for short periods for exhibition purposes, and then only if the owners posted a large bond that was refunded when the animal returned to Canada. The first U.S. import, Kansas Colonel, was born and raised in Canada and was imported by Bob Haag of Topeka, Kansas, for a group of Kansas Limousin breeders.

The first Limousin semen was available from Prince Pompadour in July of 1969. After being evaluation by J.J. "Bud" Prosser at the International Beef Breeders facility near Denver, semen was picked up by Colonel E.J. Geeson of Agate, Colorado. A retired Air Force officer, Geeson used the semen on his Angus cows on his ranch east of Denver.After the importation of Prince Pompadour to Canada, another group of Limousin bulls followed in 1969. This shipment contained Decor, Diplomate, Dandy, Prairie Danseur and Prairie Pride. These bulls were the base upon which the breed began its long climb up, finding good acceptance on the part of cattlemen.

Limousin Performance
Limousins are renowned for their longevity, hardiness, low maintenance costs, and are prolific and efficient producers of healthy, lean, tender meat.
Some of the most comprehensive research comparing cattle types was published recently, which puts figures on what Limousin breeders have known for decades. In one long-term trial involving nine cattle breeds, Limousins were twice as efficient at converting feed into retail meat from weaning to slaughter as Angus and Hereford.
Other trials indicate that Limousin meat tenderness, flavour and juiciness are similar to Angus and Hereford meat.

Limousin Muscling Gene
The Myostatin gene, or more accurately the protein it produces, actively suppresses muscle growth. Two Myostatin genes are found in all animal species, and their regulatory effect on muscle development is generally diminished when a variant (mutation) occurs; this leads to increased muscling and reduced fat deposition.
Variants of the gene have been identified in several animal species, with at least ten Myostatin variants identified in cattle. The most extreme variant is associated with Belgian Blue cattle.

In 1998, a less extreme variant of the gene, known scientifically as F94L, was identified as the most likely cause of Limousin's unique muscling and tenderness qualities. Limousin carcases are consistently over 60% of liveweight, with retail meat yield on the carcase frequently exceeding 70%, and reaching close to 80% in some circumstances. The extremely high meat yield is attributed to increased muscling, finer bone structure, and low fat compared with British breeds.
Recently, researchers at the University of Adelaide in collaboration with other Australian and New Zealand researchers quantified the effect of the F94L gene. In a cross and back-cross breeding program, the scientists established that cattle with two copies of the F94L gene (which almost all Limousins have) had higher weight of prime cuts by 14 - 19%, higher overall meat yield by 6 - 8%, and meat tenderness improved by 6 - 11%, when compared with cattle without the gene.

Growing Popularity
Cross-breeding with British breed cattle exploits Limousin's muscling, tenderness, efficiency and health benefits, maximises hybrid vigour, and also enables producers to target markets that require higher levels of fat. Producers and processors benefit from the higher yield and lower trim wastage associated with Limousin and Limousin-cross meat, and consumers benefit from its healthier qualities.
Limousins have been growing rapidly in popularity as a terminal sire in many countries. In the UK, home of British breeds, 34% of all terminal sires are Limousins, a figure that eclipses the combined totals of the next two most popular sires, Charolais and Angus. Limousins have held the top UK sire position for the past 12 years.

In Australia, Limousin and Limousin-cross steers have been beating most of the competition in recent years, chalking up impressive all-breed wins and places in major on the hoof and carcase competitions around the country.
For the boldness of furthermore please visit the site of following:
http://www.salimousin.com.au
http://www.ansi.okstate.edu
http://en.wikipedia.org

Read more.....

SEKTOR-SEKTOR PEREKONOMIAN KABUPATEN BONDOWOSO

Kabupaten Bondowoso, merupakan salah satu wilayah Propinsi Jawa Timur yang merupakan dae-rah hinterland, sektor pertanian merupakan sektor perekonomian basis. Namun terdapat pula sektor-sektor perekonomian lain yang secara imperatif dikembangkan untuk mendampingi sektor pertanian yang secara umum dewasa ini peranannya (Download dalam bentuk file, Click Here)sebagai
sektor perekonomian basis dikhawatirkan menurun.
Pada tahun 1998, sektor pertanian di Kabupaten Bondowoso menyumbang-kan 58,63 % pada penyerapan tenaga kerja dengan nilai Location Quotient sebesar1,25. Namun tahun 2003 sektor perekonomian tersebut menyumbang sebesar 61,43% pada penyerapan tenaga kerja dan dengan nilai Location Quotient yang relatif tetap , yakni sebesar 1,25. Hal tesebut menunjukkan peranan sektor pertanian dalam proporsi penyerapan tenaga kerja pada perekonomian daerah me-ningkat namun relatif kurang disertai dengan meningkatnya keunggulan komperatif yang sebanding dengan peningkatan proporsi penyerapan tenaga kerja tersebut. Sedangkan dilihat dari kontribusi sektor perekonomian tersebut pada pembentukan Product Domestic sub Regional Bruto pada tahun 1998 menyumbangkan prestasi sebesar 48,93% dan pada tahun 2003 menurun menjadi 48,60%. Rata-rata kontribusi Sektor Pertanian terhadap Product Domestic Sub Regional Kabupaten Bondowoso sebesar 48,75% selama 5 tahun terakhir.
Mengingat keterlibatan tenaga kerja pada proses produksi di sektor perta-nian tidak sepenuhnya mencerminkan suatu fenomena yang lazim berlaku dalam mekanisme pasar, peningkatan proporsi penyerapan tenaga kerja dari 58,63% pada tahun 1998 menjadi 61,43% pada tahun 2003 dikhawatirkan kurang menggambarkan prestasi sektor perekonomian tersebut yang sebenarnya, didalam angka yang lebih besar tersebut melekat pengangguran yang tersembunyi yang lebih besar. Kekhawatiran tersebut beralasan karena sektor perekonomian tersebut kurang mampu meningkatkan besaran Location Quotientnya yang menggambarkan kemampuan sektor perekonomian untuk meningkatkan kemampuan mengekspor komoditi yang dihasilkannya.
Secara teoritis, dalam jangka panjang suatu perekonomian tidak dapat tetap menggantungkan pada peranan sektor pertanian secara terus-menerus karena sektor perekonomian akan mengalami proses decree-sing return to scale. Kecenderungan demikian akan menimbulkan kendala bagi tujuan untuk secara terus-menerus meningkatkan produktivitas sektor perekonomian tersebut, baik secara umum maupun di Kabupaten Bondowoso. Namun keberadaan sektor pertanian dengan segala pe-ranannya dalam mengembangkan perekonomian Kabupaten Bondowoso tetap di-pertahankan terutama sebagai penyedia input dan sumber permintaan efektif bagi produk-produk sektor perekonomian lain yang akan dikembangkan.
Dalam perencanaan pembangunan daerah, Kabupaten Bondowoso memiliki rencana untuk mengembangkan sektor-sektor perekonomian non per-tanian lainnya untuk membarengi pengembangan sektor pertanian. Pengembangan sektor-sektor perekonomian non pertanian yang mendampingi pengembangan sektor pertanian tersebut diharapkan akan menghasilkan efek ramifikasinya (efek berantai) yang dapat mendorong tumbuhnya berbagai-bagai aktivitas ekonomi produksi terutama aktivitas agroindustri, yakni aktivitas pertanian yang mencakup aktifitas pertanian mulai dari sektor hulu sampai sektor hilir, agar sektor perekonomian tersebut tetap dapat berperan sebagai motor penggerak pembangunan daerah (the engine of growth).
Secara teoritis-empiris, pengembangan disuatu sektor perekonomian tidaklah dapat dilakukan secara terpisah (inisolation). Pengembangan kapasitas produksi pada suatu sektor perekonomian haruslah ber-samaan dengan perluasan kapasitas produksi di sektor perekonomian lain yang mendukung permintaan interindustrinya (interindustry demand). Apabila hal tersebut diabaikan, maka yang terjadi adalah struktur perkembangan yang tidak ideal (non ideal structure) dan jalur pertumbuhan yang tidak ideal (non ideal development path) dalam perekonomian yang sedang berkembang.
Dengan demikian, dalam hubungannya dengan pengembangan perekono-mian Kabupaten Bondowoso, pengembangan sektor pertanian baik pada aktivitas hulu-hilir atau secara keseluruhan (dimana agroindustri merupakan salah satu unsur yang terfokus didalamnya) seharusnya didukung oleh pengem-bangan sektor-sektor perekonomian yang lain, terutama sektor-sektor perekonoman yang memiliki kemampuan memberikan manfaat exernal economic’s yang tinggi pada perekono-mian dan didukung oleh potensi faktor’s endowment yang tersedia.
Pengembangan budidaya pertanian yang merupakan sektor hulu dari sektor pertanian perlu didukung dengan pengembangan sektor hilir dan sektor-sektor perekonomian non pertanian lainnya. Pengembangan sektor pertanian bagi Kabupa-ten Bondowoso adalah merupakan suatu keharusan imperatif bagi suatu proses industrialisasi dan harus didukung oleh pengembangan sektor-sektor perekonomian non pertanian yang lain agar perekonomian daerah tersebut dapat berkembang kearah perekonomian yang sustainable dan tetap berada pada jalur pertumbuhan yang harmonis.
Apabila hal yang disinggung diabaikan, maka kemungkinan yang dapat timbul selama proses per-kembangan perekonomian suatu daerah yang disengaja ( melalui proses perencanaan ) adalah suatu gejala backwass effect, yakni pereko-nomian Kabupaten Bondowoso justru mengalami kemunduran sebagai akibat dari faktor-faktor produktif yang dimilikinya tertarik ke daerah pusat pertumbuhan dan daerah-daerah berkembang lainnya. Faktor-faktor produktif yang dimiliki oleh Kabupaten Bondowoso tertarik kedaerah-daerah lain karena Kabupaten tersebut kurang mampu untuk mengembangkan sektor-sektor peekonomiannya yang beraki-bat kurang mampu pula mengembangkan kesempatan kerja bagi faktor-faktor yang produktif tersebut.
Dalam hal ini, mengalirnya faktor-faktor produktif yang langka yang dimiliki oleh Kabupaten Bondowoso ke Surabaya dan daerah-daerah disekitarnya sebagai pusat pertumbuhan dan daerah-daerah disekitar Kabupaten tersebut seper-ti Kabupaten Jember, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Probolinggo dan sebagai-nya akan terjadi sebagai kecenderungan akibat kesalahan pengalokasian sumber-sumber ekonomi.
Inheren dalam perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Bondowoso adalah suatu strategi pengalokasian sumber-sumber ekonomi agar proses perkem-bangan tetap berada pada jalur pertumbuhan yang harmonis, seimbang. Tujuan perencanaan pembangunan demikian itu haruslah dimanifestasikan sebagai suatu dorongan yang berupa interaksi dinamis antara sektor pertanian dengan sektor-sektor perekonomian non pertanian lainnya terutama sektor industri, dan pengem-bangan secara imperatif sektor -sektor perekonomian secara benar.
Menurut pengalaman di beberapa daerah, pada perekonomian suatu daerah yang berbasis pertanian, kemajuan ekonomi tidaklah semata-mata bersumber pada keunggulan komperatif yang ada di daerah tersebut namun lebih ditentukan oleh potensi dinamis berupa interaksi antara Sektor Pertanian dengan sektor-sektor perekonomian non pertanian lainnya.
Dengan demikian, proses perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Bondowoso seharusnya mengarah pada kemungkinan terjadinya perkembangan yang dapat berjalan seharmonis mungkin atau yang paling menguntungkan dan mengeliminasi sekecil mungkin terjadinya kecenderungan perkembangan yang merugikan.
Kondisi prekembangan perekonomian daerah tersebut baru akan terjadi jika proses perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Bondowoso dilakukan dengan mengadopsi cara-cara yang dikembangkan secara ilmiah.

Perumusan masalah
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: sektor-sektor pereko-nomian manakah yang perlu didorong perkembangannya secara imperatif bersamaan dengan pengembangan sektor pertanian agar pengembangan sektor-sektor perekonomian tersebut secara keseluruhan mengembangkan perekonomian Kabupaten Bondowoso secara berkelanjutan. Dalam proses perkembangan pereko-nomian Kabupaten Bondowoso , sektor pertanian tetap berperan sebagai sektor perekonomian basis yang menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi. Kecenderungan tersebut diharapkan dapat berlangsung sebagai akibat efek berantai dan bercabang-cabang dari sektor-sektor perekonomian yang didorong secara imperatif, selanjutnya membuat sektor pertanian tetap mempunyai kesempatan untuk meningkatkan pro-duktivitasnya secara terus-menerus, yang secara historis menjadi prasyarat bagi proses perkembangan perekonomian.

Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan bertujuan menemukan sektor-sektor perekonomian yang perlu didorong perkembangannya secara imperatif , dimana sektor-sektor perekonomian tersebut paling memungkinkan untuk menjadi kunci (detominator) bagi perkembangan perekonomian Kabupaten Bondowoso yang berbasis Pertanian agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Kerangka Pemikiran
Ide yang mendasari penyusunan kerangka pemikiran pada penelitian ini di turunkan dari arti penelitian itu sendiri. Dari sisi metodologis penelitian adalah sebuah proses Deducto – Inducto – Hypothetico –Imperico – Verifikasi, maka pengertian ini membangun alur kerja penelitian yang disajikan pada gambar diagram alir dibawah ini (tersedia di lampiran)

Pnelitian ini menggunakan teori Two Gap Model sebagi teori yang mendasari proses deduktifnya. Digunakannya teori tersebut dengan pertimbangan bahwa dari sisi In-ternal Gap, sisi tersebut membangun argumentasi tentang pentingnya suatu sektor perekonomian untuk dikembangkan karena kemampuan sektor perekonomian ter-sebut memberikan manfaat external economic’s untuk memperluas dasar-dasar kegiatan produksi atau untuk memecahkan masalah kedisartikulasian perekonomian. Sedangkan dari sisi External Gap, sisi tersebut menyaring lebih lanjut sektor-sektor perekonomian yang direkomendasikan sebagai sektor-sektor perekonomian yang didukung oleh ketersediaan factor’s endowment yang penting untuk membangun keunggulan komparatif.

Hyopotetico
Sebagai hipotesis penelitian yang merupakan konsep pemikiran yang diturunkan dari teori dan merupakan jawaban sementara dari permasalahan penelitian ini adalah bahwa: perekonomian Kabupaten Bondowoso yang berbasis pertanian merupakan perekonomian yang dapat dikembangkan secara imperatif namun dalam alternatif dan kapasitas pengembangan terbatas.
Sebagai konskwensi logis dari hipotesis di atas adalah perlu adanya usaha pengembangan sektor-sektor perekonomian secara imperatif baerdasarkan urutan prioritas.

Inducto
Aspek Induktif terletak pada permasalahan dalam penelitian ini, yakni sektor-sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso manakah yang layak dikembangkan untuk mendampingi pengembangan sektor pertanian yang produktivitasnya perlu ditingkatkan terus menerus agar peranan sektor pertanian sebagai sektor perekonomian basis, sumber permintaan efektif bagi sektor perekonomian yang lain dan sebagai motor penggerak pembangunan dapat berkelanjutan selama tahap-tahap awal pembangunan. Permasalahan ini mengemuka karena saat ini ditengarai adanya penurunan peranan dari Sektor Pertanian dalam pembangunan ekonomi.
Indikator penurunan peranan tersebut adalah terlihatnya gejala bahwa dengan proporsi penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak (61,43% pada tahun 2003 di banding 58,62% pada tahun 1998) namun sektor perekonomian tersebut tidak mampu meningkatkan nilai Location Quotient ( sebesar 1.25 pada tahun 1998 dan relatif tetap pada 2003) sebagai indikator kebasisan suatu sektor perekonomian suatu daerah.

Empirico
Data empris perekonomian Kabupaten Bondowoso yang berkembang dinamikanya menunjukkan bahwa sektor-sektor perekonomian Kabupaten tersebut bergerak menempati posisi relatifnya masing-masing dalam struktur perekonomian yang kompetitif. Sebagian menempati posisi yang semakin menguat dan sebagian lagi menempati posisi yang melemah. Kecenderungan tersebut secara ilmiah harus dikelola dengan benar melalui perencanaan pembangunan yang bersifat imperatif dari pemerintah.
Kecenderungan tersebut ditunjukkan pada lampiran L1 pada penelitian ini.

Verifikasi
Bagian pertama dalam aspek verifikasi adalah kerangka kerja teoritis, sedangkan bagian kedua ada-lah kerangka kerja empiris.

kerangka kerja teoritis
Esensi kerangka kerja teoritis dari penelitian ini terletak pada alat analisis yang digunakan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian berkaitan dengan penemuan jawaban dari permasalahan atau pencapaian tujuan yang dimukakan pada penelitian. Alat analisis tersebut adalah bagian daripada organisasi materi yang di derevasi dari grand theory yang mendasarinya.
Koefisien Komponen Laju Pertumbuhan digunakan adalah untuk mencari sektor-sektor pereko-nomian mana di Kabupaten Bondowoso yang bergerak maju berkembang dengan intensitas perkembangan proporsi penyerapan tenaga kerja yang lebih cepat karena pengaruh perkembangan yang positif (menguntungkan) dari sektor perekonomian yang sejenis baik ditingkat nasional maupun regional atau Propinsi. Koefisien Komponen Bauran Industri untuk mencari sektor-sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso yang berkembang dengan intensitas perkembangan yang lebih cepat karena pengaruh kehadiran aktivitas-aktivitas ekonomi di sektor-sektor perekonomian lain diwilayah substantif yang lebih luas.
Efek tersebut yang pada akhirnya mempengaruhi kemampuan sektor pere-konomian tersebut da-lam penyerapan tenaga kerja (efek hubungan vertical dalam proses aglomerasi yang terjadi ditingkat nasional atau regional yang merembes di Kabupaten Bondowoso). Koefisien Komponen Kedudukan Kompetitif diperlukan untuk mencari informasi sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Bondowoso yang dapat berkembang lebih cepat dari pada sektor-sektor perekonomian yang sejenis didaerah lain yang terstruktur pada perekonomian wilayah substantif yang lebih luas (dalam hal ini Propinsi Jawa Timur) karena sektor-sektor perekonomian tersebut lebih menarik minat dunia usaha yang disebabkan sektor-sektor perekonomian tersebut relatif lebih unggul dalam menyediakan faktor-faktor dan sumber daya ekonomi yang lain yang memang dibutuhkan sebagai syarat permulaan yang penting (necessary condition) bagi dunia usaha tersebut untuk meningkatkan efisiensinya dipasar yang bersaing. Selanjutnya pengaruh yang lebih bersifat defrential shift tersebut mempengaruhi kemampuan suatu sektor pereko-nomian di Kabupaten Bondowoso.

Analisis kedua, adalah analisis yang diturunkan dari tabel input-output yang menghitung kemam-puan suatu sektor perekonomian untuk menumbuhkan pengaruh langsung maupun tidak langsung yang juga merupakan indikasi suatu kemampuan suatu sektor perekonomian dalam memberikan external economic’s pada sektor perekonomian lain. Analisis tersebut digunakan untuk mencari sektor-sektor pere-konomian mana di Kabupaten Bondowoso yang mampu memberikan external economic’s kepada sektor sektor perekonomian yang lain (melalui complementary effect to investnya) yang diharapkan mampu memperluas interaksi sektor-sektor perekonomian secara keseluruhan dalam perkembangan perekonomian Kabupaten Bondowoso.
Alat analisis kedua merupakan alat analisis yang diturunkan dari teori yang menekankan pentingnya peranan external economic’s. Pendekatan tersebut berupa alat analisis Koefisien Penyebaran dan Koefisien Kepekaan Penyebaran. Koefisien Penyebaran dan Koefisien Kepekaan Penyebaran merupakan bentuk koefisien-koefisien keterkaitan yang dinormalisasikan keseluruh sektor perekonomian. Koefisien Penyebaran dan Koefisien Kepekaan Penyebaran tersebut diperlukan untuk merekomendasikan sektor-sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso yang perlu di-dorong dengan sengaja perkembangannya guna mendorong perkembangan perekonomian secara keseluruhan. Keberadaan koefisien-koefsien penyebaran tersebut menunjukkan kemampuan tiap-tiap sektor perekonomian untuk memberikan external economic’s atau complementary effect to invest kepada perekonomian secara keseluruhan yang mekanisme transmisinya bekerja melalui efek keterkaitan (interindustry demand). Analisis keterkaitan yang memcari kemampuan tiap-tiap sektor perekonomian dalam memberikan manfaat external economic’s tersebut digunakan untuk menumbuhkan perluasan kemampuan interaksi antar sektor-sektor perekonomian daerah yang masih relatif terbatas (perekonomian yang terdisartikulasi). Selanjutnya, koefisien-koefisien yang berkaitan dengan keunggulan komparatif dan koefisien yang menjelaskan besarnya kemampuan suatu sektor per-ekonomian untuk memberikan external economic’s atau complementary effect to invest disatukan untuk keperluan yang terkait dengan kebutuhan merekomendasi sektor-sektor perekonomian yang perlu diprioritaskan dalam perencanaan pemba-ngunan daerah Kabupaten Bondowoso.
Kedua paradigma pendekatan tersebut (baik yang berdasarkan ketersediaan faktor’s endowment maupun manfaat external economic’s) digunakan sebagai alat analisis dalam penelitian ini. Keputusan tersebut diambil dengan harapan agar sektor-sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso yang diketemukan dan direkomendasikan adalah sektor-sektor perekonomian yang dijamin keberadaannya, karena sektor-sektor perekonomian yang diusulkan untuk mendapat prioritas dalam perencanaan pembangunan berdasarkan kemampuannya memberikan manfaat ex-ternal economic’s adalah sektor-sektor perekonomian yang didukung oleh keterse-diaan factor’s endowment yang merupakan syarat penting bagi daya saing suatu industri didaerah. Dengan demikian sektor-sektor perekonomian yang direkomendasikan adalah merupakan sektor-sektor perekonomian yang mampu memberikan suatu efek yang saling berkaitan dan pengaruh-menpengaruhi (efek ramifikasi) yang kedepan mampu untuk memberikan stimulasi (dorongan) kepada perekonomian (keseluruhan sektor perekonomian) untuk berkembang secara berkelanjutan. Perkembangan dengan kecenderungan seperti disinggung diatas hanya dapat terjadi jika perkembangan perekonomian Kabupaten Bondowoso terhindar dari gejala backwass efect. Kemungkinan backwass effect dapat terjadi jika pengalokasian sumber-sumber ekonomi yang produktif atas dasar dorongan yang disengaja (melului perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Bondowoso) cenderung salah arah/sasaran (mallalocation). Mallalocation akan menyebabkan stuktur per-ekonomian yang dibangun kurang komplementer dengan struktur perekonomian daeraah-daerah yang lain yang menjadi wilayah ekonomi substantif yang sama dengan daerah lain di Propinsi Jawa Timur. Stuktur Perekonoman Kabupaten Bondowoso akan menjadi kurang komplementer dengan struktur perekonomian Surabaya dan sekitarnya sebagai pusat pertumbuhan di Propinsi Jawa Timur serta dengan struktur perekonomian kabupaten-kabupaten disekitarnya seperti Kabupaten Jember, Kabupaten Situbondo atau yang lainnya. Kecenderungan Backwass effect tersebut akan semakin terasa apabila struktur perekonomian semakin tidak komplementer, komoditi-komoditi yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonoman atau industri-industri yang didorong tidak dapat dipasarkan kedaerah-daerah pusat pertumbuhan dan daerah-daerah yang lebih maju lainya (Surabaya dan sekitarnya) karena komoditi-komoditi tersebut harganya tidak dapat bersaing dengan komoditi yang sama yang berasal dari daerah lainnya (Kabupaten Jember dan lain-lain) akibat perencanaan ekonomi memberikan sasaran yang kurang tepat.

Kerangka kerja empiris
Kerangka kerja empiris dalam penelitian ini merupakan kerangka kerja yang dibangun dari hasil-hasil temuan penelitian dan pembahasannya.

Pembahasan Hasil Penelitian
Setelah dilakukan pembuktian kebenaran hypotesis dan sektor-sektor per-ekonomian prioritas telah dapat ditentukan skala prioritasnya. Maka dilakukanlah pembahasan hasil penelitian. Sesuai dengan makna verifikasi maka materi dari pembahasan dikembalikan pada esensi teori yang menjadi dasar pijakan penelitian penelitian dengan berberapa penyesuaian, teori tersebut adalah Two Gap Model yang terdiri dari Internal Gap disatu pihak dan External Gap dilain pihak yang peranannya berbeda-beda disetiap tahap perkembangan ekonomi.
Secara teoritis, ciri-ciri tahap Subsisten Level Condition berbeda dengan tahap Pre Condition for Take Off, dimana ciri-ciri tersebut disusun berdasarkan sifat simplifikasi, generalisasi dan universalisasi dari teori. Hal tersebut dimungkinkan karena teori disusun dengan menggunakan anggapan yang bersifat dikotomistis atau keterpisahan yang jelas antara aspek-aspek yang dibicarakan.
Tetapi dalam dunia empiris atau dunia nyata, ciri-ciri yang dikotomis tersebut tidak mungkin dinyatakan dengan jelas dari suatu kondisi masyarakat yang secara empiris bersifat spesifikasi.

Dengan demikian, alasan untuk menggunakan kedua pendekatan tersebut diatas sekaligus, sebagai berikut
Pertama, kondisi perekonomian Kabupaten Bondowoso tidak mungkin dinyatakan secara jelas apakah berada dalam tahap Subsisten Level Condition atau telah berada pada tahap Pre Condition for Take Off atau bahkan telah berada pada suatu tahap yang lebih maju lagi; Kedua, bagi pengikut ecklektisme maka penghindaran diri pada suatu paradigma tertentu akan memberikan lebih banyak alternatip pilihan yang terbuka, implementasinya pada kondisi spesifik (Kabupaten Bondowoso) adalah berupa pilihan-pilihan alternatif yang terbuka yakni sektor-sektor perekonomian mana sajakah di kabupaten tersebut yang layak secara ilmiah untuk di embangkan secara imperatif berdasarkan prioritas dari suatu kebijakan yang disengaja melului perencanaan pembangunan; Ketiga, penelitian ini mengikuti falsafah ilmu dari Hegel (these – antithese–sinthese), artinya adanya suatu these akan menimbulkan antithese, selanjutnya menimbulkan usaha untuk merekonsiliasikan teori-teori yang semula bertentangan berikut alat-alat analisa yang menjadi derevasinya.
Pada penelitian ini digunakan kedua pendekatan berikut alat analisisnya secara bersama-sama. Pembahasan akan disederhanakan dengan menampilkan kotak-kotak yang berisi Question Mark tentang karakteristik tiap-tiap sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso yang berhubungan dengan alat-alat analisis dari kedua paradigma tersebut diatas. Kotak-kotak yang berisi Question Mark tentang karaktreistik sektor-sektor perekonomian disajikan pada tabel dibawah ini (lampiran 2):

Sektor-sektor perekonomian yang direkomendasikan
Kesimpulan pada penelitian ini merupakan simplifikasi dan kongklusi dari pembahasan yang terfokus pada esensi isi dari identication’s box. Isi dari kesimpulan merupakan output dari penelitian ini yang merupakan jawaban terhadap permasalahan dan tujuan penelitian yakni sektor-sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso yang memiliki ciri-ciri yang dikreteriakan pada kemampuannya memberikan manfaat external economic’s yang memadai dan memadainya dukungan ketersediaan factor’s endowment diperoleh-nya, sebagai sektor perekonomian yang dicari oleh tujuan penelitian.
.
Metodologi Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah penelitian diskriptif- analisis, karena penelitian ini hanya mengexplorasi indikator-indikator penelitian, selanjutnya indicator-indikator yang diperoleh dari hasil analisis disajikan pada twabel dan diintrepretasikan maknannya.
Daerah yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Kabupaten Bondowoso dengan pertimbangan sebagai berikut :
1.Kabupaten Bondowoso memiliki Sektor Pertanian sebagai sektor perekonomian basis (nilai sumbanga terhadap Product Domestic sub Regional Bruto sebesar 48,75%, proporsi penyerapan tenaga kerja sebesar 58 ,19% dan nilai Location Quotient sebesar 1,25 yang merupakan nilai–nilai ekonomi tebesar dalam stuktur perekonomian), yang secara imperatif perlu terus dikembangkan karena sektor perekonomian tersebut merupakan sumber permintaan efektif bagi pengembangan sektor-sektor perekonomian yang lain; dimana sektor-sektor perekonomian non pertanian perlu dikem-bangkan untuk mendampingi pengembangan Sektor Pertanian kembali;
2.Kabupaten tersebut memiliki sektor-sektor perekonomian yang mempunyai kemampuan memberikan external economic’s yang tinggi dan rendah, disamping itu posisi relatifnya pada struktur perekonomian Jawa Timur yang berkembang secara dinamis juga cenderung menguat dan menurun, kecende-rungan-kecenderungan tersebut sebagai suatu fenomena ekonmi perlu dipertimbangkan sebagai suatu dasar pertimbangan dalam suatu penyusunan blue print perencanaan pembangunan daerah.

Unit Analisis
Karena penelitian ini mengamati dan menganalisis struktur perekonomian Kabupaten Bondowoso dengan segala dinamika perubahannya, maka unit analisis pada penelitian ini adalah struktur perekonomian Kabupaten Bondowoso.

Sumber data
Karena data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data sekundair dan penelitian ini bersifat penelitian makro ekonomi regional maka data diperoleh dari instansi pemerintah yang berwenang mengumpulkan antara lain Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Timur untuk memperoleh table Input–Output dan diskripsi ketenaga kerjaan per sector perekonomian untuk struktur perekonomian Propinsi Jawa Timur, Badan Pusat Statistik Kabupaten Bondowoso untuk diskripsi ketenaga kerjaan per sektor Kabupaten Bondowoso. Bappeda Kabupaten Bondowoso untuk kelengkapan data yang dibutuhkan.

Metode analisis
Untuk menguji hipotesis penelitian yakni dugaan bahwa perekonomian Kabupaten Bondowoso merupakan perekonomian yang mampu berkembang tetapi dalam kapasitas yang terbatas dan mencapai tujuan penelitian yakni mencari sektor-sektor perekonomian yang efek ramifikasinya mampu mendorong perekonomian daerah Kabupaten Bondowoso digunakan alat analisa yang menggunakan 2 (dua) pendekatan yakni pendekatan yang berdasarkan kelimpahan faktor dan pendekatan yang berdasarkan eksternalitas.
Pendekatan yang berdasarkan ketersediaan faktor adalah Koefisien Pergeseran Stuktural (modifikasi Archelus) yang terdiri dari 3 (tiga) alat analisis yakni alat analisis Koefisien Komponen Laju Pertumbuhan (National/regional growth component), Koefisien Komponen Bauran Industri (Industrial Mix Component) dan Koefisien Kedudukan Kompetitif (Competetive Effect Component).

Koefisien Pergeseran Struktural (modifikasi Archelus)
Dij = Nij + Mij + Cij (Yoseph,2002)
Dimana:
Dij = besarnya nilai Koefisien Pergeseran Archelus yang menjelaskan besarnyaperubahan proporsi penyerapan tenaga kerja di sektor perekonomian i didaerah j selama rentang waktu antara periode awal sampai akhir.
Nij = besarnya perubahan proporsi penyerapan tenaga kerja akibat pengaruh laju perubahan penyerapan tenaga kerja diseluruh sektor perekonomian regioanal yang merembes ke sektor perekonomian i di daerah j, dimana daerah j menjadi bagiannya
Mij = besarnya perubahan proporsi tenaga kerja tenaga kerja di sektor perekonomian i didaerah j akibat pengaruh perubahan penyerapan tenaga kerja disektor perekonomian i ditingkat regional yang disebabkan interaksi antara penyerapan tenaga kerja di sektor perekonomian i dengan penyerapan tenaga kerja diseluruh sektor perekonomian ditingkat regional yang merembes ke sektor perekonomian i di daerah j dimana daerah j menjadi bagiannya
Cij = besarnya perubahan proporsi penyerapan tenaga kerja di sektor perekonomian i di daerah j akibat kemampuan daerah j tersebut untuk menggeserkan kedudukan sektor peekonomian i nya pada struktur perekonomian regional dimana daeraj j menjadi bagiannya.
Nij = Eij . m Mij = Eij {( E*in - Ein )/Ein)– m} Cij = Eij ( E*ij - Eij )/Eij - Eij ( E*in – Ein )/Ein
Eij = prosentase jumlah tenaga kerja disektor perekonomian atau industri i didaerah j pada awal periode;
E*In = prosentase jumlah tenaga kerja disektor perekonomian atau industri i nasionalatau daerah yang lebih luas dimana daerah j menjadi bagiannya pada akhir periode;
Ein = prosentase jumlah tenaga kerja disektor perekonomian atau industri i nasionalatau daerah yang lebih luas dimana daerah j menjadi bagiannya pada awal periode;
Selanjutnya, jika m = pertumbuhan ekonomi nasional atau wilayah yang lebih luas dimana daerah j menjadi bagiannya, dan secara matematis dirumuskan sebagai m = ( E*in – Ein )/ Ein. ;
Analisis Keterkaitan
Alat analisis kedua adalah alat analisis yang berkaitan dengan pentingnya peranan Internal Gap dalam Teori Dua Kesenjangan (Two Gap Model) Seperti yang telah disinggung dalam uraian teori, maka keunggulan alat analisis tersebut adalah bahwa sektor-sektor perekonomian yang direkomendasikan adalah sektor-sektor perekonomian yang mampu memberikan external economic’s atau complementary effect to invest yang tinggi pada sektor peekonomian yang lain.
1 Koefisien Keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang
Besarnya koefisien keterkaitan langsung dan tidak lansung dihitung berdasarkan rumus:
BLTli = Cij
Dimana : BLTLi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang
Cij = unsur matriks kebalikan leontief tertutup
Koefisien penyebaran dihitung dengan rumus :
CD =
Koefisien Penyebaran (Coefficient of dispersion ) menunjukkan pengaruh yang ditimbulkan oleh unit permintaan terakhir terhadap semua sektor perekonomian dalam perekonomian. Koefisien Penyebaran menjelaskan pengaruh kenaikan setiap satu-satuan nilai permintaan akhir industri i terhadap industri-indus-tri yang menghasilkan output yang digunakan oleh industri i sebagai inputnya ( industri-industri hulu dari industri i)
2 Koefisien Keterkaitan langsung dan tidak langsung kemuka
Besarnya koefisien keterkaitan langsung dan tidak langsung kemuka dihitung ber-dasarkan rumus:
FLTLi = Cij
Dimana : FLTLi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan,
Cij = unsur matriks kebalikan Leontief terbuka.
Setelah mendapat gambaran tentang keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan maka dilanjutkan dengan menghitung Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of dispersion) . Kepekaan Penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung yang dinormalkan dengan jumlah sektor perekonomian dan jumlah koefisien matriks kebalikan Leontief (Asmussen ,1936 dan Bulmer Thomas 1982 dalam Budiharsono, 1998): Besaran Kepekaan Penyebaran tersebut menunjukkan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh satu unut permintaan akhir terhadap semua sektor didalam perekonomian. Secara matematis dirumuskan:
SD =
Di mana: SD = Kepekaan Penyebaran
Selanjutnya, setelah dihitung besaran keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan maka dilanjutkan dengan menghitung besaran keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang serta normalisasinya keseluruh sektor perekonomian yakni Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion)
Koefisien kepekaan penyebaran menjelaskan pengaruh dari setiap kenikkan satu-satuan nilai dari permintaan akhir sektor perekonomian i terhadap industri-industri yang menggunakan output industi i sebagai inputnya (industri-industri hilir dari industri i).

b.1 Koefisien Keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang
Besarnya koefisien keterkaitan langsung dan tidak lansung dihitung berdasarkan rumus:
BLTli = Cij
Dimana : BLTLi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang
Cij = unsur matriks kebalikan leontief tertutup
Koefisien penyebaran dihitung dengan rumus :
CD =
Koefisien Penyebaran (Coefficient of dispersion ) menunjukkan pengaruh yang ditimbulkan oleh unit permintaan terakhir terhadap semua sektor perekonomian dalam perekonomian. Koefisien Penyebaran menjelaskan pengaruh kenaikan setiap satu-satuan nilai permintaan akhir industri i terhadap industri-indus-tri yang menghasilkan output yang digunakan oleh industri i sebagai inputnya ( industri-industri hulu dari industri i)
b.2 Koefisien Keterkaitan langsung dan tidak langsung kemuka
Besarnya koefisien keterkaitan langsung dan tidak langsung kemuka dihitung ber-dasarkan rumus:
FLTLi = Cij
Dimana : FLTLi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan,
Cij = unsur matriks kebalikan Leontief terbuka.
Setelah mendapat gambaran tentang keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan maka dilanjutkan dengan menghitung Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of dispersion) . Kepekaan Penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung yang dinormalkan dengan jumlah sektor perekonomian dan jumlah koefisien matriks kebalikan Leontief (Asmussen ,1936 dan Bulmer Thomas 1982 dalam Budiharsono, 1998): Besaran Kepekaan Penyebaran tersebut menunjukkan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh satu unut permintaan akhir terhadap semua sektor didalam perekonomian. Secara matematis dirumuskan:
SD =
Di mana: SD = Kepekaan Penyebaran
Selanjutnya, setelah dihitung besaran keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan maka dilanjutkan dengan menghitung besaran keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang serta normalisasinya keseluruh sektor perekonomian yakni Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion)
Koefisien kepekaan penyebaran menjelaskan pengaruh dari setiap kenikkan satu-satuan nilai dari permintaan akhir sektor perekonomian i terhadap industri-industri yang menggunakan output industi i sebagai inputnya (industri-industri hilir dari industri i).
b.1 Koefisien Keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang
Besarnya koefisien keterkaitan langsung dan tidak lansung dihitung berdasarkan rumus:
BLTli = Cij
Dimana : BLTLi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang
Cij = unsur matriks kebalikan leontief tertutup
Koefisien penyebaran dihitung dengan rumus :
CD =
Koefisien Penyebaran (Coefficient of dispersion ) menunjukkan pengaruh yang ditimbulkan oleh unit permintaan terakhir terhadap semua sektor perekonomian dalam perekonomian. Koefisien Penyebaran menjelaskan pengaruh kenaikan setiap satu-satuan nilai permintaan akhir industri i terhadap industri-indus-tri yang menghasilkan output yang digunakan oleh industri i sebagai inputnya ( industri-industri hulu dari industri i)
b.2 Koefisien Keterkaitan langsung dan tidak langsung kemuka
Besarnya koefisien keterkaitan langsung dan tidak langsung kemuka dihitung ber-dasarkan rumus:
FLTLi = Cij
Dimana : FLTLi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan,
Cij = unsur matriks kebalikan Leontief terbuka.
Setelah mendapat gambaran tentang keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan maka dilanjutkan dengan menghitung Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of dispersion) . Kepekaan Penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung yang dinormalkan dengan jumlah sektor perekonomian dan jumlah koefisien matriks kebalikan Leontief (Asmussen ,1936 dan Bulmer Thomas 1982 dalam Budiharsono, 1998): Besaran Kepekaan Penyebaran tersebut menunjukkan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh satu unut permintaan akhir terhadap semua sektor didalam perekonomian. Secara matematis dirumuskan:
SD =
Di mana: SD = Kepekaan Penyebaran
Selanjutnya, setelah dihitung besaran keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan maka dilanjutkan dengan menghitung besaran keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang serta normalisasinya keseluruh sektor perekonomian yakni Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion)
Koefisien kepekaan penyebaran menjelaskan pengaruh dari setiap kenikkan satu-satuan nilai dari permintaan akhir sektor perekonomian i terhadap industri-industri yang menggunakan output industi i sebagai inputnya (industri-industri hilir dari industri i).

Hasil Analisis Dan Pembahasan
Temuan-temuan penelitian tentang karakteristik tiap tiap sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso akan lebih dahulu disajikan dalam bentuk kategorial pada identification’s box dibawah ini.
Tabel 4 Kategori Sektor-sektor Perekonomian Kabupaten Bondowoso Berdasarkan posisi keungulan komparatif dan Kemampuannya Memberikan Manfaat External Economic’s
Identification’s box pada tabel 7.3 dipersiapkan untuk membuktikan kebenaran hypotesis penelitian dan menjawab tujuan penelitian yakni mengidentifikasi sektor-sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso yang perlu dikembangkan secara imperatif untuk membangun perekonomian yang dapat berkembang secara berkelanjutan. Urutan dari prioritas pengembangan berturut-turut sesuai dengan urutan abjad dari beberapa kotak dalam identification’s box diatas yang disusun berdasarkan kemampuannya dalam memberikan external economic’s dan posisi keunggulan komparatifnya. Urutan prioritas secara ekonomi-rasional diberikan dengan mempertimbangkan bahwa pilihan diberikan dalam kondisi keterbatasan sumber-sumber pembiayaan pembangunan (diperlakukan sebagai asumsi)Secara umum temuan-temuan penelitian terutama mengenai kecenderungan pergeseran struktual yang disajikan tabel 7.3 meununjukkan terdapat 5 (lima) sektor perekonomian yang posisinya dalam deffrential shift didukung oleh ketersediaan factor-faktor yang dibutuhkan (factor’s endowment). yakni sektor perdagangan, sector keuangan, sektor pertanian, sektor pertambangan dan galian serta sektor konstruksi. Dari kelima sektor perekonomian tersebut hanya sektor pertanian yang mengalami penguatan proporsi penyerapan tenaga kerja 2 (dua) digit dibelakang koma (tabel 7.1) Dari sisi complementary effect to invest 2 (dua) sektor perekonomian yang benar-benar memiliki kemampuan memberikan manfaat external economic’s tinggi yakni sektor perdagangan dan sektor keuangan, sedangkan sektor pertanian, sektor pertambangan dan galian serta sektor konstruksi memiliki kemampuan memberikan manfaat external economic’s yang dipertimbangkan (berdasarkan criteria penelitian). Dari sisi kerangka kerja teori (theoretical frame work), sektor industri sebagai sektor perekonomian yang paling relevan untuk mendampingi perluasan kapasitas produksi sektor pertanian tidak dapat direkomendasikan untuk dikembangkan secara imperatif, alasannya adalah walaupun sektor industri memiliki kemampuan memberikan external economic’s yang tinggi tetapi tidak didukung oleh ketersediaan faktor- faktor yang dibutuhkan (endowment factor’s) unruk suatu pembangunan portofolio industri yang handal.

Kondisi obyektif tersebut mendukung kebenaran hypotesis penelitian bahwa perekonomian Kabupaten Bondowoso yang berbasis pertanian adalah suatu perekonomian daerah yang yang memiliki sektor-sektor perekonomian yang dapat dikembangkan secara imperatif agar berkembang secara berkelanjutan, namun da-lam alternatif dan kapasitas perkembangan yang terbatas.

Saran/rekomendasi
Dengan mempertimbangkan hasil-hasil penelitian yang penting, antara lain bahwa sektor-sektor perekonomian yang dapat diajukan untuk mendapatkan pertim- bangan bagi penentuan prioritas dalam perencanaan pembangunan daerah di Kabupaten Bondowoso adalah sektor-sektor perekonomian yang mampu memberi- kan manfaat external economic’s yang tinggi dan juga didukung oleh ketersediaan factor’s endowment yang berguna untuk membangun keunggulan komperatif, maka dalam penelitian ini sektor-sektor perekonomian yang direkomendasi untuk memperoleh prioritas dalam perencanaan pembangunan di kabupaten tersebut adalah : sektor keuangan, sektor perdagangan, sektor komunikasi & angkutan serta sektor pertanian, sektor pertambangan dan sektor konstruksi. Dilain pihak sektor industri yang keberadaanya sangat penting untuk membawa perekonomian secara keseluruhan memasuki suatu proses perkembangan yang berkelanjutan kurang mendapat dukungan dari ketersediaan faktor-faktor (factor’s endowment) yang dibutuhkan. Kondisi tersebut membutuhkan rekomendasi khusus untuk meelakukan industrialisasi di Kabupaten Bondowoso ini.
Sektor keuangan penting untuk direkomendasikan karena keberadaan sektor perekonomian tersebut dalam menjalankan fungsi intermediasi membantu sektor-sektor perekonomian yang lain dalam memperoleh permodalan. Sektor-sektor perekonomian riil yang erat keberadaannya dengan sektor pertanian hendaknya memperoleh pertimbangan untuk mendapatkan injeksi yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso harus dapat menarik kehadiran para invest-tor di sektor keuangan tersebut. Layak untuk memperoleh pertimbangan adalah masuknya Lembaga-lembaga perkreditan rakyat yang menawarkan bunga kredit yang relatif rendah untuk menginjeksi keperluan likwiditas usaha-usaha kecil dan menengah yang banyak tersebar di Kabupaten Bondowoso. Sektor perdagangan yang merupakan sektor perekonomian Kabupaten Bondowoso yang teridentifikasi memiliki kemampuan memberikan manfaat external economic’s yang tinggi disertai dengan daya dukung ketersediaan faktor (factor’s endowment) yang tinggi seperti sektor perekonomian yang disinggung sebelumnya, seharusnya mendapat perhatian dan seyogyanya secara imperatif didorong. Perhatian dan pemberian prioritas terutama tertuju pada lembaga-lembaganya yang bergerak di usaha outlet distribusi yang menawarkan hasil produksi Kabupaten tersebut dan lembaga-lembaganya yang bergerak memasarkan produk-produk ke daerah-daerah pusat pertumbuhan dan daerah-daerah maju sekitarnya.

Khususnya bagi lembaga-lembaga pemasaran yang disebutkan terakhir tersebut sangat erat kaitannya dengan kepentingan Kabupaten Bondowoso untuk dapat menyerap pertumbuhan ekonomi daerah-daerah tujuan pasar tersebut serta fungsinya untuk membangun suatu struktur perekonomian yang komplementer dengan daerah-daerah lain dalam wilayah perekonomian subtantif yang lebih luas. Sektor perekonomian yang ketiga yang penting untuk direkomendasikan adalah sektor komunikasi & angkutan.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso seyoganya membangun serta memperhatikan kondisi jalan raya terutama jalan yang menghubungkan daerah-daerah sentra produksi dengan tempat-tempat yang merupakan pintu-pintu niaga. Ditempat-tempat yang merupakan pintu-pintu niaga seyogyanya diperhatikan ke-lengkapan infrasturktur komunikasinya.
Rekomendasi penelitian ini juga mempertimbangkan posisi sektor perta-nian yang masih domi-nan, sehingga kedepan masih sangat penting untuk tetap dibina sebagai sekor perekonomian yang bertindak sebagai sumber permintaan efektif bagi kepentingan perkembangan sektor-sektor perekonomian yang lain yang didorong secara imperatif.
Berpijak dari pemikiran diatas, maka penelitian ini mengemukakan saran-saran mengenai sektor perekonomian mana yang paling di kedepankan untuk mendapat prioritas yang tertinggi selain sektor-sektor non pertanian seperti tersebut diatas. Saran yang mengemukan dalam penelitian ini adalah kembali mempertimbangkan peranan relatif sektor pertanian dalam pembangunan, dalam arti seyogyanya Pemerintah Kabupaten Bondowoso mendorong perkembangan sektor pertanian lebih lanjut dengan suatu pola Industrial Complex’s. Industrial Complex’s adalah suatu konsep pemikiran yang secara teoritis dipersiapkan sebagai cara mendorong perkembangan bagi daerah-daerah yang tertinggal (dimana di Kabupaten Bondowoso ini ditandai dengan Koefisien Kedudukan Kompetitif dari sektor industri yang relatif rendah).

Pengembangan sektor pertanian dengan pola Industrial Complex’s tersebut sama artinya sebagai suatu usaha industrialisasi dengan menamfaatkan keunggulan komparatif sektor pertanian, atau suatu industrialisasi yang berbasis pada keunggul-an kompertif Sektor Pertanian. Usaha tersebut penting untuk dilakukan mengingat pentingnya peranan sektor industri sebagai sektor perekonomian yang paling relevan uantuk membarengi peningkatan produktivitas sektor pertanian, namun dukungan dari keunggulan komparatif yang berasal sektor Industri itu sendiri tidak tersedia.

Dengan pengembangan sektor pertanian yang dikembangkan secara Industrial Complex’s ini diharapkan sektor-sektor perekonomian yang tidak meng-isi dalam struktur perekonomian Kabupaten Bondowoso seperti sektor listrik, gas dan air dapat mengisi.
Dengan pola pengembangan pertanian secara Industrial Complex’s ini diharapkan pula sektor-sektor perekonomian yang proses perkembangannya lebih diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar (yang tidak terekomendasi) seperti sektor jasa, sektor industri dan sektor-sektor perekonomian yang lain (sektor-sektor perekonomian yang tidak mendapat dukungan dari ketersediaan factor’s endowment atau yang kemampuan memberikan external economic’snya pada perekonomian lemah) akan dapat didorong untuk berkembang. Perkembangan tersebut diharapka dapat terjadi karena besarnya kemampuan external econo-mic’s yang diberikan oleh proses industrialisasi yang berpola Industrial Complex’s ( yang berpijak pada keunggulan komparatif sektor pertanian) pada perekonomian.

Peneliti: Urip (Dosen FE Unej)
Read more.....

Sabtu, 07 Februari 2009

SISI LAIN PERTANIAN ORGANIK (organic agriculture)

Pertanian organik (organic agriculture) mulai merambah dan dikembangkan kalangan berduit, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan sangat familiar di kembangkan oleh petani-petani non tradisional. Mengapa demikian? Bagi petani yang awam dan tradisional menganggap produk organik adalah produk yang bagus tidak hanya dari segi kandungan nutrisi, namun juga penampilan produknya. Akan tetapi kenyataannya produk pertanian organik itu tidaklah selalu bagus,
sebagai contoh daun berlobang, berukuran kecil, dan model kurang menarik, karena tidak menggunakan pestisida dan zat perangsang tumbuh atau pupuk an organik lainnya.

Pada awal usahataninya petani belum menghasilkan produk yang sesuai harapan. Bagi petani pada taraf introduksi teknologi ini dan imitation keberhasilan pertanian organik, serta tergiur mahalnya produk pertanian organik maka akan coba-coba mengembangkan pada model pertanian ini. Padahal inilah yang menjadi awal kegagalan petani tradisional, mencoba usahatani organik dengan sangat minim pengetahuan. Sementara kalangan petani komersiil merencanakan pertanian organik dengan sangat matang dan teliti yang didukung dengan teknologi yang canggih, misalnya: hasil uji laboratorium kandungan unsur hara tanah, air dan tektur tanah dengan daya dukung anggaran yang sangat kuat. Sementara kekecewaan, kegagalan dan tantangan selalu membayangi petani dalam mengembangkan usahatani sistem organik.

Kekecewaan petani yang kedua yaitu sebagian petani kita terbiasa dan sangat tergantung menggunakan pupuk anorganik, yang notabenenya memberikan respon cepat pada tanaman. Misalnya pemupukan Urea akan menghasilkan pertumbuhannya tanaman yang cepat, sementara dengan pemupukan organik pengaruh perubahan pertumbuhan tanaman tergolong lambat. Baru pada musim ketiga dan seterusnya, efek pupuk organik tersebut menunjukkan hasil yang nyata perbedaannya dengan pertanian non organik. Sehingga dapat disimpulkan pertanian organik di tahun-tahun awal akan mengalami banyak kendala dan membutuhkan modal yang cukup untuk bertahan. Oleh karena itu Kalau model ini akan dijadikan alternatif yang akan dikembangkan secara umum, baik untuk tujuan antisipasi adanya kekurangan pamakaian pupuk anorganik akibat kelangkaan, atau tujuan kesehatan ataupun untuk mendorong komersialisasi petani tradisional maka perlu adanya insentif untuk petani, misalnya hasil/produk pertanian organik harus dibeli pemerintah setempat dengan harga yang lebih mahal daripada harga non organik.

Tantangan petani yang ketiga Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai sumber hara utama. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi tanaman harus berasal dari pupuk organik. Padahal dalam pupuk organik tersebut kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh di bawah realitas hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik, seperti Urea, TSP dan KCl. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan dasar tanaman (minimum crop requirement) cukup membuat petani kewalahan. Sebagai ilustrasi, untuk menanam sayuran dalam satu bedengan seluas 1 x 10 m saja dibutuhkan pupuk organik (kompos) sekitar 25 kg untuk 2 kali musim tanam atau setara dengan 25 ton/ha. Bandingakan dengan penggunaan pupuk anorganik Urea TSP dan KCl yg hanya membutuhkan total pemupukan sekitar 200-300 kg/ha. Karena memang umumnya petani kita bukan petani mampu yang memiliki lahan dan ternak sekaligus, sehingga mereka mesti membeli dari sumber lainnya dan ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi di samping tenaga yang lebih besar. Pertanyaannya: berapakah populasi ternak kita? Berapakah petani yang sudah memanfaatkan kotoran tersebut?

Setelah masalah penyediaan pupuk organik, masalah utama yang lain adalah teknologi budidaya pertanian organik itu sendiri. Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat diperlukan, terutama pada pembudidayaa pertanian organik di musim hujan.

Tembok besar yang harus ditembus sebagai cita-cita sorang interpreneur adalah pemenangan pangsa pasar. Negara maju memproteksi petaninya dengan sangat ketat dan berlapis, salah satunya dengan menerapkan sistem sertifikasi. Sementara pemasaran produk organik di dalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Sedangkan untuk pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyatannya banyak yang masih mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida. Petani yang benar-benar melaksanakan pertanian organik tentu saja akan merugi dalam hal ini. Di lain pihak biaya sertifikasi sangat mahal, karena yang disertifikasi bukan hanya produknya melainkan sistem on farm-nya juga dinilai. Hal ini berdasar rekomendasi Departemen Pertanian untuk standar pertanian organik di Indonesia, yang dituangkan dalam SNI 01-6729-2002, yaitu Sistem pertanian organik menganut paham organik proses, artinya semua proses sistem pertanian organik dimulai dari penyiapan lahan hingga pasca panen memenuhi standar budidaya organik, jadi bukan hanya dilihat dari produk organik yang dihasilkan saja. SNI sistem pangan organik ini merupakan dasar bagi lembaga sertifikasi yang nantinya juga harus di akreditasi oleh Deptan melalui PSA (Pusat Standarisasi dan Akreditasi). SNI Sistem pangan organik disusun dengan mengadopsi seluruh materi dalam dokumen standar CAC/GL 32 / 1999, Guidelines for the production, processing, labeling and marketing of organikally produced foods dan dimodifikasi sesuai dengan kondisi Indonesia.
Bila dilihat kondisi petani di Indonesia, hampir tidak mungkin mereka mendapatkan label sertifikasi dari suatu lembaga sertifikasi asing maupun dalam negri. Luasan lahan yang dimiliki serta biaya sertifikasi yang tidak terjangkau, menyebabkan mereka tidak mampu mensertifikasi lahannya, lantas bagaimana dengan daya saingnya? Tentu belum mampu bersaing. Untuk mengatasi hal tersebut salah satu jalan adalah membentuk suatu kelompok petani organik dalam suatu kawasan yang luas yang memenuhi syarat sertifikasi, dengan demikian mereka dapat pembiayaan sertifikasi usaha tani mereka secara gotong royong atau adanya uluran tangan dari Pemda setempat. Namun ini pun masih sangat tergantung pada kontinyuitas produksi mereka.
Tantangan dan kendala usahatani sistem pertanian organik tersebut di atas tidak bermaksud menghalangi, menakut-nakuti atau bahkan melarang kepada siapa saja yang inten atau interest terhadap model usahatani tersebut melainkan sekedar memberikan rambu-rambu kepada stakeholder (pemerintah, petani atau pengusaha). Lebih-lebih bagi pemerintah yang notabenenya sebagai pengambil kebijakan seyogyanya berpikir komprehensip tanpa label politik dan harus tetap berpihak kepada petani. Tidak berlebihan apabila semua pihak mengetahui lebih dalam tentang pertanian organik yang dipaparkan dari berbagai sumber di bawah ini.

Pengertian Pertanian Organik

Pertanian organik menurut Mcdeeck adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Selanjutnya Husnain dan Haris Syahbuddin mendefinisikan Pertanian organik yaitu "sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan". Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organik Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Serifikasi produk organik yang dihasilkan, penyimpanan, pengolahan, pasca panen dan pemasaran harus sesuai standar yang ditetapkan oleh badan standardisasi. Dalam hal ini penggunaan GMOs (Genetically Modified Organisme) tidak diperbolehkan dalam setiap tahapan pertanian organik mulai produksi hingga pasca panen.

Pustaka: disarikan dari beberapa pustaka
Read more.....