Rabu, 04 Februari 2009

PERBAIKAN MUTU GENETIK DAN SELEKSI BIBIT TERNAK SAPI

Kegiatan budidaya ternak diarahkan pada usaha agribisnis yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, karena konsumsi produk peternakan berupa daging, susu dan telur diyakini akan terus meningkat sebagai konsekuensi logis adanya peningkatan jumlah penduduk, meningkatkan pengetahuan, dan kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi, meningkatnya pendapatan dan tingkat kesejahteraan
masyarakat. Untuk itu pemenuhan kebutuhan daging dari dalam negeri sebagai salah satunya upayanya adalah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas melalui peningkatan mutu genetik dan selektifitas bibit ternak sapi.
Keberhasilan usaha ternak sapi ditentukan oleh 3 (tiga) faktor yang dominan, yaitu: pembibitan (breeding), pakan (feeding), dan pengelolaan (managing). Dalam makalah ini akan dibatasi hanya untuk membahas pembibitan (breeding) ternak sapi. Seleksi bibit ternak sapi dibedakan dalam 2 (dua) tujuan pemeliharaan, yaitu:
(a)Pemeliharaan sapi potong bakalan untuk tujuan digemukkan. keuntungan yang diharapkan adalah hasil dari penggemukan.
(b)Pemeliharaan sapi potong bibit untuk tujuan pengembangbiakan sapi potong. Keuntungan yang diharapkan adalah keturunannya.

Seleksi bibit untuk tujuan digemukkan
Pemilihan sapi potong bibit yang akan dipelihara tergantung pada selera (preverensi) peternak dan kemampuan modal yang dimiliki. Beberapa alternatif pemilihan bibit ternak sapi; berdasar lama dan pendeknya jangka waktu pemeliharaan serta berdasar bangsa atau type sapi potong yang akan dipelihara. Jangka waktu pemeliharaan yang pendek berarti harus memilih ternak jantan muda berkisar umur 1–1,5 tahun dengan masa pemeliharaan 3-6 bulan. Konsekuensi pemilihan ternak pada masa ini akan membutuhkan modal yang agak banyak karena kondisi ternak sudah menginjak remaja, akan tetapi biasanya keuntungan yang diperoleh lebih besar dari pada pemeliharaan sapi potong yang dimulai dari lepas sapih. Faktor penunjang lain cepatnya pemeliharaan ini karena fase pertumbuhan sapi yang lebih cepat dari pada fase pemeliharaan lepas sapih.
Pada jangka waktu pemeliharaan yang agak lama maka umur ternak sapi potong yang diusahakan berkisar lepas sapi sampai dengan umur 6 bulan. Waktu yang diperlukan untuk pemeliharaan atau penggemukan ini berkisar 1-1,5 tahun. Kondisi ini membutuhkan modal lebih kecil dari pada modal pada saat pemeliharaan sapi remaja.
Selain seleksi berdasar jangka waktu, juga berdasar bangsa/ type dari sapi potong yang akan dipelihara. Beberapa bangsa/ type sapi potong memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi keturunan Bos sondaicus/ Bos banteng yang berhasil dijinakkan. Beberapa hasil penelitian bahwa sapi bali tergolong sapi yang cukup subur, sehingga sebagai pilihan ternak sapi bibit yang cukup potensial. Fertilitas sapi Bali (Darmadja, 1980 dalam Murtidjo, 1990) 83 - 86 persen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sapi Bali dari sudut pandang pengembangbiakan lebih baik dari pada sapi asal Eropa yang hanya mencapai 60 persen.
Sapi Bali betina rata-rata mencapai dewasa kelamin pada umur 18 bulan, dengan siklus estrus rata-rata 18 hari. Sedang pada usia muda berkisar antara 20-21 hari dan 16-23 hari pada sapi bali betina dewasa. Lama masa birahi sangat panjang, yaitu sekitar 16-23 jam dengan masa subur 18-27 jam (Pane, 1977 dalam Murtidjo, 1990). Lama keuntungan sapi bali berkisar 280 – 294 hari, sedang prosentase kebuntingan sebesar 86,56 persen. Tingkat kematian pada saat melahirkan tergolong kecil, yaitu berkisar 3,65 persen. Selain itu persentase kelahiran dari jumlah sapi Bali yang dikawinkan mencapai 83,4 persen.
Berdasar Hasil penelitian Balitnak Grati dan Sidrap Sulawesi Selatan, bahwa Sapi Bali dengan berat badan 250 Kg yang digemukkan melalui 2 (dua) tahap pemeliharaan, dimana 3 (tiga) bulan pertama diberikan hijauan rumput saja dan pada 3 (tiga) bulan berikutnya diberi pakan tambahan berupa konsentrat bisa mencapai berat badan akhir 350 Kg. Hal ini mengindikasikan bahwa ternak sapi bali cukup potensial sebagai sapi bakalan untuk tujuan digemukkan.
Berikut ini perbedaan sapi bali dengan sapi ongole dilihat dari sudut pandang performance yang telah diberi pakan tambahan konsentrat selama 154 hari adalah sebagai berikut (tabel 1):
Sedangkan perbedaan karakteristik sapi bali dan sapi ongole berdasar parameter karkas yang diberi pakan konsentrat, ditunjukkan seperti tabel di bawah ini Tabel 2.):
Berdasar tabel tersebut di atas bahwa kedua type sapi tersebut masing-masing memiliki keunggulan, sehingga pemilihan jenis ternak tergantung pada tujuan dari pemeliharaannya. Untuk memperoleh prosentase daging yang lebih banyak dan lebih besar maka sapi ongole lebih unggul dari pada sapi bali, tetapi sebaliknya bila berdasar penyebaran ketebalan lemak bila dihubungkan dengan Marbeling.
Sedangkan perbedaan sapi Madura dengan sapi Grati dilihat dari sudut pandang performance yang telah diberi pakan tambahan konsentrat selama 154 hari adalah sebagai berikut (Tabel 3):
Sedangkan perbedaan karakteristik sapi Madura dan sapi Grati berdasar parameter karkas yang diberi pakan konsentrat, ditunjukkan seperti tabel di bawah ini (Tabel 4):
Berdasar kedua tabel tersebut di atas bahwa sapi Grati memiliki badan yang lebih besar dari pada sapi Madura, pun begitu pula luas penampang daging punggung. Melihat dua kriteria tersebut, maka Keputusan peternak akan lebih tepat bila memelihara pada pilihan sapi Grati dan menjual dengan sistem berat hidup.

Sapi Limousin
Sapi Limousin memiliki karakteristik bulu merah mulus, dengan bentuk tubuh memanjang, pada bagian perut agak mengecil tetapi bagian paha dan pinggul besar sehingga seolah-olah mirip dengan singa. Berat badan sapi janatan dewasa bisa mencapai 1–1,2 ton, dengan tingkat pertumbuhan yang sangat cepat, yaitu rata-rata pertambahan berat badan per hari dapat mencapai 1 -1,2 Kg/ekor/hari. Hal ini ditunjang dengan kemampuan sapi Limousin yang dapat mengkonsumsi pakan berkualitas rendah. Berat sapi Limousin betina dewasa rata-rata mencapai 650–800 Kg. Berdasar karakteristik tersebut tidak jarang sapi Limousin sangat digemari oleh peternak.

Seleksi Berdasar Ukuran Minimal Vital Statistik Sapi Potong
Termasuk seleksi berdasar performance adalah dengan melihat ukuran minimal vital statistik yang dipunyai ternak sapi potong, dengan kriteria sebagai berikut Tabel 5):
Penjelasan di atas hanya menginformasikan bila ternak tersebut dipilih pada usia muda dan dewasa. Lain halnya bila ternak yang akan dipilih pada masa masih pedet.
Secara umum persyaratan ternak pedet yang akan dipilih / diseleksi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya. (2) Matanya tampak cerah dan bersih. (3) Tidak terdapat tanda-tanda sering batuk, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.(4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba. (5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya. (6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur. (7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu. (8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.

Apabila ternak sapi yang dipilih untuk digemukkan pada masa muda maka persyaratan umum yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1)Tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat.
2)Kulit kendor, turgor elastik, dan tidak kusam yang dimungkinkan untuk penimbunan lemak pada saat penggemukan.
3)Bentuk tubuh kompak (tidak cacat), penampilan enerjik atau agresif dan punggung rata.
4)Paha besar dan jarak antara kedua paha lebar.
5)Bibit sapi mudah ditemukan di pasar hewan setempat.

Kawin Suntik / Inseminasi Buatan (IB)
Berbicara tentang pembibitan ternak tidak akan terlepas dengan kawin suntik (inseminasi buatan/ IB). karena dengan ini IB ini maka akan dapat memperbaiki mutu genetik ternak dan menghasilkan bibit ternak sapi yang berkualitas bagus.
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut 'insemination gun'.
Tujuan Inseminasi Buatan:
1.Memperbaiki mutu genetika ternak;
2.Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ;
3.Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
4.Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
5.Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

Keuntungan IB
1.Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
2.Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
3.Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
4.Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
5.Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
6.Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
7.Pejantan yang digunakan adalah pejantan bibit unggul.
8.Memungkinkan perkawinan antara ternak-ternak yang sangat berbeda ukuran besarnya tanpa menimbulkan cidera atau kerugian pada ternak betina maupun pejantan.
Keunggulan Sapi Hasil IB
1.Lebih baik daripada kawin alami.
2.Pertumbuhan cepat, bobot badan 1–1,2 kg/hari.
3.Bobot sapi dewasa 1–1,2 ton.
4.Dapat mengkonsumsi pakan berkualitas rendah.
5.Dapat beradaptasi dengan lingkungan.

Kerugian IB
1. Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
2. Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
3. 3.Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
4.Adanya Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).
Anatomi dan Fisiologi Alat Kelamin Betina
Pubertas (kematangan alat kelamin / dewasa kelamin) terjadi akibat aktivitas dalam ovarium (indung telur), umur pubertas pada sapi adalah antara 7 - 18 bulan, atau dengan berat badan telah mencapai kurang lebih 75% dari berat dewasa. Kecepatan tercapainya umur dewasa kelamin tergantung dari:
1.Jenis / bangsa sapi;
2.Gizi, Bila jumlah dan kandungan gizi pakan kurang jumlah atau mutunya, maka dewasa kelamin akan lebih lama dicapai, hal ini disebabkan berat badan yang kurang;
3.Cuaca, Di daerah tropis seperti di Indonesia, umur dewasa kelamin lebih cepat / muda
4.Penyakit, Karena mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berat badan, apalagi bila menyerang alat kelamin, maka kemungkinan besar umur dewasa kelamin lebih lambat dicapai.
Siklus birahi pada sapi betina yang normal biasanya berulang setiap 21 hari, dengan selang antara 17-24 hari. Siklus birahi akan berhenti secara sementara pada keadaan-keadaan:
• Sebelum dewasa kelamin;
• Masa post-partum.
Siklus birahi dibagi dalam 4 tahap, dan berbeda-beda pada setiap spesies hewan. Tahapan dan lamanya pada sapi dapat ditemui di bawah ini :
1. Estrus
Pada tahap ini sapi betina siap untuk dikawinkan (baik secara alam maupun IB). Ovulasi terjadi 15 jam setelah estrus selesai. Lama periode ini pada sapi adalah 12 - 24 jam.
2. Proestrus
Waktu sebelum estrus. Tahap ini dapat terlihat, karena ditandai dengan sapi terlihat gelisah dan kadang-kadang sapi betina tersebut menaiki sapi betina yang lain. Lamanya 3 hari.
3. Metaestrus
Waktu setelah estrus berakhir, folikelnya masak, kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan pertumbuhan / pembentukan corpus luteum (badan kuning). Lama periode ini 3 - 5 hari.
4. Diestrus
Waktu setelah metaestrus, corpus luteum meningkat dan memproduksi hormon progesteron.
Periode ini paling lama berlangsungnya karena berhubungan dengan perkembangan dan pematangan badan kuning, yaitu 13 hari.
Pada saat keadaan dewasa kelamin tercapai, aktivitas dalam indung telur (ovarium) dimulai. Waktu estrus, ovum dibebaskan oleh ovarium. Setelah ovulasi terjadi, bekas tempat ovarium tersebut itu dipenuhi dengan sel khusus dan membentuk apa yang disebut corpus luteum (badan kuning) Corpus luteum ini dibentuk selama 7 hari, dan bertahan selama 17 hari dan setelah waktu itu mengecil lagi karena ada satu hormon (prostaglandin) yang merusak corpus luteum dan mencegah pertumbuhannya untuk jangka waktu yang relatif lama (sepanjang kebuntingan).
Selain membentuk sel telur, indung telur / ovarium juga memproduksi hormon, yaitu:
• Sebelum ovulasi: hormon estrogen;
• Setelah ovulasi corpus luteum di ovarium memproduksi: hormon progesteron
• Hormon-hormon ini mengontrol (beri jarak) kejadian siklus birahi di dalam ovarium, selama kebuntingan.

Tanda-Tanda Ternak Yang Birahi
Interval / jarak waktu antara satu periode birahi ke periode birahi berikutnya, selama 21 hari. Lama birahi sapi antara 10-24 jam. Observasi birahi dilakukan 2 (dua) kali sehari pagi dan sore.
1. Keluar lendir transparan agak tebal menggantung pada vulva atau pangkal ekor. Tampak tidak tenang
2.Vulva bengkak dan kemerahan
3.Palpasi vulva terasa hangat
4.Nafsu makan hilang
5.Menguak-nguak mencari pejantan
6.Menaiki dan diam bila dinaiki
7.Tampak tidak tenang

Pencatatan Kegiatan IB

Pencatatan diperlukan untuk menentukan kemajuan program inseminasi buatan pada individu sapi betina, pada sekelompok ternak betina dalam suatu peternakan atau sekelompok betina dalam suatu wilayah inseminasi buatan yang tidak dapat dipisahkan dari usaha peningkatan mutu ternak. Sistim pencatatan meliputi:
1.Sistim pencatatan dan laporan yang mencakup penampilan ternak peserta IB, yaitu identitas ternak, tanggal birahi, tanggal perkawinan dan tanggal melahirkan serta kesehatan.
2.Sistim pencatatan dan laporan operasional IB yang mencakup jumlah dosis IB dan jumlah kelahiran pedet.

Koleksi Pejantan IB
Pejantan yang digunakan untuk program inseminasi buatan, dalam upaya untuk meningkatkan mutu genetik keturunan hasil IB. Ada beberapa jenis sapi yang direkomendasikan:
A.Sapi Potong: 1) Limousin, 2) Simmental, 3) Ongole, 4) Madura, 5) Bali, 6) Brangus, 7) Brahman dan 8) Angus
B.Sapi Perah hanya Sapi FH

Saat Perkawinan Yang Tepat
Mengetahui saat perkawinan yang tepat pada sapi potong merupakan syarat untuk dapat memahami waktu pelaksanaan inseminasi buatan untuk perkawinan induk sapi potong. Pengetahuan ini sangat penting artinya bagi peternak.

Pelaporan Program IB
Keberhasilan program pelaksanaan inseminasi buatan ditentukan oleh kemampuan peternak melaporkan permintaan pelayanan inseminasi buatan kepada inseminator yang tepat untuk dilaksanakan inseminasi buatan.
Prosedur pelaporan IB dapat ditempuh:
1.Menghubungi pos IB terdekat.
2.Peternak menghubungi langsung inseminator.
3.Peternak menghubungi inseminator melalui telepon.

Kesuburan dan Kemajiran
Kesuburan (fertilitas) adalah kemampuan sapi betina untuk bunting melahirkan anak hidup setiap sekitar 12 bulan. Sedangkan kemajiran (ketidaksuburan) adalah keadaan dimana seekor sapi betina hanya mampu melahirkan dengan jarak kelahiran lebih panjang dari pada 12 bulan. Istilah ini juga dipakai bagi sapi betina yang sulit menjadi bunting.
Keadaan ekstrim dari kemajiran adalah sterilitas, dimana sapi tidak mampu untuk bunting sama sekali. Sapi yang steril biasanya dipotong karena merugikan untuk dipelihara, kecuali untuk tenaga tarik.

Harapan Untuk Kesuburan

Secara umum, setiap pelaksanaan inseminasi buatan hanya berhasil menghasilkan kebuntingan maksimal 55%, artinya, bila 100 ekor sapi betina di inseminasi satu kali, hanya 55 sapi betina yang akan melahirkan seekor anak sapi yang sehat, hal ini mungkin disebabkan oleh :
• beberapa ovum (sel telur) tidak keluar dari ovarium (indung telur), atau bahkan tidak ada ovulasi sama sekali;
• beberapa ovum yang dibuahi mati sebelum hari ke-13, hari ke-14 sampai hari ke-42 atau setelah 42 jam
Bila hal ini terjadi, maka sapi akan mampu birahi lagi dan dapat di inseminasi kembali pada estrus berikutnya. Setelah iniseminasi inipun harapan keberhasilannya tetap 55%. Oleh karena itu, 6% dari seluruh populasi sapi memerlukan lebih dari 3 kali inseminasi sampai berhasil bunting, meskipun mereka sehat.
Jarak Antar Kelahiran
Jarak antar kelahiran (calving interval) yang baik adalah kurang dari 12 bulan, sebaiknya 10 sampai 11 bulan. Pada jarak ini, waktu istirahat bagi rahim setelah kebuntingan cukup panjang, dan sapi telah siap lagi untuk bunting sehingga memaksimalkan keuntungan bagi pemiliknya. Terutama pada sapi perah, jarak antar kelahiran ini sangat penting karena mempengaruhi siklus laktasi dan produksi susu.

Penyebab Infertilitas
Infertilitas biasanya ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda birahi atau meskipun dikawinkan / diinseminasi, kebuntingan tidak terjadi.
1.Tidak ada gejala-gejala birahi
Tidak ada gejala birahi, bila terjadi pada sapi bunting dan setelah melahirkan, maka keadaan tersebut adalah normal. Tetapi apabila kejadian ini terjadi pada sapi yang tidak bunting (setelah positif didiagnosa tidak bunting) dianggap abnormal. Bila dilihat dari umur dan berat badan seharusnya sudah mencapai pada usia dewasa kelamin tetapi gejala birahi belum juga tampak maka dianjurkan untuk dipotong sebagai ternak afkir, Sebaiknya memang ditunggu dan diamati beberapa saat karena kadang-kadang dewasa kelamin memang datang terlambat dan sebaiknya diperiksakan pada dokter hewan atau petugas ATR.
Beberapa kemungkinan bisa menjadi penyebab tidak terjadinya birahi pada sapi dewasa, diantaranya :
a.Saat sedang bunting
b.tidak ada cukup pakan atau intake makanan kurang
c.adanya kista dalam ovarium, kelainan ini dapat diobati dengan Prostaglandin (PGF 2a), birahi diaharapkan terjadi 2-3 hari setelah pengobatan
d.badan kuning yang menetap (corpus luteum persistence), yang dapat terjadi disalah satu atau kedua ovarium, pengobatan juga dilakukan dengan menggunakan Prostaglandin (PGF 2a).
e.tanda-ta nda birahi pada sapi sebenarnya terjadi , tetapi tidak terlihat (terlewatkan) oleh petani.
2.Meskipun di inseminasi beberapa kali, sapi tetap tidak bunting dan birahi lagi
3.Keadaan ini dapat disebabkan oleh :
a.Tidak ada pembuahan, penyebabnya antara lain:
(1) pejantan mungkin tidak subur
Ada masalah dengan penyimpanan atau perlakuan semen. Kalau ini terjadi, maka sapi yang lain yang di Inseminasi dengan semen yang sama juga tidak akan bunting
Bila semen baik, maka kesuburan sapi betina harus diperiksa oleh Dokter Hewan,
terjadi perlukaan dalam indung telur atau terjadi perlekatan, bila hal ini terjadi maka tidak dapat diobati
Tidak terjadi ovulasi dalam jangka waktu yang lama setelah melahirkan. Pengobatan dapat dicoba dengan HCG (hanya boleh dilakukan oleh Dokter Hewan)
Ovulasi terlambat (lebih dari pada 15 jam setelah birahi). Pengobatan dengan HCG
Adanya infeksi atau kelainan dengan hormon dalam uterus (rahim). Infeksi dalam rahim kadang-kadang sembuh sendiri setelah 2 siklus birahi.
Infeksi dalam vagina
b. Embrio (janin) mati segera setelah pembuahan, penyebabnya adalah :
Ketidak sesuaian genetis antara induk dengan pejantan, dapat dicoba dengan menginseminasi menggunakan semen dari pejantan lain
Stress
Demam : suhu badan tinggi (infeksi umum), yang menandakan adanya serangan penyakit menular
Penyakit pada hati
Pakan kurang atau terlalu banyak
Infeksi dalam rahim
c.Siklus birahi singkat. Yang normal biasanya 18-24 hari, abnormal apabila siklus berjalan kurang dari 18 hari, kemungkinan penyebabnya adalah:
Sista pada follikel : nimfomania, sapi birahi secara berulang dengan jarak yang sering (tidak sesuai dengan siklus), selalu menaiki sapi betina lain, dan kadang banyak keluar cairan (lendir) dari vulva. Pengobatan dapat dilakukan dengan HCG (hanya oleh Dokter Hewan)
Salah mengidentifikasi atau monitoring birahi.
d. Siklus birahi yang panjang (lebih dari 24 hari) :
Kesalahan mengidentifikasi birahi. Biasanya yang kita lihat adalah siklus birahi yang ke dua (selanjutnya)

Bahan Bacaan: Mohon ma'af belum bisa ditampilkan

Read more.....

Selasa, 03 Februari 2009

Perdagangan Internasional dengan Market Based Approach

I. Pendahuluan
Sejalan dengan semakin miningkatnya liberalisasi perdagangan dan investasi antar negara , keterkaitan antara kebijakan perdagangan dan kebijakan persaingan menjadi semakin penting. Liberalisasi perdagangan tanpa disertai dengan upaya menjaga persaingan yang sehat dikhawatirkan akan menyebabkan semakin meningkatnya konsentrasi di beberapa industri dan pada akhirnya akan mengurangi
tingkat persaingan.
Bagaimanapun, agar dapat bersaing secara efektif dipasar dunia yang mengalami globalisasi, semakin diperlukan perhatian kearah peningkatan akses pasar baik bagi perusahaan maupun bagi produk itu sendiri. Di kawasan di mana hambatan-hambatan masuk tidak ada sekalipun, namun pelaksanaan kebijakan antitrust masih belum berjalan dengan efektif, akan membatasi masuknya pendatang baru di dalam pasar. Dengan demikian, titik pusat perhatian telah beralih dari kebijakan perdagangan kearah kebijakan persaingan. Kebijakan persaingan dapat dipandang sebagai katup pengaman guna menjamin bahwa perusahaan- perusahaan disuatu negara tidak memiliki posisi dominant dengan mengorbankan perusahaan-perusahaan lain di samping juga menjamin terciptanya persaingan yang sehat.
Keberhasilan ekonomi global juga mengharuskan negara-negara bersaing secara efektif di pasar internasional, walaupun negara tersebut memiliki pasar lokal yang besar, namun banyak negara tersebut melakukan liberalisasi kompetitif. Demikian pula negara-negara yang terbiasa dengan tradisi proteksionis, seperti Perancis dan negara-negara yang menerapkan strategi substiutusi impor seperti Amerika Latin serta negara-negara bekas komunis mulai dari Uni Soviet sampai Vietnam, mulai membuka pasar dengan melakukan liberalisasi kompetitif
Pertimbangan yang mendasari perubahan tersebut adalah, kenyataan bahwa strategi substitusi impor dan juga autarkis yang kebanyakan dianut beberapa negara dunia ketiga, menampakan kelemahan yang mendasar setelah negara-negara tersebut terperangkap krisis utang pada tahun 1980an, dan pula terjadi perubahan kebijakan yang berorientasi keluar (outward looking).
Perubahan-perubahan dalam lingkugan dunia , dengan demikian , terdapat dua kecenderungan yang mempengaruhi perdagangan dan investasi luar negeri yaitu :
1.Pemerintah pada umumnya telah membebaskan aliran modal, tehnologi, manusia dan barang (liberalisasi kompetitif), dan
2.Peningkatan tehnologi informasi memungkinkan para manajer uantuk mengarahkan kegiatan-kegiatan perusahaan di berbagai kawasan dari jarak jauh.
Akibatnya persaingan global semakin meningkat dan memaksa perusahaan- perusahaan untuk mengupayakan produk- produk dengan kualitas yang lebih baik dan biaya lebih rendah. Untuk menekan biaya, perusahaan-perusahaan itu telah memindahkan sebagian kegiatan produksi ke negara-negara dengan biaya rendah, dan melalui akuisisi dan merger, sampai meningkatkan ukuran perusahaan untuk mencapai skala ekonomis. Meningkatkan penjualan dengan membuka pasar-pasar baru, juga akan memberikan skala ekonomi yang lebih besar bagi sistim manufaktur (pabrikasi), terutama jika perusahaan menjual produk-produk yang sama di semua pasar.
Persaingan global yang meningkat, seperti tersebut diatas akan mendorong manajemen untuk membuka pasar-pasar baru, baik dengan mengambil bagian pasar (market share) dari para pesaing, maupun masuk ke wilayah dengan pasar-pasar yang tingkat persaingannya kecil.
Dengan demikian, maka dalam melakukan perdagangan internasional diperlukan pendekatan yang berorientasi pasar (Market based strategy). Paradigma Market Based, selalu mengawali pemikiran dengan melihat pasar terlebih dulu, dengan melakukan analisis lingkungan eksternal (industri) dan dengan melihat organisasi yang dinamis, khususnya terhadap competitors,customers,suppliers dan produk substitusi, dibuatlah strategi bersaing yang diletakan bagaimana memproteksi pasar dengan cara membuat rintangan bagi pesaing agar mengalami kesulitan untuk dapat memasuki pasar (barriers to entry) .
Pendekatan pasar (Market Based Approach = MB), memulai strateginya dengan melihat pasar yang menarik (attractive market) sampai pada penciptaan strategi pemenangkan dengan menciptakan nilai (winning strategies for value creation), seperti yang digambarkan dalam diagram berikut:
Masing-masing tahapan dalam gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.Market Atractiveness = daya tarik pasar internasional dan pertumbuhannya.
2.Competitive Position = mengidentifikasi posisi persaingan.
3.Generic Strategy = menentukan strategi yang dapat digunakan secara sendiri– sendiri maupun kombinasi .
4.Competitive Strategy = menentukan strategi bersaing yaitu tindakan-tindakan ofensif ataupun defensif guna menciptakan posisi aman (defendable position) terhadap kelima kekuatan persaingan.
5.Competitive Advantage = unggul dalam persaingan.
6.Winning Strategy for Value Creation = Strategi yang memenangkan .

Dengan tahapan-tahapan tersebut, keberhasilan satu tahapan akan mempengaruhi keberhasilan tahapan yang lain sesudahnnya, selanjutnya akan tercapai sasaran terpenting dari strategi yaitu kinerja keuangan yang unggul dan langgeng melalui keunggulan kompetitif yang langgeng (Sustainable Competitive Advantage = SCA). Jika hal ini dicapai oleh suatu negara, maka kesejahteraan masyarakat di negara tersebut akan meningkat dengan meningkatnya arus perdagangan dengan negara-negara lain.
Permasalahan yang muncul adalah:
1.Apakah suatu negara dalam mencapai kemakmuran masyarakatnya dengan melakukan perdagangan internasional, dapat dicapai dengan menggunakan satu-satunya pendekatan ,yaitu Market Based Approach, khususnya dalam menghadapi persaingan global.
2.Bagaimanakah gambaran keberhasilan negara – negara atau perusahaan-perusahaan di dunia yang mengambil jalan perdagangan internasional dengan paradigma MB.
3.Bagi Indonesia,negara yang secara potensiil memiliki sumber daya alam primer melimpah, sementara dalam melakukan perdagangan internasionalnya tetap mengandalkan hasil produk primer tersebut, bagaimanakan pendekatan MB dapat diterapkan setidaknya dalam tataran konsepsional.
Untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut berikut akan diberikan paparan secara singkat, baik dari segi teoritis maupun pengalaman babarapa negara, terutama negara maju dalam bidang ekonomi seperti Amerika Serikat,Uni Eropa dan Jepang. Ketiganya adalah negara industri, yang dalam era globalisasi saat ini adalah negara yang berperan penting dalam memepengaruhi perdagangan internasional, dan pula akan mempengaruhi setiap arah perubahan perekonomian dunia.

II. Tinjauan teoritis Market Based Approach.

Market Based Strategy (MBS) sering dikonotasikan dengan pemikiran Michael Porter , dengan karya Comparative Advantage of Nation yang diterbitkan pada tahun 1980. Keunggulan suatu bangsa dalam suatu industri dapat dijelaskan dengan melihat kekuatan-kekuatan persaingan dalam industri tersebut pada pasar domestik suatu negara atau pasar internasional, dimana keadaan persaingan dalam suatu industri tergantung pada lima kekuatan persaingan pokok, seperti terlihat pada gambar 2:
Kekuatan-kekuatan tersebut selanjutnya oleh Porter disebutnya sebagai aspek-aspek struktural dalam industri. Analisa struktural terhadap industri dapat digunakan untuk mendiagnosis persaingan industri di setiap negara ataupun di pasar internasional, meskipun situasi institusional dapat berlainan. Dengan analisa ini apat ditentukan kekuatan tekanan/gaya persaingan suatu industri dan karenanya dapat ditentukan pula kemampulabaan industri dan pula dapat ditemukan posisi perusahaan didalam industri, dimana perusahaan dapat melindungi diri sendiri dengan sebaik-baiknya terhadap tekanan persaingan itu atau dapat mempengaruhi tekanan tersebut ke arah positif.
Dalam menanggulangi kelima kekuatan persaingan tersebut, ada tiga pendekatan strategi generik yang secara potensial akan berhasil untuk mengungguli perusahaan lain dalam suatu industri:
1. Keunggulan biaya menyeluruh.
2. diferensiasi.
3. fokus
ad.1 Keunggulan biaya menyeluruh
Perusahaan berusaha keras untuk mencapai biaya yang rendah relatif terhadap pesaing, dalam produksi maupun distribusi, sehingga perusahaan dapat menetapkan harga yang lebih rendah dari pesaingnya dalam industri untuk memenangkan bagian pasar yang lebih besar. Perusahaan yang menerapkan strategi ini harus unggul dalam keahlian tehnik, pembelian bahan baku dan pembuatan produk, distribusi dan ketrampilan dalam pemasaran. Penerapan strategi ini memerlukan investasi modal awal yang besar untuk peralatan modern, penetapan harga yang agresif dan kerugian awal untuk membina bagian pasar.
ad.2 Diferensiasi.
Perusahaan memusatkan usahanya untuk menciptakan ciri produk yang khas dan program pemasaran yang mantap sehingga akan tampil menjadi perusahaan yang menonjol dalam industri. Kebanyakan pelanggan akan suka memiliki produk keluaran perusahaan tersebut jika harganya tidak terlalu tinggi. Strategi ini kadang-kadang dapat menghambat pencapaian bagian pasar yang tinggi, tetapi akan mendapatkan kesetiaan pelanggan dan akan mendapatkan posisi yang baik terhadap produk pengganti daripada pesaingnya. Diferensiasi dapat berupa beberapa bentuk : citra rancangan, tehnologi,, karakteristik khusus, pelayanan pelanggan,jaringan penyalur atau dimensi lainnya. Idealnya perusahaan harus mendeferensiasikan dirinya kedalam beberapa dimensi. Strategi ini akan menghasilkan margin yang lebih tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kekuatan pemasok, dan jelas mengurangi kekuatan pembeli karena tidak mempunyai alternatif yang dapat dibandingkan sehingga oleh karena itu kurang peka terhadap harga.
ad.3 Fokus.
Perusahaan memusatkan ( fokus ) pada kelompok pembeli, segmen lini produk, atau pasar geografis tertentu. Strategi ini dibangun untuk melayani target tertentu secara baik, dan semua kebijakan fungsional dikembangkan atas dasar pemikiran ini. Strategi ini didasarkan pemikiran bahwa perusahaan dengan demikian akan mampu melayani target strategisnya yang sempit secara lebih efektif dan efisien ketimbang pesaingnya yang melayani dengan lebih luas.Akibatnya, perusahaan akan mencapai diferensiasi karena mampu memenuhi target tertentu engan lebih baik, atau mencapai biaya lebih rendah karena melayani target ini, atau keduanya.
Dengan strategi generik tersebut diatas , perusahaan dapat mengidentifikasi sumber-sumber dan kekuatan dari lima kekuatan persaingan yang luas dan menentukan sifat persaingan di dalam industri, juga menentukan strategi awal, baik yang bersifat terpisah atupun kombinasi, sehingga dengan demikian dapat ditentukan potensi laba yang yang akan diperolehnya. Namun strategi tersebut harus didalami dengan strategi bersaing yang meliputi dimensi-dimensi :spesialisasi,identifikasi merk,dorongan versus tarik,seleksi saluran,mutu produk,kepeloporan tehnologi,integrasi vertikal,posisi biaya,pelayanan,kebijakan harga,leverage,hubungan dengan perusahaan induk dan hubungan dengan pemerintah sendiri dan asing.
Asumsi dasar dari bekerjanya pemikiran tersebut bagi kesejahteraan negara adalah bahwa diantara beberapa negara sudah menganut rezim liberalisasi, sehingga hambatan masuk untuk mencari pasar-pasar baru tidak mengalami hambatan. Selanjutnya Porter juga menganggap persaingan yang sehat diantara perusahaan nasional sebagai salah prasyarat bagi terciptanya ekonomi nasional yang kuat, karena itu diperlukan kebijakan persaingan yang masuk akal dibanding kebijakan perdagangan. Kebijakan persaingan mempunyai arah utuk membuka pasar, mengawasi praktek-praktek anti persaingan, dan menghapuskan berbagai hambatan masuk ke dalam pasar. Pendapat tersebut juga didukung dengan Paul Krugman, bahwa peluang bagi suatu negara untuk mencapai bentuk peningkatan kesejahteraan yang berbeda melalui pengurangan strategis dari hambatan-hambatan impor. Ini berarti kebijakan persaingan juga merupakan prasyarat bagaimana MBS dapat diterapkan, mengingat selama hambatan-hambatan masuk ke suatu negara belum dikurangi, strategi membuka pasar-pasar baru bagi perusahaan juga akan mengalami kesulitan.
Garis besar Teori Porter, menyatakan bahwa empat jenis variabel akan mempunyai dampak atas kempampuan perusahaan-perusahaan lokal di suatu negara untuk menggunakan sumber-sumber negara itu guna memperoleh keunggulan kompetitif:
1. Kondisi-kondisi permintaan- sifat dasar dari permintaan domestik. Apabila para pelanggan sebuah perusahaan sedang mempunyai permintaan, ia akan memproduksi produk yang berkualitas tinggi dan inovatif, dan akan memperoleh keunggulan kompetitif dimana tekanan domestik lebih kecil.
2. Kondisi-kondisi faktor- level dan komposisi faktor produksi.Kekurangan karunia alam telah menyebabkan bangsa-bangsa melakukan investasi dalam penciptaan faktor-faktor lanjutan, seperti pendidikan angkatan kerjanya, pelabuhan bebas dan sistim komunikasi maju, untuk memungkinkan industri-industri mereka bersaing secara global.
3. Industri-industri terkait dan pendukung – para pemasok dan jasa dukungan industri.
4. Strategi, struktur dan persaingan perusahaan – perluasan persaingan domestik, adanya hambatan masuk, serta organisasi dan gaya manajemen perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang terkena persaingan berat di pasar-pasar domestiknya, secara konstan akan meningkatkan efisiensinya, yang membuat mereka lebih kompetitif secara internasional.

III. Strategi MB pada Beberapa Negara/Persh Dunia

Paparan berikut tidak sepenuhnya menjelaskan bagaiman bekerjanya, MBA pada beberapa negara sesuai dengan tahapan-tahapan yang dikehendaki Porter, tetapi gambaran ,bagaimana kekuatan-kekuatan persaingan dan distribusi di dunia telah mendasarkan pada paradigma Market Based, sehingga oleh karena itu negara-negara tersebut memperoleh peningkatan daya saing dan kesejahteraannya. Negara-negara tersebut bukan negara yang memiliki, sumber daya alam (karunia) yang melimpah, seperti Jepang dan “ Macan Asia “ (Korea Selatan, Hongkong, Singapura) namun negara-negara tersebut mengambil jalan yang berani untuk menangkap peluang-peluang pasar dunia sambil mempersiapkan diri dengan kebijakan domestik yang menarik bagi negara maju lebih dulu, untuk menanamkan investasi ke negara-negara tersebut.
Demikian pula, paparan ini hasil ringkasan singkat yang didasarkan sepenuhnya pada buku Donald A. Ball dan Wendell H. McCulloch, khususnya Bab 13.
A.Persaingan Pada Tingkat Makro (Persaingan Nasional)
Persaingan nasional adalah kemampuan para produsen sebuah bangsa untuk bersaing dan sukses di pasar-pasar dunia dan dengan impor di pasar-pasar domestik.
Amerika Serikat.
Amerika Serikat (AS)tertinggal dalam daya saing nasionalnya sejak tahun 1970 – 1980, dimana impor memperoleh bagian yang besar dipasar AS, ketika nilai dolar naik pada tahun 1980, biaya tenaga kerja per unit AS melambung, menyebabkan impor meningkat dan ekspor turun. Pada tahun 1985 ketika nilai dolar kembali merosot-biaya tenaga kerja mulai turun dan ekspor AS menjadi lebih bersaing dalam harga.. Pada saat turunya dolar banyak perusahaan AS yang mendapat pesaing dari perusahaan-perusahaan Eropa dan Jepang yang membeli perusahaan AS karena murahnya dollar, dan pula besarnya pasar, tersedianya bahan baku, pasar modal yang telah maju serta stabilitas politik, telah menarik investor kedua negara tersebut untuk masuk. Dari tahun 1980 – 1984 perusahaan asing mengambil alih lebih dari 150 perusahaan Amerika dengan nilai $ 10 miliar pertahun, tahun 1985 dibeli 197 perusahaan , tahun 1986, 264 , tahun 1987 , 220 perusahaan dan tahun 1988 dibeli 307 perusahaan, kenaikan total nilai $ 55 miliar pada tahun 1988.
Pemerintah AS menerapkan beberapa kebijakan untuk memberikan iklim yang konduksif bagi lingkungan bisnis serta peningkatan daya saing nasionalnya, yaitu :
• Pembaharuan perpajakan komprenshif, mengurangi korporasi dan pajak atas penghasila,memperluas basis pajak serta liberalisasi pasar-pasar keuangan.
• Super 301, klausul dari RUU,yang mengharuskan perwakilan dagang AS, memeriksa hambatan-hambatan ekspor dan memberikan ancaman balik pada negara asing.
• Memperketat penerapan UU Dumping, Memusatkan pda peningkatan pendidikan bangsa, dan deregulasi industri
• Membentuk Dewan Penyusun Kebijakan Daya Saing (1992) dan Dewan Daya Saing (yang sifatnya non partisan dan nirlaba ) untuk menentukan klasifikasi kekuatan daya saing industri-industri AS, dimana A (kuat), b (kompetitif); C (lemah dan D (merugi), sekaligus menentukan dimana industri-industri AS yang rentan terhadap persaingan juga menentukan penyebabnya.
• Manajemen, dengan melakukan perubahan yang luas untuk menaikan produktifitas.
• Penelitian, dengan menaikan anggaran penelitian sampai tingkat $ 120 miliar empat kali yang dikeluarkan Jepang.
• Investasi dalam Pabrik dan Peralatan, yang sampai th 1996 modal AS naik 7,5 %.
• Buruh.Kebijakan untuk memberikan pandangan jangka pada serikat-serikat buruh..
Dengan kebijakan tersebut AS memperoleh kembali daya saingnya berdasar pada pemeringkatan Indek Daya Saing (Competitiveness Indexs) yang dibuat oleh Council of Competitiveness (Dewan Daya Saing). Dari delapan faktor,AS menempati urutan pertama untuk, perekonomian domestik, internasionalisasi, keuangan, prasarana dan iptek, manajemen (3) Pemerintah (7) dan rakyat ( 12 ).

Uni Eropa
Uni Eropa (UE) membentuk sebuah kawasan perdagangan bebas disebut kawasan Ekonomi Eropa (European Economic Area = EEA),yang beranggotakan 15 negara Uni Eropa dan tiga negara EFTA ( European Free Trade Area) serta tiga negara bukan Uni Eropa (Norwegia, Islandia dan Liechenstein).
Daya saing UE telah merosot sejak 1996, dengan indikator pertumbuhan volume impor tahun 1995 = 5%,tahun 1996 = 2,5% dan ekspor 1996 = 4 % turun dibandingkan rata-rata 1990-1995 yang 5%. Merosotnya daya saing UE ini, disebabkan beberapa faktor yaitu : lebih banyak menggunakan “ low tehnology”, biaya tenaga kerja yang mahal, peraturan pemerintah,khususnya Perancis dan Jerman yang melindungi pabrikan lokal. Persaingan negara-negara UE dengan AS atau pun Jepang, lebih banyak merugikan UE, terutama untuk produk-produk dengan tehnologi tinggi dan manufakturing, dengan banyaknya perusahaan di kedua negara yang menanamkan modalnya di UE. Pada periode 1994–1998, UE memperkenalkan Program Kerangka Keempat untuk memperbaiki kekurangannya dengan melakukan penelitian-penelitian yang melibatkan perusahaan-perusahaan, untuk menghadapi produsen dari Jepang khususnya. Pada tahun 1999, dilanjutkan dengan Program Kerangka Kelima untuk tehnologi tinggi, seperti mikro chip.
Pasar-pasar Uni Eropa, banyak yang mensyaratkan penerapan ISO 9000 untuk produk-produk yang masuk kenegara tersebut (dari 5 perangkat standard). Hal ini merupakan standard untuk keunggulan kompetitif untuk pasar UE.

Jepang.
Selama dekade tahun 1990 an, daya saing Jepang meningkat akibat kenaikan yen terhadap dolar yang dimanfaatkan oleh Jepang untuk menanamkan modal ke negara-negara Asia, untuk mengambil keuntungan dari buruh yang murah, lahan dan komponen-komponen pabrik yang murah. Selanjutnya mengekspor produk murah ke bagian dunia yang lain, termasuk melakukan impor dari cabang-cabang perusahaan Jepang di Asia tersebut, yang memungkinkan dapat bersaing dengan produk AS dan Eropa di negaranya sendiri. Persaingan Jepang dengan AS, banyak memberikan surplus perdagangan pada Jepang, sehingga memaksa AS membuat reaksi dengan beberapa kebijakan untuk membuka pintu impor Jepang terhadap AS. Persaingan Jepang dengan negara-negara Asia, dilakukan dengan strategi “hollowing out”, yakni perusahaan menutup fasilitas-fasilitas produksinya dan menjadi organisasi pemasaran dari perusahaan asing, tetapi perusahaan tersebut tetap melakukan fabrikasi dengan relokasi ke wilayah yang biayanya lebih murah. Strategi ini menciptakan kelompok regional yang mampu bersaing di dunia

Negara Berkembang dan NIE (New Industrial Economic )
Dalam beberapa dekade negara-negar berkembang NIE, mampu bersaing dengan negara-negara yang lebih dulu maju, seperti tampak pada Korea Selatan yang mampu bersaing di seluruh dunia. Strategi globalisasi yang dilakukan, membawa chaebol Korea untuk memiliki pabrik-pabrik di AS, Eropa dan Asia yang memproduksi TV, VCR, microchip, mobil, dan alat-alat rumah tangga dengan penjualan total $ 71 mliar th 1996.
Negara-negara lain dari NIE, seperti Singapura dan Hongkong, juga mulai memasuki pasar dunia dengan memanfaat investasi yang ditanam di negara tetangganya serti Cina, Muangthai dan Indonesia, dengan biaya murah, sehingga mampu bersaing di pasar=pasar AS atau Eropa.

B. Analisa Kekuatan Kompetitif.
Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 100 perusahaan Amerika terbesar th 1997, oleh The Futures Group, menemukan sebagian besar (82%) perusahaan dengan pendapatan $ 10 miliar, mempunyai sistim intelejen yang terorganisasi. Sistim ini untuk menganalisis pesaing dengan informasi kompetitif yang diperolehnya. Pengumpulan informasi persaingan telah dilakukan sejak lama, tetapi saat ini mereka melakukan analisis pesaing, karena 2 hal: (1). Persaingan yang meningkat telah menciptakan kebutuhan akan suatu pengetahuan mengenai kegiatan para pesaing, (2). Perusahaan hendaknya mempunyai sistim intelejen pesaing ( competitor intelegence systim- CIS ). Selain itu banyak perusahaan di dunia yang mempekerjakan seorang konsultan spesialis analisa pesaing untuk menyediakan informasi.

C.Sumber-sumber Informasi Kompetitif.
Lima sumber informasi mengenai kekuatan,kelemahan,ancaman dan pesaing perusahaan 1).didalam perusahaan,(2).bahan-bahan publikasi, termasuk basis data komputer,(3) para pemasok/pelanggan,(4) karyawan-karyawan pesaing,(5) observasi langsung.
Semua sumber informasi ini telah digunakan oleh industri-industri di AS dan negara-negara lain.

D.Anggota Saluran Distribusi Internasional.
Beberapa pilihan saluran distribusi untuk menghubungkan produsen dengan pemakai luar negeri yaitu: (1) mengekspor tidak langsung,seperti di AS dan Eropa dikenal EMC (Export Management Companies ), di Jepang , sogo sosha, di Korea mirip yang di Jepang ; (2) mengekspor langsung atau (3) memproduksi di luar negeri, seperti banyak dilakukan perusahaan besar di dunia.

Seperti yang telah dipaparkan tersebut diatas, kecenderungan perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju (AS,UE dan Jepang) serta NIE, melaksanakan paradigma MB, dengan segala strategi dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk mendukung bagaimana ,keunggulan kompetitif yang selanjutnya akan mensejahterakan masyarakat dapat dicapai.

IV. Indonesia dalam konsepsi MB
Indonesia, negara dengan sumber daya alam yang melimpah, terutama untuk bahan primer seperti produk-produk pertanian dalam arti luas dan pertambangan, selama ini dalam perdagangan internasional, tetap mengandalkan ekspor hasil–hasil primer tersebut, dimana untuk produk-produk pertanian/perkebunan sangat peka terhadap waktu dan tempat. Padahal mengandalkan ekspor hasil pertanian primer dalam jangka panjang tidak lagi memiliki nilai kompetitif yang tinggi, karena tren harga riilnya yang terus turun sejak 100 tahun yang lalu. Demikian pula dengan harga bahan mentah hasil pertambangan, karena kemajuan tehnologi, industri telah beralih dari padat bahan ke penggunaan bahan yang lebih sedikit, sehingga oleh karena itu kebutuhan bahan menjadi lebih sedikit dan harga riilnya terus menurun.
Kondisi yang demikian, dan dengan perubahan lingkungan ekonomi dunia yang semakin global, memaksa untuk dilakukannya penerapan-penerapan strategi yang dapat meningkatkan daya saing nasional, dengan penataan industri-industri yang berbasis bahan primer tersebut. Penataan strategi industri yang mengarah pada penciptaan daya saing, secara konsepsional, dan dengan pendekatan MB awal,seperti yang berikut :
1.Membentuk struktur industri, ditentukan aturan permainan dalam bidang kebijakan produk, pendekatan pemasaran dan strategi harga, sehingga terjamin posisi persaingan dalam jangka panjang.
2.Eksternalitas dan Perkembangan Industri ,keseimbangan yang harus tetap dijaga antara kepentingan industri secara umum dan kepentingan masing-masing perusahaan dalam mempertahankan pasar.
3.Peranan yang berubah dari Para Pemasok dan Saluran, para pemasok jika industri bertambah kuat, harus bersedia untuk menanggapi kebutuhan yang semakin beragam. Demikian pula saluran distribusi menyediakan diri untuk investas dalam fasilitas dan jasa-jasa pendukung seperti periklanan.
4.Menggeser rintangan mobilitas, untuk kepentingan perkembangan industri yang semakin efisien, rintangan-rintangan mobilitas faktor ataupur harus dihilangkan sejak awal industri di strukturkan.
Beberapa konsep awal tersebut, tidak dapat dijalankan oleh kalangan industrialis secara sendiri-sendiri tanpa peranan pemerintah, terutama dalam menfasilitasi tumbuhnya industri baru.

V. Kesimpulan.
Dari bahasan yang disampaikan diatas maka dapat disimpulakan sebagai berikut :
1. Globalisasi merupakan gejala perekonomian dunia yang akan menjadi tantangan setiap negara, sekali gus mencirikan bahwa setiap negara bergantung kepada negara lain (saling ketergantungan).
2. Dalam menghadapi era persaingan global, kebijakan perdagangan telah bergeser dari kebijakan perdagangan ke arah kebijakan persaingan. Era ini ditandai dengan munculnya teori – teori yang mendukung SCA (Sustainable Comparative Advantage).
3. Salah satu strategi, menghadapi persaingan global, pendekatan pasar (market based approach) menjadi pilihan banyak negara, terutama negara dengan bagin pasar dunia yang besar yaitu : AS, Uni Eropa dan Jepang. MB ditempuh dengan tidak hanya mendasarkan pada resource domestik, tetapi juga resource negara lain yang melimpah, tetapi tidak digunakan secara efisien.
4. Perdagangan Internasional di Indonesia , mungkin mengambil jalan perdagangan luar negeri negara lain mengigat di Indonesia juga berlimpah resource yang dapat mendukung diterapkannya MB.
VI. Daftar Pustaka:
Agus Pakpahan,DR, Politik Ekonomi Kebangkitan Perkebunan Di Indonesia, Gaperindo, Jakarta, 2004.
Donald A Ball dan Wendell H McCulloch, Bisnis Internasional,Buku Satu, Salemba Empat- McGraw-Hill Co,Jakarta ,2000
Donald A Ball dan Wendell H McCulloch, Bisnis Internasional,Buku Dua, Salemba Empat- McGraw-Hill Co,Jakarta ,2001
Mari Pangestu,Syahrir,Ari A Perdana (penyunting), Indonesia dan Tantangan Ekonomi Global, CSIS, Jakarta, 2003.
Michael Porter. E, Alih Bahasa,gus Maulana, Strategi Bersaing,Tehnik menganalisis Indusri dan Pesaing, Erlangga ,Jakarta 1992.
Paul Krugman dan Maurice Obstfeld, Ekonomi Internasional,Teori dan Kebijakan, PAU-UI dan Harper-Collins Publishers, Jakarta, 1997.
Peter F Drucker, The Frontiers Management, Manajemen Lintas Peluang, Elex Media Komputindo, Jakarta, 1997.
Usahawan, majalah bulanan No XXIX, 2000

Foot note:
C.Fred.Bergsten ,Liberalisasi Kompetitif Dan Perdagangan Bebas Global: Sebuah Visi Untuk Awal Abad Ke 21,dalam Indonesia Dan Tantangan Ekonomi Global, Mari Pangestu,Syahrir,Aria.A.Perdana ( penyunting ),CSIS,Jakarta,2003,hal281 – 283.
2 Idem, hal 284.
3 Ball Donald A ,McCulloch Wendell H, Bisnis Internasional,Buku Satu, Salemba Empat – McGraw-Hill Book, Jakarta, 2000, hal 102 - 103
4Martani Huzaeni,Prof.Dr.,Mencermati Misteri Globalisasi : Menata Ulang Strategi Pemasaran Internasional melalui Pendekatan Resource Based, Usahawan No.01 th XXIX,2000 hal 3.
5 Martani, idem,
6 Porter Michael E, Agus Maulana ( alih bahasa ), Strategi Bersaing,Tehnik Manganalisis Industri dan Pesaing, Erlangga, Jakarta , 1992, hal 31 – 32.
7 Porter Michael E, idem, hal 27
8 Martani Huzaeni, opcit, hal 6
3 Rong-I Wu dan Chin-Ming Lin ,Kebijakan Persaingan dan Liberalisasi Perdagangan,dalam Indonesia dan Tantangan Ekonomi Global, loc cit, hal326 - 327
4 Krugman Paul R dan Maurice Obstfeld, Ekonomi Internasional : Teori dan Kebijakan, Edisi kedua, Kerjasama PAU UI dan Harper Collins Publishers,Jakarta ,1997, hal 308-309
5 Ball Donald A, loc cit, hal 125
6 Ball Donald A dan McCulloch Wendell H, Bisnis Internasional,Buku Dua, Salemba Empat – McGraw-Hill Book, Jakarta, 2001, hal 509 – 559
7 Pakpahan Agus, DR,Politik Ekonomi Kebangkitan Perkebunan Indonesia,Gaperindo, Jakarta, 2004 hal 1
8 Drucker Peter F, The Frontiers of Management, Elex Media Komputindo, Jakarta,1997, hal 29 - 52
9 Porter Michael E, loc cit, hal 201

Read more.....

Senin, 02 Februari 2009

Model Kemitraan: Antara Petani – Pabrik Gula – Investor, Alternatif Strategi Pergulaan Nasional

Pendahuluan
Permasalahan makro pergulaan nasional dari tahun ke tahun,berkisar pada penurunan produksi dalam negeri dan karena itu ketergantungan terhadap impor semakin meningkat (Purwono,2004). Berdasarkan data Sugar World Market and Trade, pada tahun 1998-1999, produksi gula dalam negeri sekitar 1,5 juta ton, sedangkan kebutuhan domestik gula sekitar 2,8 juta ton atau kemampuan pemenuhan produksi dalam negeri sekitar 53,5%, (Download dalam bentuk file, Click Here)sisanya
dipenuhi dari impor. Sedangkan pada tahun 2002-2003 produksi gula 1,8 juta ton dan kebutuhan domestik 3,8 juta ton atau kemampuan pemenuhan produksi dalam negeri sekitar 51%.Dengan kondisi tersebut, peran gula impor semakin meningkat dari tahun 1998-1999 sebesar 35,6% menjadi 49% pada tahun 2002 – 2003.

Penurunan produksi gula secara nasional merupakan suatu akibat yang komplek, baik ditinjau dari segi tehnologi, ekonomi dan sosial budaya. Secara tehnis penurunan produksi gula diakibatkan karena semakin rendahnya produktifitas lahan dan rendahnya efisiensi pabrik-pabrik gula dalam negeri, yang selanjutnya akan mengakibatkan daya saing gula domestik di pasar gula internasional rendah. Dari sisi ekonomi dapat diamati bahwa kurangnya modal petani dan ditambah sering terlambatnya pencairan kredit semakin menambah rendahnya mutu pengusahaan tebu oleh petani sedangkan dari sisi sosial, yang sebenarnya merupakan akibat dari kedua hal diatas, adalah menurunya tingkat kepercayaan petani pada model pengelolaan kelompok hamparan maupun pada semua hal yang dianggap prakarsa pabrik gula.

Permasalahan diatas menuntut adanya upaya peningkatan kemampuan produksi dalam negeri yang dijamin kuantitas dan kualitas pasokan tebu serta produksi dan produktifitas pabrik gula.

Kajian terhadap faktor pendukung keberhasilan pergulaan pada zaman kolonial mengungkapkan bahwa terdapat dua hal yang menjadi faktor utama, yaitu jaminan ketersediaan lahan dan tenaga kerja yang murah (Cahyono,1991,LKEP Indikator,2001, Arifin,174,2004). Disamping itu,juga ditentukan oleh sistim pengusahaan yang terpadu, yaitu tanaman tebu yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh pabrik gula,ditanam diatas lahan yang dimilik atau disewa oleh pabrik, sehingga pabrik dapat merencanakan dan mengelola proses produksi gula. Dari hal ini tersirat bahwa sumber permasalahan kelembagaan dalam pengelolaan produksi gula tidak menjadi signifikan, yang pada akhirnya proses produksi menjadi efisien.

Faktor lahan merupakan faktor penting dalam menjamin pasokan kuantitas dan kualitas tebu bagi pabrik gula. Jaminan pasokan tebu berasal dari dua pihak,yaitu kebun petani dan kebun pabrik gula sendiri. Peran kebun petani dalam memasok tebu bagi pabrik gula lebih besar dari pada kebun pabrik gula sendiri. Data nasional menunjukan bahwa luas kebun petani sekitar 54 %,sedangkan kebun pabrik gula sekitar 46 %. Dengan kemampuan finansiil pabrik gula yang semakin terbatas,maka pasokan tebu dari lahan milik pabrik sendiri yang berasal dari lahan sewa menjadi terbatas. Dengan demikian keberlanjutan pasokan tebu bagi pabrik gula akan semakin bergantung pada kebun petani, terutama bagi pabrik gula yang tidak mempunyai lahan hak guna usaha ( HGU ). Dalam kaitan inilah penataan kelembagaan dan kebijakan menjadi penting. Bukti-bukti menunjukan dengan kemitraan yang baik antara perusahaan gula dengan petani tebu merupakan faktor strategis yang dapat menekan unit cost,karena manajemen kebun tebu terlepas dari manajemen pabrik, tetapi tetap secara fungsionil sebagai suatu kesatuan manajemen. (Pakpahan.107,2004).

Berdasarkan kondisi industri pergulaan saat ini, pendanaan merupakan salah satu permasalahan penting yang sangat mempengaruhi kinerja dari sisi on farm, dan pengolahan tebu. Dari sisi on farm, keterlambatan penyediaan saprotan karena kekurang mampuan pendanaan petani maupun pengadaan yang dilakukan pabrik gula, menyebabkan turunya produktifitas tebu (baik dalam hasil maupun rendemen gula). Dari sisi pengolahan, kemampuan pabrik gula dalam pemeliharaan dan rehabilitasi mesin-mesin sangat rendah. Permasalahan pendanaan dalam industri gula dapat dipecahkan dengan melakukan suatu model kemitraan dengan investor, yang dapat berasal dari pihak Pemerintah Daerah maupun swasta.

Petani dengan kepemilikan lahannya mempunyai posisi yang penting dalam mempengaruhi keberlanjutan aktivitas pabrik gula melalui jaminan pasokan tebu. Sedangkan tingkat produksi, produktivitas dan efisiensi pabrik gula berpengaruh langsung terhadap pasokan gula bgi kebutuhan domestik. Dengan demikian, baik petani tebu maupun pabrik gula, berperan penting dalam upaya peningkatan kemampuan produksi gula dalam negeri. Oleh karena itu pengembangan kemitraan antara petani dan pabrik gula menempati posisi penting dalam pembangunan pergulaan nasional. Salah satu bentuk kemitraan antara petani dan pabrik gula adalah pola kerjasama yang memungkingkan petani untuk mengambil peran proposional dalam perusahaan gula. Lahan sebagai faktor produksi penting, dapat menjadi salah satu titik temu dalam mengembangkan pola kemitraan antara petani dan pabrik gula. Dengan adanya jaminan pasokan tebu bagi pabrik gula melalui pola kemitraan tersebut diharapkan performance pabrik gula meningkat.

Selama ini telah dikembangkan berbagai model kemitraan anta petani dan pabrik gula. Beberapa pola kemitraan yang dimaksud antara lain sistim sewa lahan petani oleh pabrik gula dan sistim pembelian tebu petani oleh pabrik gula. Selain itu, Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor (2002) menyarankan sistim kelembagaan yang memungkinkan petani mempunyai sharing kepemilikan dalam pabrik gula. Dua sistim kemitraan tersebut diatas selama ini telah diterapkan ,namun masih banyak menghadapi kendala dan belum memperlihatkan hasil yang menguntungkan bagi semua pihak. Pola kemitraan yang ketiga belum banyak diterapkan ataupun dikembangkan, namun sekali gus menjadi model kemitraan alternatif dari pola kemitraan yang ada. Model kerjasama antara petani,pabrik gula dan investor dilakukan dalam bentuk sharing kepemilikan perusahaan gula. Perusahaan gula ini akan melakukan bisnis dibidang onfarm ( penyiapan lahan, perawatan, pemanenan dan agroinput ), kegiatan tebang muat angkut, pengolahan/penggilingan tebu, serta pemasaran, sehingga diharapkan nilai tambah dari berbagai kegiatan dalam industri gula semaksimal mungkin diperoleh.

Permasalahan Pergulaan Nasional

Sejak terjadinya penurunan harga gula dunia, pabrik gula menghadapi permaslahan yang rumit. Penurunan harga gula menyebabkan penurunan insentif dan daya saing budidaya tebu oleh petani, sehngga tidak lagi menjamin pasokan tebu bagi pabrik. Indikasi dari permasalahan tersebut adalah penurunan luas areal tanaman tebu baik di Jawa maupun di Luar Jawa (Tabel 1). Kompetisi pemakaian lahan sangat tinggi, sehingga manakala terjadi penurunan manfaat pemakaian lahan, dengan cepat terjadi alih fungsi lahan.

Selain itu pabrik gula menghadapi inefisiensi operasi. Sebagai gambaran, rata-rata biaya produksi gula saat ini ( 2004 ) Rp. 3.100/kg, namun harga gula ditingkat petani dipatok Rp. 3.410/kg. Margin yang tersisa dari selisih harga tersebut adalah Rp. 310/kg atau ± 10 % yang dinikmati baik oleh petani maupun pabrik. Margin tersebut sangat kecil karena inefisiensi di tingkat pabrik. Selain diakibatkan oleh kondisi mesin pabrik gula yang sudah tua, inefisiensi tersebut juga diakibatkan oleh skala ekonomi kapasitas giling yang belum terpenuhi. Disamping itu, bagi pabrik gula BUMN, permasalahan manajerial menjadi kendala tersendiri dalam upaya mencapai efisiensi produksi. Dengan permasalahan yang dihadapi tersebut , maka kemampuan finansiil pabrik gula juga semakin menurun. Hal ini tercermin pada penurunan sejumlah pabrik gula di Jawa seperti tampak pada tabel 2.

Dalam kondisi permasalahan diatas, produksi gula nasional menghadapi kenyataan terjadinya penurunan jumlah pabrik gula dan penurunan kapasitas produksi. Dilihat dari penyebarannya baik areal perkebunan maupun pabrik gula masih terpusat di Jawa,walaupun telah terjadi penurunan jumlah pabrik dari 57 menjadi 47 ,turun 17,54 %.Demikian pula dengan perkembangan kontribusi hablur masing-masing wilayah terhadap produksi hablur nasional, seperti tampak pada tabel 3 :

Dari Tabel tersebut diatas, menunjukkan penurunan kontribusi produksi hablur Jawa terhadap produksi nasional dari 77% (1994) menjadi 57 % (2000), sedangkan Luar Jawa meningkat dari 23% (1994) menjadi 43% (2000). Dari sisi pengelolaan, peranan pengelola swasta bertambah besar yaitu dari 26 % (1994) meningkat menjadi 42% (2000) , sedangkan BUMN peranannya semakin menurun dari 74% (1994) menjadi 58% (2000). Secara sepintas terlihat bahwa pabrik yang dikelola swasta memiliki produktivitas lebih tinggi dibanding pabrik yang dikelola BUMN.

Kepemilikan lahan (kebun tebu) di Jawa didominasi oleh kebun petani yakni sekitar 81,82%, sedangkan di Luar Jawa justru sebaliknya, kepemilikan kebun tebu lebih didominasi oleh pabrik gula yakni sekitar 95,01% dan kebun tebu milik petani hanya sekitar 4,09% (Tabel 4). Kenyataan ini menunjukkan bahwa kebun tebu petani memegang peranan penting dalam memasok tebu bagi pabrik gula di Jawa. Disamping itu pula , diperoleh gambaran bahwa peran Jawa masih lebih besar (57% > 43%) dibandingkan Luar Jawa. Dengan kondisi keterbatasan finansiil pabrik gula selama ini dan pula relatif sedikitnya pabrik gula yang ber HGU, maka ketergantungan pabrik gula pada petani relatif tinggi.

Fenomena diatas adalah masalah-masalah yang bersifat tehnis, yang selama ini penanganannya cenderung lebih serius. Walaupun belum mewujudkan hasil yang memuaskan, karena implementasinya dilapangan sering terkendala hambatan kelembagaan dan kebijakan. Sementara permasalahan kelembagaan dan kebijakan belum banyak tersentuh, lebih-lebih dibangun diatas situasi, kondisi dan sistim nilai masyarakat.

Ketergantungan pabrik gula terhadap petani relatif tinggi dalam rangka pemenuham pasokan tebu, namun sistim kelembagaan yang mendukung hubungan petani dengan pabrik gula belum menghasilkan manfaat yang salaing menguntungkan kedua pihak. Oleh karena itu perlu dicarikan alternatif model hubungan tersebut dalam bentuk model kemitraan yang diharapkan mampu menjadi model yang memuaskan semua pihak. Agus Pakpahan (2003), menyarankan , bagi perusahaan yang berciri BUMN tidak perlu dilakukan privatisasi, tetapi dibentuk semacam koorporasi masyarakat dengan menjadikan petani sebagai pemilik pabrik gula. Hal ini berarti melakukan spin off terhadap pabrik gula, yaitu menjual sebagian pemilikan pabrik gula kepada petani, sehingga petani memiliki kewenangan kontrol manajerial terhadap pengelolaan pabrik gula. Dengan demikian, petani akan mengetahui beberapa hal yaitu, hasil yang benar-benar menjadi haknya, faktor-faktor yang menyebabkan inefisiensi pabrik dan kondisi pasar gula, dimana semua faktor tersebut menentukan hasil yang akan diterima petani dan pabrik gula. Dengan pengetahuan ini, diharapkan muncul saling ketergantungan antara petani dan pabrik yang hal ini akan menjamin kelangsungan perkembangan industri pergulaan nasional.


Kerangka Pemikiran.

1.Kemitraan dari sisi mikroekonomi

Hubungan antara petani tebu dan pabrik gula ditinjau dari aspek mikro pada dasarnya adalah hubungan antara penjual dan pembeli, dalam hal ini komoditi yang diperdagangkan adalah tebu. Dengan asumsi bahwa petani tidak bebas menjual tebunya ke sembarang pabrik, maka situasi yang dihadapi petani sama halnya menghadapi pasar yang beciri monopsoni. (Bilas, 292.1993), yaitu struktur pasar faktor produksi, dimana terdapat pembeli tunggal yang menghadapi banyak penjual. Sebagai penjual, posisi tawar petani sangat lemah, lebih-lebih jika berkaitan dengan informasi mengenai penentuan berapa perolehan harga tebu petani, karena harga tersebut dihitung berdasarkan indek berupa rendemen, yang tehnologi ini sepenuhnya dikuasai pabrik. Oleh karena itu dalam beberapa tahun terakhir ini, dalam rangka memperkuat posisi tawar petani terhadap pabrik, petani membentuk asosiasi diantara mereka (APTR = Asosiasi Petani Tebu Rakyat). Asosiasi ini secara teoritis berfungsi menaikan posisi tawar petani , dengan beberapa cara, merundingkan tingkat pengawasan rendemen, jadwal tebang dan merundingkan tingkat pebiayaan yang dibutuhkan petani, bahkan akhir-akhir ini sudah dilibatkan pada pengawasan harga gula. Dengan melihat bahwa antara petani dan pabrik gula pada dasarnya pelaku-pelaku dalam satu sistim agribisnis, maka asosiasi-asosiasi yang terbentuk pada petani adalah upaya untuk memperkuat posisi penawaran petani dalam menghadapi pabrik gula (gambar 1)

Penjelasan gambar : Jumlah tebu yg ditawarkan petani dan dibeli pabrik adalah Te, dan harga yg ditawarkan Pt2. Karena keseimbangan bagi bagi pabrik terjadi saat MRPt = MCt pada Te, maka harga yg wajar bagi pabrik adalah Pt1, tetapi karena pabrik adalah monopsonis, maka harga yang dibayar pabrik adalah Pt2. Pada kasus ini pabrik memperoleh keuntungan karena monopsoni sebesar (Pt1 – Pt2) x Te ( daerah yg diarsir pada gambar ). Secara teoritis untuk menghilangkan diskriminasi ini, adalah dengan melakukan intervensi untuk membuat kurva penawaran tegar (rigid = kaku) pada tingkat harga Pk, sehingga kurva penawaran menjadi PkS. Keseimbangan baru yang terjadi, dan dapat disepakati pabrik, adalah saat MRPt memotong PkS dengan tebu yang ditawarkan petani naik menjadi Tk pada harga Pk. Intervensi yang diperlukan untuk menjamin kondisi tersebut adalah dengan campur tangan pemerintah dan atau memperkuat kemitraan antara petani dengan pabrik.

2.Kemitraan dari sisi Manajemen Agribisnis

Petani dengan kepilikan lahannya mempunyai posisi yang penting dalam mempengaruhi keberlanjutan aktrivitas pabrik gula melalui jaminan pasokan tebu. Sedangkan tingkat produksi, produktifitas dan efisiensi pabrik gula berpengaruh langsung terhadap pasokan gula bagi kebutuhan domestik. Baik petani tebu maupun pabrik gula, dengan demikian, berperan penting dalam upaya peningkatan produksi gula, sehingga pengembangan kemitraan antara petani dan pabrik gula menempati posisi penting dalam pembangunan pergulaan nasional. Salah satu bentuk kemitraan antara petani dan pabrik gula adalah pola kerjasama yang memungkinkan petani mengambil peran proposional dalam perusahaan gula. Model kerjasama ini, pada dasarnya juga mengembangkan koorporasi masyarakat, untuk dalam jangka panjang melakukan kontrol terhadapa pabrik gula oleh masyarakat sebagai salah satu shareholder.

Secara teoritis, pengembagan model kerjasama tersebut adalah tercakup sebagai salah satu strategi pengembangan agribisnis yaitu Strategi dengan Integrasi Vertikal dimana salah satu strateginya mengambil pola perusahaan kemitraan agribisnis yang menguntungkan semua pihak (Imam Syafi’i .2004).
Integrasi vertikal dimaksudkan keterpaduan sistim agribisnis secara vertikal membentuk suatu rangkaian pelaku-pelaku yang terlibat dalam sistim agribisnis mulai dari penyedia input,usaha tani, pedagang pengumpul, usaha pengolahan hasil, sampai dengan konsumen baik dalam negeri ataupun luar negeri (Gumbira, 27,2001). Dengan demikian, dalam kasus petani tebu dengan pabrik gula, kerjasama melalui kemitraan diantara mereka , akan menjamin keterpaduan sub sistim agribisnis usaha tani sebagai penyedia input dengan pabrik sebagai pengolah hasil sekaligus sebagai pelaku pemasaran produk gula. Keterpaduan sub sistim agribisnis tersebut dalam satu rangkaian yang membentuk perusahaan gula akan menjamin dinikmatinya nilai tambah tiap sub sistim oleh petani maupun pabrik gula.

Model kerjasama dengan kemitraan antara petani dan pabrik gula yang mengarah pada terpadunya sub sistim agribisnis pengusahaan gula sebagai strategi integrasi vertikal, hanya dapat terselenggara pada akhirnya bergantung pada jaminan pemenuhan hak-hak dan kebutuhan para pelaku. Hal inilah yang sampai saat ini menjadi permasalahan antara petani dan pabrik gula.

3. Kemitraan dari sisi pengalaman lapangan

Pengamatan lapangan yang dilaporkan Agus Pakpahan , menyimpulkan bahwa, kasus pergulaan nasional yang melibatkan pabrik gula terutama yang BUMN dengan petani, secara strategis dapat dicarikan alternatif dengan membentuk koorporasi masyarakat, dimana petani sebagai pemilik utama pabrik. Argumentasi yang disampaikan ( Agus. 2004 ) :
a. Komposisi biaya dalam industri gula sekitar 60%-70% berada di kebun, karena itu kepentingan petani sangat besar.
b. Memudarnya persenyawaan kepentingan antara “ kepentingan rakyat “ sebagai pemilik negara, pemerintah sebagai shareholder tunggal (principal) dan manajemen sebagai “ agent “ dalam struktur BUMN.
c. Kelemahan BUMN gula, dalam melakukan reinvestasi untuk dapat membangun pabrik besar.
d. Desakan untuk membangun pabrik pengolahan yang dapat memanfaatkan seluruh kandungan yang terdapat dalam tebu.
e. Perlu bangunan institusi yang mampu menyelesaikan dampak dari asymetric power atau control antara petani dan pabrik gula.
f. Ada anggapan The best product hanya akan mungkin dihasilkan oleh The best community.
g. Koefisien fixity dari pabrik sangat tinggi, tetapi sebaliknya dengan lahan, fakta riil menunjukan bahwa pasokan bahan baku tergantung dari tebu petani, dimana petani sebenarnya memiliki banyak pilihan untuk memanfaatkan lahannya.

Selanjutnya untuk memperkuat pendapatnya, Agus Pakpahan juga memberikan contoh yang dapat dijadikan pelajaran adalah pengalaman empiris dibelinya American Crystal Sugar Company (ACSC), yang sahamnya terdaftar pada New York Stock Exchange, pada tahun 1973, oleh 1300 petani dengan nilai $ 86 juta atau Rp. 731 milyar dengan nilai tukar sekarang (2004). Perubahan ini telah menyelamatkan komoditas vital bagi wilayah tersebut dan juga menciptakan jalan bagi industri gula bit untuk lebih berkembang dan maju pesat.

Sejak 1973, ACSC telah memperluas areal tanamannya dari sekitar 80 ribu hektar menjadi 202 ribu hektar, rata-rata pertambahan areal pertahun 4000 ha. Para petani telah berhasil meningkatkan rendemen gula dari 14 % menjadi 18 %. Sedangkan bobot meningkat dari 4.8 ton/ha menjadi 7.6 ton /ha, dan kapasitas olah meningkat dari 16.400 ton per hari menjadi 36.000 ton per hari. Pada saat ini, ACSC memiliki pangsa 15 % dari seluruh produksi gula di AS atau sebanyak 1.12 juta ton pada tahun 2002/2003, dan dimiliki sekitar 3000 petani, dimana perusahaan semakin berkembang dengan berbagai perusahaan baru berupa joint venture seperti : United Sugar Corporation, Midwest Agricommodities, Progold LLC dan Crystech LLC.
Dengan kerangka pemikiran dan pengalaman empiris yang telah disampaikan tersebut diatas, setidaknya diupayakan untuk mencari alternatif kelembagaan dan kebijakan yang selama ini menjadi permasalahan pokok yang muncul di lapangan, yaitu dengan model kerjasama melalui kemitraan antara petani dan pabrik gula.

Model Pola Kemitraan

1.Kemitraan yang ada saat ini.

Selama ini telah dikembangkan berbagai model pola kemitraan antara petani dan pabrik gula antara lain :

a. sistim sewa lahan petani oleh pabrik.
b. Sistim sewa lahan oleh pihak ketiga.
c. Sistim kemitraan dengan pabrik gula sebagai avalist.
d. Sistim pembelian tebu oleh pihak ketiga.
e. Sistim TRI mandiri.

Dari berbagai sistim kemitraan yang telah dikembangkan dan diterapkan selama ini, masih menghadapai kendala dan belum memperlihatkan hasil yang menguntungkan bagi semua pihak. Hal ini karena dengan sistim kemitraan tersebut posisi petani tebu dalam sistim industri gula masih lemah, bahkan sistim kemitraan yang ada sekarang lebih banyak merugikan petani ( Laporan Lemlit IPB ).

2.Model kemitraan Alternatif.

Berdasarkan kerangka pemikiran dan pengalaman empiris negara lain serta pandangan yang telah disampaikan tersebut diatas, maka perlu dipikirkan suatu pola kerjasama alternatif antara petani dan pabrik gula berdasar pada pemilikan saham ( shareholder ) pada perusahaan gula . Sharing kepemilikan ini dapat diperluas dengan melibatkan investor diluar petani dan pabrik sebagai penjamin dana segar. Hal ini untuk menjamin kondisi awal, dimana manajemen baru pengusahaan gula memerlukan pendanaan yang cukup besar. Namun dalam jangka panjang, peranan investor ini dapata digantikan oleh petani atau untuk sementara oleh pemerintah daerah.

Manajemen baru ini akan melakukan bisnis dalam bidang on-farm (penyiapan lahan, perawatan, pemanenan dan agro input), kegiatan tebang muat angkut, pengolahan dan penggilingan tebu, serta pemasaran, sehingga nilai tambah dari berbagai kegiatan dalam industri gula semaksimal mungkin dapat dinikmati pelaku .

Peranan masing-masing pihak dalam pola kerjasama tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
 Petani :
Kontribusi petani dalam model ini adalah lahan tebu. Lahan petani akan dihargai dengan sewa lahan sebagai share mereka terhadap pemilikan pabrik. Sewa ini diterimakan kepada petani walaupun kelak ternyata hasil tebu yang diolah rugi.Tetapi diatas sewa ini petani mungkin memperoleh hasil bagi pendapatan ,jika terdapat keuntungan dari penjualan gula, yang sistim bagi hasilnay dapat dirundingkan terus menerus antara pelaku-pelaku yang lain. Jadi besarnya bagi hasil dari sharing ini memerlukan perbaikan terus-menerus, sehingga tercapai keseimbangan diantara pelaku.

 Investor.
Peran investor adalah menyediakan dana segar untuk digunakan sebagai modal operasi. Sedangkan dana-dana untuk investasi, dalam jangka pendek belum diperlukan, karena dianggap sudah tersedia pabrik dan lahan. Di harapkan peran investor didalam sharing pengusahaan ini juga pada waktu yang akan datang dapat digantikan oleh petani sendiri dan atau bersama-sama pabrik.
Resiko yang akan diterima investor adalah resiko modal operasi, oleh karenanya atas kontribusi dana ini, investor juga berhak atas deviden yang setidaknya lebih besar dari opportunity dari modal saat itu. Kebutuhan modal operasi termasuk didalamnya adalah , dana talangan kepada petani sebagai sewa dan biaya- biaya produksi tebu dan operasi pabrik yang harus ditutup. Besarnya dividen yang diterima investor, juga harus diperhitungkan dengan kemungkinan jika pengusahaan itu rugi, karena investor akan menerima resiko yang besar.

 Pabrik Gula.

Peran Pabrik Gula adalah kontribusinya terhadap pengolahan dengan menyediakan mesin dan peralatan juga tenaga-tenaga manusia yang terlatih juga dana yang diperlukan untuk pengusahaan tebu petani. Atas kontribusinya ini PG akan menerima bagi hasil dalam bentuk deviden yang besarnya ditentukan dengan mempertimbangkan resiko yang akan diterima jika pengusahaan mengalami kerugian. Pertimbangan juga harus dilakukan terhadap kebutuhan akan re investasi atau rehabilitasi mesin dan peralatan PG, dimana untuk kedua hal ini dapat disisihkan dari keuntungan bersama yang diperoleh sebelum dibagikan sebagai deviden. Dengan demikian dalam jangka panjang manajemen akan benar-benar merupakan komponen profesional yang digaji, sedangkan pemilikan terpisah dari manajemen tersebut.

Dengan alternatif kemitraan tersebut adalah merupakan pemikiran awal yang untuk mewujudkannya diperlukan kajian yang terus menerus, bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menjadi sempurna. Kajian ini sudah dimulai dilakukan oleh Fakultas Pertanian IPB dengan mengambil dua obyek kajian pada th 2004, dengan sebatas pada tahapan pemetaan masyarakat dan pemetaan pabrik gula. Pengenalan model kemitraan dan langkah lebih jauh terhadap kemungkinan pembentukan pola kerjasama dengan pembentukan manajemen baru perusahaan gula masih belum dilakukan. Oleh karena itu dengan pemikiran ini, setidaknya diharapkan banyak pihak yang diharapkan ikut berperan dalam menyelesaikan permasalahan pergulaan secara nasional.


Kesimpulan:

1. Bahwa permasalahan pergulaan nasional adalah disamping masalah terus- menerus turunya produksi dan produktifitas serta harga gula yang semakin murah, sehingga insentip bagi pengusahaan tebu berkurang, juga masalah kelembagaan dan kebijakan kurang mendapat perhatian yang serius dari semua pelaku yang terlibat dalam pengusahaan gula.
2. Bahwa penanganan masalah kelembagaan dan kebijakan dalam rangkaian industri gula , juga merupakan faktor yang dapat mendorong , kelangsungan aktivitas industri gula tetap terjamin dimasa yang akan datang (sustainability), yaitu dengan mencari model alternatip pola kemitraan antara petani dan pabrik gula.
3. Diperlukan kajian yang terus menerus dan berjangka panjang untuk menjadikan model kemitraan yang benar-benar dapat menguntungkan semua pihak serta terbangunya integrasi sistim agribisnis pergulaan.


Daftar Pustaka

Agus Pakpahan, DR, Petani Menggugat, Max Havelaar & Gaperindo , Jakarta,2004.

__________________.Penataan Kelembagaan Pertanian Menuju Kemandirian Agribisnis, Makalah pada Seminar Nasional Dan Rapat Kerja Nasional Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Jember 23- 27 Mei 2004.

Arifin,Bustanul, DR, Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia, Kompas, Jakarta, 2004.

Bilas, Richard.A Teori Mikroekonomi, edisi kedua, Erlangga, Jakarta 1993.

E. Gumbira Said, dan A Harizt Intan, Manajemen Agribisnis, Ghalia Indonesia, & MMA IPB, 2001.

Imam Syafi’i.Ir.Msi, Bahan Kuliah Manajemen Agribisnis, Fakultas Pasca Sarjana PS Agribisnis,2004.

Purwono, DR, Kebijakan Industri Gula Pandangan Dari Sisi Agronomi,Makalah untuk Sugar Observer, tidak dipubli kasikan Bogor, 2004

Lampiran-lampiran dan Tabel Menyusul

Created by Soeseno, Drs
Read more.....

Minggu, 01 Februari 2009

OPTIMALISASI PENGGUNAAN LAHAN DENGAN DIVERSIFIKASI TANAMAN SEMANGKA DAN PADI ( PENDEKATAN LINEAR PROGRAMMING )

1. Pendahuluan.
Pada umumnya petani di Indonesia bercocok tanam secara konvensional sesuai dengan keadaan musim yang sedang terjadi. Pada musim hujan, kebanyakan tanaman padi yang ditanam, dan pada musim kemarau menanam polowijo atau tanaman lain yang tidak membutuhkan banyak air. Pola tanam yang secara konvensional berlaku adalah padi –padi – polowijo. Petani belum memiliki
keberanian untuk menanam tanaman yang tidak sesuai dengan musim, karena resiko yang akan dihadapi juga besar, misalnya gagal panen. Namun dalam beberapa tahun terakhir sudah ada petani yang memberanikan diri untuk menanam tanaman, yang bukan musim tanaman tersebut untuk ditanam. Seperti misalnya menanam cabai pada saat musim hujan, dengan petimbangan bahwa harga cabai pada musim hujan lebih tinggi.
Keuntungan yang akan diterima jika petani menanam tanaman yang berlawanan dengan musim , biasanya adalah harga produk yang lebih tinggi. Hal ini karena jumlah panenan untuk produk tersebut sedikit, sehingga yang ditawarkan juga sedikit, harga pasar menjadi lebih mahal, dibandingkan produk yang sama jika ditanam pada musimnya. Petani tetap akan mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi, jika bertanam melawan musim terhadap keuntungan yang akan diperoleh. Jika resiko yang diperkirakan terjadi lebih besar ketimbang keuntungan yang akan diperoleh, maka dia tidak mengambil keputusan untuk bertanam melawan musim.
Bertanam tanaman yang tidak sesuai dengan musim, membutuhkan banyak perlakuan agar tanaman tetap tumbuh sehat dan menghasilkan produksi yang tinggi. Perlakuan ini berarti tambahan biaya yang harus dikeluarkan, yang juga harus diperhitungkan terhadap tambahan keuntungan yang akan diperoleh. Berbeda dengan menanam tanaman yang memang tepat pada musim tanamnya, maka tidak diperlukan tambahan biaya, dengan kondisi tanaman akan tetap sehat dan berproduksi yang tinggi. Oleh karena itu banyak petani yang tidak ingin melakukan spekulasi dengan bertanam tanaman yang bukan/tidak sesuai dengan musimnya, dengan resiko kerugian yang besar. Namun demikian, terdapat juga petani yang memberanikan diri untuk bertanam tanaman yang bukan pada musimnya, dan mereka yang “ bernasib baik “ akan memperoleh keuntungan yang besar, dibandingkan jika bertanam tanaman yang sesuai dengan musimnya.
Pada dasarnya keuntungan yang diperoleh petani yang bertanam tanaman diluar musim adalah karena harga produknya yang relatif lebih tinggi, akibat kelangkaan produk dipasar. Kelangkaan ini juga akibat sedikitnya atau bahkan tidak ada petani yang bertanam produk tersebut,sehingga pasokan di pasar kurang dan harga akan menjadi mahal. Pengalaman seorang petani semangka di desa Sumberanget, Kecamatan Ledokombo, Kab. Jember, yang menanam pada musim hujan, menerima harga tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada musim-musim semangka ditanam . Dengan perlakuan yang memadai, hasil produknyapun tinggi ( ± 30 ton/Ha ), setingkat dengan produktifitas pada musim-musim tanam semangka ( kemarau ).
Bagi petani yang memiliki luas lahan sempit, sulit melakukan pilihan-pilihan dengan resiko yang tinggi. Kegagalan panen, akan berati, gagal untuk memperoleh pendapatan yang menjadi satu-satunya harapan dan akan terganggu kontinuitas proses pertaniannya pada musim berikutnya. Petani yang memiliki lahan yang cukup luas dapat melakukan pilihan-pilihan tanaman yang dapat meningkatkan pendapatan dengan menanam tanaman yang harga pasarnya tinggi, pada musim-musim tertentu. Mereka mempunyai kesempatan , untuk melakukan diversifikasi, bahkan dapat menyewa lahan milik petani lain dalam rangka diversifikasi lahan tersebut. Kebiasaan yang dilakukan petani berlahan luas adalah tetap menyisakan sebagian lahan untuk tanaman yang sesuai dengan musim tanam, untuk berjaga-jaga, dan sebagian lahan untuk tanaman yang memberikan keuntungan yang tinggi dengan adanya kelangkaan pasar .
Permasalahan yang dihadapi petani dengan melakukan diversifikasi tanaman pada luasan lahan yang cukup adalah kelangkaan modal dan keterbatasan waktu dalam satu musim tanam ( pada jenis tanaman tertentu ). Untuk menanam tanaman yang menguntungkan diluar musim dibutuhkan modal yang besar yang digunakan untuk menambah perlakuan-perlakuan tertentu terhadap tanaman. Sebagai gambaran, perbandingan per luasan satu hektar untuk tanaman semangka yang ditanam pada saat musim hujan dibutuhkan 150 % modal lebih besar jika ditanam pada saat musim kemarau atau jika dibandingkan dengan tanaman padi, modal yang dibutuhkan mencapai 400 % . Demikian pula dengan umur tanaman, yang berbeda untuk setiap jenis tanaman, akan berpengaruh terhadap kebutuhan biaya modal. Tanaman yang memiliki umur lebih panjang akan memiliki opportunity cost lebih tinggi ( dengan anggapan lahan dihargai dengan sewa ) terhadap tanaman yang berjangka waktu lebih pendek. Seperti contoh, tanaman cabe besar, membutuhkan waktu 7 bulan sejak awal tanam bibit sampai panen tahap akhir, berarti 3 bulan lebih panjang dibandingkan umur tanaman padi. Jika dianggap umur tanaman cabe dua kali umur padi, maka kebutuhan modal untuk sewa lahan ( opportunity cost ) adalah dua kali.
Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi petani tersebut , maka perlu dipikirkan , khususnya bagi petani yang luasan lahan cukup, untuk melakukan perhitungan yang dapat dijadikan dasar, setidak-tidaknya secara teoritis, dalam melakukan optimalisasi penggunaan lahannya, yaitu dengan melakukan variasi tanaman pada luasan lahan tertentu. Optimalisai ini dengan tujuan pada maksimalisasi pendapatan yang diperoleh petani atas berbagai variasi tanamannya.

1.2. Permasalahan.
Permasalahan yang dirumuskan untuk dapat menjawab beberapa permasalahan yang dihadapai petani adalah sebagai berikut :
Berapakah luas lahan ( konversi dari jumlah batang/rumpun yang ditanam ) yang harus dibagi oleh petani untuk ditanami dengan berbagai tanaman dalam satu musim tertentu, agar tercapai luasan lahan yang optimun untuk semua tanaman, yang diukur berdasarkan sumbangan pendapatan setiap komoditas pada pendapatan total petani.
Untuk dapat menjawab permasalahan tersebut dalam langkah-langkah pendekatan, maka digunakan beberapa asumsi :
1.Musim tanam yang dilihat adalah musim hujan pertama ( MH I ) , musim dimana petani terbiasa bertanam padi- padi-an, dengan jangka waktu ± 120 hari.
2.Luas lahan yang dimiliki petani lebih besar dari 1 ( satu ) hektar, dan tidak berada pada satu hamparan ( terpecah minimal dua hamparan ), yaitu luas lahan yang dianggap cukup untuk petani melakukan diversifikasi tanaman.
3.Jenis tanaman yang dilihat adalah yang memiliki umur relatif sama dengan dibatasi musim tanaman yang berlangsung. Hal ini untuk menghindari konversi tanaman yang akan sangat sulit dilakukan dengan keterbatasan musim tanam.
4.Jenis tanaman yang dipilih adalah : 2 jenis, dengan satu tanaman sesuai dengan musim dan tanaman lainnya adalah yang tidak biasa ditanam pada musim hujan seperti semangka, yang diperkirakan harga jual tinggi.
5.Modal kerja dalam bentuk dana segar yang dimiliki petani terbatas, yang tidak mungkin dalam jangka pendek melakukan suntikan dana segar.
6.Harga – harga input faktor dan produk relatif tidak berubah pada periode yang diamati ( selama satu musim ), dengan kombinasi faktor yang tidak mengalami perubahan.
1.3. Tujuan dan Kegunaan :
1.3.1. Tujuan :
1.Untuk mengetahui luasan lahan yang dibutuhkan tiap-tiap tanaman yang ditanam,sehingga luas lahan secara keseluruhan optimum. Pada kasus ini yang ingin diketahui adalah jumlah batang semangka dan rumpun padi yang ditanam, yang dikonversi menjadi kebutuhan lahan untuk masing-masing tanaman.
2.Untuk mengetahui jumlah pendapatan maksimum yang diperoleh petani jika bertanam dua tanaman dalam satu musim hujan, yaitu semangka dan padi
1.3.2. Kegunaan :
1.Sebagai sumbangan pemikiran kepada para petani yang berlahan cukup luas , jika membutuhkan dasar prtimbangan untuk memutuskan diversifikasi tanamannya.
2. Sebagai informasi awal bagi peneliti lain yang ingin mendalami permasalahan Manajemen Produksi khususnya optimalisasi lahan dan atau maksimasi keuntungan dalam sistim agribisnis.
3. Sebagai salah satu syarat, dalam menempuh mata kuliah Manajemen Agribisnis I , pada Proram Studi Pasca Sarjana Agribisnis.

2. Kerangka Teori.
2.1. Aspek Tehnik dan Tehnologi Proses Produksi Semangka dan Padi.
2.1.1.Semangka.
Budidaya tanaman semangka (non biji), memiliki beberapa tahapan kegiatan yaitu : Pra Persiapan Lahan ; Persiapan Lahan ; Pengadaan Bibit ; Penanaman dan Perawatan Tanaman ; dan Panen serta Pasca Panen.
Pra Persiapan Lahan.
Tanaman semangka membutuhkan tanah yang baik ( subur ) , jika ditanam pada lahan sawah, diperlukan pengeringan untuk beberapa saat ( hari), sampai keadaan tanah mudah untuk diolah. Areal yang ideal untuk tanaman semangka, jika pada radius tertentu di suatu daerah tidak pernah ditanami semangka ( jarang ).
Persiapan Lahan.
a. Tanah dibalik dengan cara dibajak dan kemudian diistirahatkan selama 6-10 hari.
b. Pembuatan bedeng/gulud, dengan jarak antar bedeng 3,5 – 5,5 meter, tinggi bedengan 20 cm.( pola untuk musim hujan ). Untuk bertanam dimusim hujan , pembuatan bedengan dengan jarak yang lebih sempit,dengan memberikan saluran drainase lebih banyak. Ruang antar bedeng berfungsi sebagai media rambatan.
c. Pemberian pupuk dasar dan pengapuran.Bedengan ditaburi dolomit yang mengandung calsium ( kapur ) dan magnesium untuk menetralkan tanah dari keasaman, selanjutnya diberi pupuk dasar Urea, ZA, KCL dan TSP dengan perbandingan 6,25% Urea, 50% ZA, 25% KCL dan 18,75 % TSP, dalam 1 Ha dibutuhkan jumlah pupuk 75-80 kg.
d. Pemberian mulsa plastik dengan warna perak dibagian atas dan warna gelap dibagian dalam, dan kebutuhan 200 kg/Ha. Mulsa dipasang pada sisi bedengan yang ditanami semangka, yang berfungsi untuk mengurangi penguapan, dan sisi bedengan lain diberi jerami kering untuk tempat merambat tanaman dan buah.
e. Lahan diistirahatkan untuk menunggu proses penguraian pupuk selama 10 – 14 hari .
Pengadaan Bibit.
a. Pemilihan bibit , dari berbagai jenis bibit triploid ( non biji ) hibrida impor yang banyak ditemui dipasaran, dengan kebutuhan 16 pak/Ha ( 1 pak = 250 pohon ).
b. Perendaman, yaitu merendam bibit pada larutan campuran hormon, fungisida, dan bakterisida, selama 30 menit.
c. Pengecambahan biji, yaitu biji yang telah direndam diletakan pada kertas basah dan ditutup dengan kertas basah selama 2x 24 jam .
d. Penyemaian, yaitu memindahkan benih yang telah berkecambah ke dalam kantong-kantong plastik/polybag yang diisi tanah dicampur pupuk kandang, setiap kantong satu benih. Semaian ini dirawat dengan melakukan penyemprotan pupuk daun dan setelah berdaun 2- 3 helai atau umur 14 hari dipindahkan ke areal penanaman.
Penanaman dan Perawatan
Bibit yang sudah berumur 14 hari atau berdaun 2 – 3 lembar dapat dipindahkan pada areal penanaman yang sebelumnya telah dipersiapkan lubang penanaman sepanjang bedengan dengan jarak 80 – 100 cm dengan kapasitas 4000 – 4600 pohon /Ha ( jika jarak antar bedeng 5,5 m dan jarak antar pohon 80 cm maka kapasitas per Ha 4600 pohon ). Bibit ditanam dengan memasukan pada lubang tanaman sedalam 10 cm dengan merobek polybag. Sedangkan perawatan tanaman dilakukan dengan kegiatan-kegiatan sbb :
a. Pemupukan susulan , baik melalui akar ataupun daun yang mengandung unsur-unsur NPK ( untuk musim hujan unsur N dikurangai samapi 50% diabndingkan jika ditanam musim kemarau ) Jika melalui akar pupuk dilarutkan dan disiramkan dan jika melalui daun disemprotkan, Kedua cara ini efektif utuk dilakukan.
b. Pencegahan hama dan penyakit dengan menyemprotkan larutan obat dan fungisida, terutama jika tanaman musim hujan, kebutuhan penyemprotan pencegah penyakit lebih tinggi.
c. Pemangkasan tanaman, yaitu mengurangi sulur, agar tidak terlalu banyak sulur yang tidak diperlukan. Sulur yang ditempati bakal buah yang bagus saja yang disisakan. Dalam satu pohon, paling banyak dipelihara maksimum 3 bakal buah.
d. Penyerbukan buatan , yaitu mengambil benangsari bunga jantan dioleskan pada bunga betina secukupnya. Umur tabaman pada saat ini ± 30 hari. Untuk penyerbukan buatan pada musim hujan diperlukan tambahan kegiatan,karena bunga yang sudah diserbuk ditutupi dengan kantong kertas ( polybag ) yang berguna untuk menahan air hujan yang dapt merontokan tepung sari.

Panen dan Pasca Panen.
Setelah tanaman semangka berumur 70 – 100 hari tanaman semangka sudah menghasilkan buah yang siap dipanen. Pemanenan dilakukan 2 kali dengan interval waktu 10 hari dari panen pertama.Hasil buah dalam satu Ha bervariasi 24– 45 ton. Jika buah tidak langsung dijual, maka perlu dilakukan perawatan dengan menempatkan pada jerami kering, agar tidak basah.
Seluruh proses budidaya semangka dari awal sampai akhir rata-rata memerlukan pembiayaan Rp. 15.000.000,-/Ha
2.1.2. Padi.
Bercocok tanam padi, merupakan kegiatan yang umum diketahui semua petani terdiri dari beberapa tahapan kegiatan yaitu : pra persiapan lahan , persiapan lahan, penanaman dan perawatan , serta panen dan pasca panen. Masing kegiatan adalah sebagai berikut :
Pra Persiapan Lahan.
Kegiatan awal dari menanam padi adalah , menyemaikan bibit ( Jawa = ngurit ) pada sebidang tanah yang dipersiapkan dengan menaburkan benih padi sesuai dengan kebutuhan. Dalam satu Ha dibutuhkan ± 15 kg. Umur bibit yang siap untuk ditanam 21-24 hari.
Persiapan Lahan.
Tanah yang dipilih untuk tanaman padai adalah tanah sawah yang cukup bagus sistim pengairannya, karena padi membutuhkan air sepanjang hidupnya.
a.Tanah diolah/ dibalik dengan menggunakan bajak/traktor yang berfungsi untuk membunuh gulma juga menghancurkan tanah, sedalam 20 cm ( setinggi top soil ). Tanah distirahatkan beberapa waktu sambil menunggu cukupnya umur bibit.
b. Menjelang bibit siap ditanam ( ± 5 hari ) tanah diratakan dengan alat perata ( Jawa = brujul ), untuk mendapatkan permukaan tanah yang rata sepanjang lahan yang akan ditanami, agar semua tanaman dapat diairi. Tanah diairi setinggi 5 cm dari permukaan tanah.
c. Pemberian pupuk dasar , diberikan pada saat selesainya tanah dibrujul . Pupuk yang diberikan adalah Urea, TSP dan KCL dengan perbandingan 40 : 45 : 15 dan jumlah yang diberikan 30 % dari seluruh jumlah pupuk yang ibutuhkan untuk menanam padi.
Penanaman dan Perawatan.
a. Bibit ditanam dengan jarak tanam 20 x 20 cm dan tiap titik tanam dimasukan 2 bibit untuk menjaga kemungkinan salah satu bibit mati. Jumlah rumpun tanaman dalam satu Ha 250.000 rumpun. Ketinggian air dipertahankan 5 cm.
b. Penyulaman,adalah mengganti rumpun padi yang rusak atau mati atau yang tumbuhnya kurang baik harus diganti dengan bibit yang baru, kira –kira 5 – 7 hari setelah tanam.
c. Pemupukan susulan, memberikan pupuk susulan pada umur 1 bulan setelah tanam dengan pupuk Urea 100 – 250 kg/Ha, TSP 50 – 200 kg/Ha, KCL 0 – 100 kg/Ha dan ZA 0 – 200 kg/Ha.
d. Penyiangan, adalah membersihkan tanaman lain yang mengganggu ( gulma ). Penyiangan dilakukan 3 x, pertama pada saat tanaman berumur 20 hari, kedua pada saat umur 40 hari dan keiga pada saat tanaman berumur 50 hari.
e. Pengendalian hama dan penyakit adalah dengan melakukan penyemprotan bakterisida dan atau fungisida, bergantung kepada serangan hama dan penyakit yang terjadi.
f. Pengairan adalah mengatur tata air agar tanaman tidak kekurangan atau kelebihan air. Sampai umur tanaman 15 hari air dipertahankan ketinggiannya 5 cm. Pada saat pemupukan air sedikit dikurangi. Setelah tanaman berumur 35 sampai 50 hari air dipertahankan pada ketuinggian 5-7 cm. Pada saat padi berbungan serempak sampai bulir padi berisi penuh, air dipertahankan dengan ketinggian 10 cm, dan 15 hari sebelum panen sawah dikeringkan.
Panen dan Pasca Panen.
Panen dilakukan setelah lebih dari 90 % malai berwarna kuning , dimana untuk padi varietas umur pendek ± 115 hari, dan untuk varietas umur panjang antara 135 – 145 hari. Alat yang digunakan dalam pemanenan adalah sabit dengan memotong bagian batang padi setinggi20 – 30 cm dari tanah. Hasil panen padi rata ± 6 ton/Ha. Jika hasil panen tidak langsung dijual maka untuk penyimpanan diperlukan pengeringan dengan menjemur padi anta 5 – 7 hari dengan panas matahari penuh. Selanjutnya padi dismpan dalam karung-karung yang ditempatkan di tempat kering ( tidak lembab ). Penyimpanan ini juga tidak boleh terlalu lama, karena akan sulit mempertahankan mutu padi.
Seluruh proses budidaya padi dari awal sampai akhir rata-rata memerlukan pembiayaan Rp. 3.000.000,-/Ha

2.2. Optimalisasi Lahan dengan Pendekatan Linear Programming.
Pemograman linear adalah salah satu tehnik yang digunakan dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas diantara berbagai kegiatan yang saling bersaing sedemikian hingga satu kreteria tertentu terjadi optimasi. . Untuk mengembangkan model pemrograman linear digunakan proses sebagai berikut :
1. Menetapkan variabel-variabel keputusan, adalah variabel yang akan ditentukan besaranya/jumlahnya berdasarkan pada keterbatasan- keterbatsan tertentu. Misalnya barang yang diproduksi X dan Y, maka variabel keputusannya adalah :
X jumlah unit produk X yang akan diproduksi
y jumlah unit produk Y yang akan diproduksi
2. Menetapkan fungsi sasaran, yaitu persamaan linear yang mencakup variabel-variabel keputusan yang mengidentifikasi sasaran dalam upaya memecahkan persoalan. Fungsi sasaran dapat minimum atau maksimum. Dalam hal keputusan bisnis, maka bisa pendapatan yang maksimum atau biaya yang minimum.
Misal Z = Cx X + CyY, dimana C = kontribusi masing-masing variabel keputusan terhadap sasaran total ( maksimum atau minimum ).
3. Menetapkan kendala- kendala, adalah rumusan linear yang mengandung variabel – variabel keputusan yang menjelaskan batasan- batasan atas keputusan yang dapat diambil.

Misal : a11x1 + a12 x2 ≤ b1
a21x1 + a22x2 ≤ b2

b1 = batsan kapasitas dari bahan 1 yang dapat digunakan proses x1 dan x2
b2 = batsan kapasitas dari bahan 2 yang dapat digunakan proses x1 dan x2
Model matematika secara umum untuk persoalan pemrograman linear adalah spt :
Maksimalkan Z = c1x1 + c2x2 + ........ + cnxn
Dengan batasan a11 x1 + a12 x2 +......+a1n xn ≤ b1
a21 x1 + a22 x2 +......+a2n xn ≤ b2
am1 x1 + am2 x2 +......+amn xn ≤ bm
dan x1 ≥ 0 , x2 ≥ ........,xn ≥ 0
dimana :
amn = koefisien dari kegiatan/faktor ke m untuk produk ke n
xn = produk ke n
bm = batasan kapasitas kegiatan/ faktor ke m
Formulasi diatas dengan asumsi :
1. Kepastian : Semua parameter model (nilai-nilai cj,bi dan aij ) konstan.
2. Proporsionalitas : fungsi sasaran maupun pemakaian sumber daya proposional dengan tingkat kegiatan k yang dilakukan. Jadi kontribusi suatu produk tetap proposional , walaupun tingkat produksi lebih tinggi.
3. Aditivitas : setiap tingkat kegiatan tertentu ( x1, x2,.....,xn ), nilai total fungsi sasaran Z dan pemakaian total dari setiap sumberdaya sama dengan jumlah kontribusi atau penggunaan sumber daya oleh setiap kegiatan yang dilakukan.
4. Divisibilitas : Suatu kegiatan dalam pemrograman linear dapat mengambil sebarang nilai fraksional, seperti x1 = 1,375.
Dengan menggunakan solusi grafis untuk variabel 2x2 atau Metode Simplex, maka nilai – nilai variabel ( X dan Y ) yang dicari dapat ditentukan dan jika nilai-nilai tersebut dimasukan dalam persamaan tujuan/sasaran Z, maka nilai maksimum dari dari Z dapat ditemukan.

3. Pembahasan
Pada kasus optimasi terhadap komoditi padi dan semangka yang akan ditanam pada saat musim hujan, maka pemrograman linear dapat diterapkan dengan langkah-langkah sesuai teori sebagai berikut :
1. Menetukan variabel keputusan, adalah jumlah luas lahan yang akan ditanami komoditi padi ( X ) dan semangka ( Y ), sehingga penggunan lahan optimum. Untuk menemukan jumlah luas lahan, lebih dahulu jumlah rumpun padi ( x ) dan jumlah batang semangka ( y ) yang harus ditanam ditentukan, Jumlah rumpun padi yang ditanam dikonversi menjadi jumlah lahan demikian pula untuk jumlah batang semangka yang ditanam dikonversi menjadi luas lahan untuk semangka.
2.Menetapkan fungsi sasaran, yaitu jumlah pendapatan yang akan diterima karena menanam padi dan semangka , fungsi tersebut yaitu : Z = c1x + c2y, dimana c1 = kontribusi rupiah per rumpun padi terhadap pendapatan total.
c2 = kontribusi rupiah per batang semangka terhadap pendapatan total.
Fungsi Z merupaan fungsi tujuan yang dimaksimumkan.
3.Menetapkan kendala – kendala, yaitu faktor masukan yang menjadi batasan. Faktor masukan tersebut adalah Lahan, Modal dan Waktu, dengan penjelasan sebagai berikut :
Lahan ( LAH ) = menjadi faktor masukan pembatas, dianggap lahan yang dimiliki petani tertentu ( tidak ada sewa ).
Modal ( MOD ) = Menjadi faktor masukan pembatas, karena dianggap modal petani terbatas , jika dia mau mengusahakan tanaman yang ,pembiayaannya mahal, tetapi berlebih jika jika dia membiayai tanaman yang lebih murah jadi ada idle fund ( dana menganggur ). Oleh karena itu dalam melakukan optimasi modal adalah pembatas.
Waktu ( WKT ) = menjadi pembatas karena , satu musim tanam ( musim hujan ) waktunya terbatas ± 120 hari,
sehingga persamaan batasan adalah sebagai berikut :
a11 x + a12 y ≤ LAH
a21 x + a22 y ≤ MOD
a31 x + a32 y ≤ WKT

Tabel pemrograman linear untuk optimasi lahan padi dan semangka adalah sebagai berikut:
Pada kasus tanaman padi dan semangka, maka pengisian koefisien – koefisien tersebut adalah sebagai berikut :
a11 = koefisien lahan yang diperlukan per rumpun padi. Dengan anggapan per Ha mampu ditanami 250.000 rumpun, maka per rumpun padi memerlukan lahan
= 1 Ha/ 250.000 = 10.000/250.000 = 0,04 m2
a12 = koefidien lahan yang diperlukan per batang semangka. Dengan anggapan per Ha luas lahan mampu ditanami 4.600 batang, maka per batang memerlukan lahan = 10.000/4.600 = 2,174 m2
a12 = koefisien modal yang diperlukan per rumpun padi. Dengan anggapan bahwa biaya yang diperlukan per Ha adalah Rp. 3.000.000, maka biaya per rumpun adalah = 3.000.000/250.000 = 12.
a22 = koefisien modal yang diperlukan per batang semangka. Dengan anggapan biaya yang diperlukan per Ha Rp. 15.000.000,- , maka biaya per batang semangka adalah = 15.000.000/4.600 = 3260,86
a31 = koefisien waktu yang diperlukan per rumpun padi. Dengan anggapan waktu yang diperlukan 840 jam per Ha, maka per rumpun adalah = 840/250.000 = 0.20
a32 = koefisien waktu yang diperlukan per batang semangka. Dengan anggapan waktu yang diperlukan 840 jam , maka per batang memerlukan waktu = 840/4.600 = 10,9
Untuk pengisian kapasitas penggunaan input faktor, dan kontribusi tiap-tiap komoditi yang ditanam digunakan angka-angka hipotetis :
1. Lahan yang dimiliki petani = 1,25 Ha
2. Modal yang dimiliki petani Rp. 7.500.000,-
3. Waktu yang dimiliki petani = 840 HOK
4. Hasil padi 6 ton harga per kg = Rp. 1.000 = Rp. 6.000.000,-/ha, maka per rumpun = 6.000.000/250.000 = 24
5. Hasil semangka 30 ton, dengan harga Rp. 2.000,-/kg = Rp. 60 juta, maka perbatang = 60.000.000/4.600 = 13.043.

Dengan asumsi- asumsi tersebut diatas maka pengisian tabel program linear untuk optimalisasi lahan padi dan semangka adalah sebagai berikut :
Tabel pemrograman linear untuk kasus tanaman padi dan semangka :
Catatan : seluruh angka di dalam tabel berdasar pada angka sebarang
Dengan melihat tabel diatas, maka persamaan dalam program linear dapat disusun sebagai berikut :
Maksimalkan Z = 24x + 13.043y

Dengan batasan 0,04 x + 2,174 y ≤ 12.500
12 x + 3260,86 y ≤ 7.500.00
0,2 x + 10,9 y ≤ 840
dan x ≥ 0 , y ≥ 0

Dengan menggunakan metode garis atau metode Simplek, maka pemecahan optimum untuk x dan y dapat ditentukan, yaitu :
x = dalam rumpun dikonversi menjadi luas lahan ( dikalikan 0,04)
y = dalam batang dikonversi menjadi luas lahan ( dikalikan 2,174 )

4. Kesimpulan.
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan diatas , maka dapt disimpulkan :
1. Luas lahan yang akan ditanami padi dan semangka dapat ditentukan menggunakan tehnik linear programing, dengan lebih dahulu menentukan koefisien-koefisien persamaan pembatasnya ataupun persamaan fungsi sasaran.
2. Koefisien persamaan dalam program linear untuk kasus tanaman padi dan semangka, merupakan bilangan tetapan. Oleh karena itu menetapkan bilangan ini harus diperoleh dalam pengamatan pada banyak pengalaman petani ( n ≥ 10 petani ). Rata-rata nilai pengamatan dapat dijadikan tetapan ( koefisien ) dalam persamaan.
3. Nilai maksimum dari fungsi sasaran, bergantung pula pada koefisien persamaan sasaran yang merupakan koefisien dengan nilai yang dapat bervariasi diantara petani .Oleh karena itu penentuan nilai ini harus diperoleh dari pengalaman banyak petani.
4. Efektifitas linear programing , sebagai alat untuk menentukan optimalisasi pada kegiatan agribisnis, sangat bergantung pada asumsi-asumsi rasional yang dibangun, mengingat komoditi pertanian memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk industri.


Read more.....